Waktu terus berjalan, dunia terus
berputar, dan musim silih berganti tanpa henti. Di tengah perjalanan panjang
itu, nurani perlahan memudar. Ia terlepas ke udara bukan untuk diterbangkan
kepada langit sebagai doa-doa yang lahir dari harapan, melainkan sebagai
sesuatu yang tak lagi dianggap berguna, layak dibuang begitu saja.
Manusia kini berdoa
bukan untuk mendekat pada cahaya, tetapi untuk menegosiasikan nasib. Doa dijual
sebagai janji, ditukar dengan suara, dengan angka, dengan kekuasaan. Setiap
sujud menjadi transaksi; setiap “amin” berubah menjadi kontrak yang tak lagi menyentuh
hati, hanya menyentuh kepentingan. Langit mendengar ribuan suara, tapi hanya
sedikit yang benar-benar datang dari jiwa.
Mereka mencari Tuhan
di tempat yang berkilau, di gedung-gedung megah, di antara lampu dan kamera, di
balik tirai simbol-simbol yang dibersihkan setiap hari tapi tak pernah
benar-benar suci. Padahal Tuhan selalu tinggal di hati yang sederhana, di
tangan yang memberi tanpa nama, di napas yang mengucap terima kasih meski dunia
tak adil. Kini hati itu kosong. Sunyi. Tuhan dipanggil dengan suara keras, tapi
tak satu pun yang benar-benar menunggu jawaban-Nya.
Doa telah berubah
menjadi mata uang baru. Ia bisa dibeli, dijual, dipamerkan di panggung,
diselipkan di pidato. Bentuknya yang lembut, aroma kemanusiaannya yang dulu
naik perlahan seperti asap dupa ke langit yang tenang, kini hilang. Doa
bergegas, berteriak, berlomba, saling menyingkirkan satu sama lain demi
mendapat perhatian lebih cepat, lebih banyak, lebih viral.
Di tengah hiruk-pikuk
itu, manusia lupa makna paling sunyi dari doa: diam. Keheningan di mana hati
bertemu dengan yang Ilahi tanpa saksi, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan. Bahkan
kesunyian pun kini dijual, seperti semua hal yang dulu suci menjadi komoditas.
Waktu terus berlari,
tapi arah batin manusia semakin kabur. Mereka berjalan dengan tubuh tegak,
namun hati tertunduk, seolah mencari sesuatu yang hilang tanpa tahu apa yang
mereka cari. Menatap langit, tapi tak melihat Tuhan. Menatap cermin, tapi tak
melihat diri sendiri.
Lalu perlahan,
keimanan mulai digadaikan. Ia dinaikkan ke atas panggung, dilontarkan dalam
bentuk kata-kata, jubah panjang yang ekornya menyentuh mimbar-mimbar, tapi
kebenaran, kesucian, dan keimanannya tak pernah menyentuh urat nadi manusia
sendiri. Ia menjadi pertunjukan, ritual megah di permukaan, namun sunyi dari
hati yang dulu memanggil-Nya dengan tulus, karena pada masa ini tak ada lagi
ketulusan dalam cinta yang pernah begitu kuat mencengkram langit, mengetuk
pintu-pintu di mana doa dulu terwujud melalui cinta.
Mereka menjadikannya
alat untuk menghakimi satu sama lain, memutuskan dosa dan pahala bagi mereka
yang tak sepaham, menobatkannya sebagai kebenaran mutlak, selamanya dibungkus
janji surga bagi yang tunduk dan ancaman neraka bagi yang melawan. Sedikit pun
mereka tidak berpikir tentang esensi kebenaran itu sendiri; tentang keadilan,
kasih, dan kemanusiaan yang seharusnya menjadi bagian dari iman.
Doa tak lagi mengalir
dari hati yang hening; ia menjadi teriakan di panggung yang dipenuhi sorak dan
tepuk tangan. Keheningan yang dulu menjadi jembatan antara manusia dan yang
Ilahi kini digantikan gema instruksi dan perintah, simbol yang tampak suci tapi
kosong makna.
Dan manusia? Mereka
tersesat. Mencari Tuhan bukan di dalam hati sendiri, tetapi di balik jubah
panjang, di antara kata-kata yang megah tapi kosong, di mimbar yang tinggi dan
jauh. Mereka menelan aturan, menelan dogma, menelan ketakutan, berharap
keselamatan datang dari panggung yang sama sekali tidak pernah memeluk mereka.
Di tengah gemerlap
pertunjukan itu, nurani mulai memudar perlahan, seolah tertelan bayangan besar
yang mereka kira cahaya. Mereka lupa bahwa iman sejati tidak butuh panggung,
tidak butuh sorak, tidak butuh pengakuan orang lain. Iman itu sederhana, lahir
dari hati yang jujur, dari tangan yang memberi tanpa pamrih, dari air mata yang
menetes tanpa ingin diperhitungkan.
Namun panggung tetap
berdiri, jubah tetap berkibar, dan manusia berjalan di bawahnya dengan mata
yang kosong, mencari Tuhan di tempat yang salah, mengira gema panggung adalah
suara-Nya. Dan di sana, di antara kata-kata berserakan dan tepuk tangan yang
menggema, hanya hati yang tersisa menunggu; menunggu manusia mengingat bahwa
iman bukan tontonan, tapi perjalanan yang hanya bisa dirasakan dalam sunyi.
Kemudian, di tengah
semua itu, hati kecil yang disembunyikan di balik layar tetap ada. Meski tak
diberi ruang untuk bersuara, bahkan perlahan dicoba untuk dibungkam, bahkan
dibunuh, dengan alasan bahwa hidup membutuhkan logika, bukan perasaan.
Lucunya, semua manusia
seakan membenarkannya, lupa bahwa mereka dulu tercipta bukan dari logika,
melainkan dari cinta. Logika hanyalah alat untuk membuat mereka mampu bertahan
hidup dengan tubuh yang membutuhkan asupan fisik agar tetap berdiri.
Namun tubuh bukanlah
satu-satunya yang perlu dijaga. Ada nyawa, ada jiwa, ada hati bagian dari
manusia yang tidak membutuhkan makanan fisik untuk tetap hidup. Mereka tetap
bertahan karena cinta, karena kehendak-Nya, karena dorongan tak terlihat yang
menjaga keberadaan dalam kehidupan yang selalu bergerak, selalu berubah, dan
mungkin suatu saat akan berakhir.
Hati kecil itu, meski
tersembunyi, tetap berdegup. Ia menyimpan peringatan lembut: bahwa manusia
tidak boleh sepenuhnya menyerahkan dirinya pada logika semata, karena logika
tanpa cinta hanyalah tubuh yang berdiri tanpa jiwa, jiwa yang berjalan tanpa
arah, hati yang diam tanpa arti.
Ia menunggu di antara
bayang-bayang, menunggu manusia kembali mengingat bahwa hidup bukan hanya
tentang bertahan, tetapi tentang merasakan; merasakan keadilan, kemanusiaan,
kasih, dan Tuhan yang selalu ada di ruang paling sunyi, di dalam hati yang
masih berani mendengarkan.
Sayangnya, hati itu
tak juga terbuka dan mau mendengarkan. Sebaliknya, hati dibungkam oleh manusia
yang masih takut berbuat baik. Mereka takut kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan
popularitas, karena kebaikan telah dianggap kuno, sebuah kata yang terlalu
lembut untuk dunia yang menuntut kerasnya ambisi. Kebaikan yang ada hanya
tampil di layar-layar sebagai panggung, sebagai cerita fiksi yang dipuji,
dikomentari, dan diulang-ulang, tapi tak pernah dianggap sebagai nilai yang
perlu dijalankan sebagai manusia.
Mereka menahan tangan
untuk memberi, menahan suara untuk menegur, menahan hati untuk merasakan.
Senyum yang tulus ditukar dengan sandiwara, kata-kata yang hangat diganti
dengan perhitungan, dan kasih yang sederhana ditutupi tirai strategi. Setiap
langkah kebaikan menjadi taruhan; takut dianggap lemah, takut tersisih, takut
dicemooh. Akhirnya, yang tersisa hanyalah bayangan dari apa yang seharusnya
manusia; tubuh yang berdiri, mata yang menatap, tapi hati yang menunduk.
Dan di balik semua
itu, hati kecil tetap menunggu. Ia menunggu keberanian untuk menembus
ketakutan, menunggu manusia berani melakukan hal yang benar, meski dunia
menertawakan, meski kekuasaan mengintimidasi, meski popularitas menjauh.
Ia menunggu manusia
menyadari bahwa berbuat baik bukan soal hadiah, bukan soal pengakuan, tapi
tentang menjaga jiwa tetap hidup, menjaga nurani tetap bernyala di tengah
gelapnya dunia.
Di tengah hiruk-pikuk
ambisi, hati kecil itu tetap berdegup. Ia mengingatkan bahwa kebaikan yang
diam, yang sederhana, yang tak ditayangkan justru itulah yang paling kuat. Ia
adalah suara Tuhan yang lembut, hadir di setiap langkah manusia yang berani
menundukkan ego, di setiap tangan yang memberi tanpa menunggu balasan, di
setiap doa yang tak pernah dipentaskan.
Namun, dunia terlalu
bising, dan manusia terlalu sibuk menutupi hatinya dengan logika, ambisi, dan
ketakutan. Akhirnya, banyak yang berjalan tanpa mendengar, tanpa merasakan, dan
tanpa berani menapak di jalan yang sunyi tapi benar.
Hingga hari itu, untuk
pertama kalinya akhirnya keadilan mulai disuarakan, meski terdengar sangat
jauh. Keadilan, kebenaran mulai bersuara; mereka menangis di depan gedung
parlemen, berlutut di hadapan muka penguasa yang justru tertawa, menyingkir,
menghindar, hingga memaksa yang lembut menjadi brutal, yang baik menjadi jahat,
yang ingin bicara menjadi berteriak. Dan amarah yang lahir dari kelelahan
karena terus diinjak-injak kekuasaan, disebut sebagai pemberontakan, kerusuhan,
dan pelakunya layak diadili bahkan tanpa hukum, tanpa keadilan, hanya
berdasarkan kehendak penguasa.
Di antara tangis itu,
manusia mulai melihat betapa kerapuhannya hati yang menuntut kebenaran bisa
disalahartikan, bagaimana kesabaran yang panjang bisa dibelokkan menjadi
ancaman. Mereka berteriak bukan karena haus kekerasan, tetapi karena haus
keadilan yang tak kunjung datang. Dan di saat itu pula, wajah manusia terlihat
samar antara kelelahan dan harapan, antara takut dan keberanian, antara patah
dan menolak tunduk.
Gedung parlemen
berdiri tinggi, dingin, seolah menertawakan setiap air mata yang menetes di
tangga, setiap bisik keadilan yang hilang di antara kolom-kolom batu. Namun,
meski suara mereka diterkam oleh dinding-dinding kekuasaan, hati kecil tetap
berdengung; ingat bahwa kebenaran tidak bisa dibungkam selamanya, bahwa
keadilan yang tulus lahir dari kesabaran yang panjang, dari kesunyian yang tak
menyerah, dari keberanian yang tidak menuntut pujian.
Manusia menyadari
bahwa mencari kebenaran di antara gedung-gedung megah yang dibangun atas ambisi
dan kepentingan kadang membuat hati tersesat. Mereka belajar, perlahan, bahwa
kekuasaan dapat menutup mata penguasa, dapat memutarbalikkan hukum, tetapi
tidak dapat menutup mata nurani yang sadar. Dan di balik keramaian, di balik
teriakan, ada hati-hati kecil yang masih mampu menangis, masih mampu bersuara,
masih mampu menyalakan percikan kebenaran yang tidak akan padam.
Keadilan dan kebenaran
menangis, tapi tangis itu bukan hanya ratapan; ia adalah doa, adalah
perlawanan, adalah cahaya kecil yang bersinar di tengah gelap gedung dan hati
manusia yang mulai hilang arah. Dan bagi mereka yang masih mampu mendengar,
tangis itu menjadi pengingat bahwa meski dunia penuh kekuasaan dan tipu daya,
keadilan tetap hidup di hati yang tidak mau menyerah.
%20Bagian%204.jpg)