Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Nurani Yang Dibuang Ke Udara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurani Yang Dibuang Ke Udara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2026

Nurani Yang Dibuang Ke Udara

 



Waktu terus berjalan, dunia terus berputar, dan musim silih berganti tanpa henti. Di tengah perjalanan panjang itu, nurani perlahan memudar. Ia terlepas ke udara bukan untuk diterbangkan kepada langit sebagai doa-doa yang lahir dari harapan, melainkan sebagai sesuatu yang tak lagi dianggap berguna, layak dibuang begitu saja.

Manusia kini berdoa bukan untuk mendekat pada cahaya, tetapi untuk menegosiasikan nasib. Doa dijual sebagai janji, ditukar dengan suara, dengan angka, dengan kekuasaan. Setiap sujud menjadi transaksi; setiap “amin” berubah menjadi kontrak yang tak lagi menyentuh hati, hanya menyentuh kepentingan. Langit mendengar ribuan suara, tapi hanya sedikit yang benar-benar datang dari jiwa.

Mereka mencari Tuhan di tempat yang berkilau, di gedung-gedung megah, di antara lampu dan kamera, di balik tirai simbol-simbol yang dibersihkan setiap hari tapi tak pernah benar-benar suci. Padahal Tuhan selalu tinggal di hati yang sederhana, di tangan yang memberi tanpa nama, di napas yang mengucap terima kasih meski dunia tak adil. Kini hati itu kosong. Sunyi. Tuhan dipanggil dengan suara keras, tapi tak satu pun yang benar-benar menunggu jawaban-Nya.

Doa telah berubah menjadi mata uang baru. Ia bisa dibeli, dijual, dipamerkan di panggung, diselipkan di pidato. Bentuknya yang lembut, aroma kemanusiaannya yang dulu naik perlahan seperti asap dupa ke langit yang tenang, kini hilang. Doa bergegas, berteriak, berlomba, saling menyingkirkan satu sama lain demi mendapat perhatian lebih cepat, lebih banyak, lebih viral.

Di tengah hiruk-pikuk itu, manusia lupa makna paling sunyi dari doa: diam. Keheningan di mana hati bertemu dengan yang Ilahi tanpa saksi, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan. Bahkan kesunyian pun kini dijual, seperti semua hal yang dulu suci menjadi komoditas.

Waktu terus berlari, tapi arah batin manusia semakin kabur. Mereka berjalan dengan tubuh tegak, namun hati tertunduk, seolah mencari sesuatu yang hilang tanpa tahu apa yang mereka cari. Menatap langit, tapi tak melihat Tuhan. Menatap cermin, tapi tak melihat diri sendiri.

Lalu perlahan, keimanan mulai digadaikan. Ia dinaikkan ke atas panggung, dilontarkan dalam bentuk kata-kata, jubah panjang yang ekornya menyentuh mimbar-mimbar, tapi kebenaran, kesucian, dan keimanannya tak pernah menyentuh urat nadi manusia sendiri. Ia menjadi pertunjukan, ritual megah di permukaan, namun sunyi dari hati yang dulu memanggil-Nya dengan tulus, karena pada masa ini tak ada lagi ketulusan dalam cinta yang pernah begitu kuat mencengkram langit, mengetuk pintu-pintu di mana doa dulu terwujud melalui cinta.

Mereka menjadikannya alat untuk menghakimi satu sama lain, memutuskan dosa dan pahala bagi mereka yang tak sepaham, menobatkannya sebagai kebenaran mutlak, selamanya dibungkus janji surga bagi yang tunduk dan ancaman neraka bagi yang melawan. Sedikit pun mereka tidak berpikir tentang esensi kebenaran itu sendiri; tentang keadilan, kasih, dan kemanusiaan yang seharusnya menjadi bagian dari iman.

Doa tak lagi mengalir dari hati yang hening; ia menjadi teriakan di panggung yang dipenuhi sorak dan tepuk tangan. Keheningan yang dulu menjadi jembatan antara manusia dan yang Ilahi kini digantikan gema instruksi dan perintah, simbol yang tampak suci tapi kosong makna.

Dan manusia? Mereka tersesat. Mencari Tuhan bukan di dalam hati sendiri, tetapi di balik jubah panjang, di antara kata-kata yang megah tapi kosong, di mimbar yang tinggi dan jauh. Mereka menelan aturan, menelan dogma, menelan ketakutan, berharap keselamatan datang dari panggung yang sama sekali tidak pernah memeluk mereka.

Di tengah gemerlap pertunjukan itu, nurani mulai memudar perlahan, seolah tertelan bayangan besar yang mereka kira cahaya. Mereka lupa bahwa iman sejati tidak butuh panggung, tidak butuh sorak, tidak butuh pengakuan orang lain. Iman itu sederhana, lahir dari hati yang jujur, dari tangan yang memberi tanpa pamrih, dari air mata yang menetes tanpa ingin diperhitungkan.

Namun panggung tetap berdiri, jubah tetap berkibar, dan manusia berjalan di bawahnya dengan mata yang kosong, mencari Tuhan di tempat yang salah, mengira gema panggung adalah suara-Nya. Dan di sana, di antara kata-kata berserakan dan tepuk tangan yang menggema, hanya hati yang tersisa menunggu; menunggu manusia mengingat bahwa iman bukan tontonan, tapi perjalanan yang hanya bisa dirasakan dalam sunyi.

Kemudian, di tengah semua itu, hati kecil yang disembunyikan di balik layar tetap ada. Meski tak diberi ruang untuk bersuara, bahkan perlahan dicoba untuk dibungkam, bahkan dibunuh, dengan alasan bahwa hidup membutuhkan logika, bukan perasaan.

Lucunya, semua manusia seakan membenarkannya, lupa bahwa mereka dulu tercipta bukan dari logika, melainkan dari cinta. Logika hanyalah alat untuk membuat mereka mampu bertahan hidup dengan tubuh yang membutuhkan asupan fisik agar tetap berdiri.

Namun tubuh bukanlah satu-satunya yang perlu dijaga. Ada nyawa, ada jiwa, ada hati bagian dari manusia yang tidak membutuhkan makanan fisik untuk tetap hidup. Mereka tetap bertahan karena cinta, karena kehendak-Nya, karena dorongan tak terlihat yang menjaga keberadaan dalam kehidupan yang selalu bergerak, selalu berubah, dan mungkin suatu saat akan berakhir.

Hati kecil itu, meski tersembunyi, tetap berdegup. Ia menyimpan peringatan lembut: bahwa manusia tidak boleh sepenuhnya menyerahkan dirinya pada logika semata, karena logika tanpa cinta hanyalah tubuh yang berdiri tanpa jiwa, jiwa yang berjalan tanpa arah, hati yang diam tanpa arti.

Ia menunggu di antara bayang-bayang, menunggu manusia kembali mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang merasakan; merasakan keadilan, kemanusiaan, kasih, dan Tuhan yang selalu ada di ruang paling sunyi, di dalam hati yang masih berani mendengarkan.

Sayangnya, hati itu tak juga terbuka dan mau mendengarkan. Sebaliknya, hati dibungkam oleh manusia yang masih takut berbuat baik. Mereka takut kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan popularitas, karena kebaikan telah dianggap kuno, sebuah kata yang terlalu lembut untuk dunia yang menuntut kerasnya ambisi. Kebaikan yang ada hanya tampil di layar-layar sebagai panggung, sebagai cerita fiksi yang dipuji, dikomentari, dan diulang-ulang, tapi tak pernah dianggap sebagai nilai yang perlu dijalankan sebagai manusia.

Mereka menahan tangan untuk memberi, menahan suara untuk menegur, menahan hati untuk merasakan. Senyum yang tulus ditukar dengan sandiwara, kata-kata yang hangat diganti dengan perhitungan, dan kasih yang sederhana ditutupi tirai strategi. Setiap langkah kebaikan menjadi taruhan; takut dianggap lemah, takut tersisih, takut dicemooh. Akhirnya, yang tersisa hanyalah bayangan dari apa yang seharusnya manusia; tubuh yang berdiri, mata yang menatap, tapi hati yang menunduk.

Dan di balik semua itu, hati kecil tetap menunggu. Ia menunggu keberanian untuk menembus ketakutan, menunggu manusia berani melakukan hal yang benar, meski dunia menertawakan, meski kekuasaan mengintimidasi, meski popularitas menjauh.

Ia menunggu manusia menyadari bahwa berbuat baik bukan soal hadiah, bukan soal pengakuan, tapi tentang menjaga jiwa tetap hidup, menjaga nurani tetap bernyala di tengah gelapnya dunia.

Di tengah hiruk-pikuk ambisi, hati kecil itu tetap berdegup. Ia mengingatkan bahwa kebaikan yang diam, yang sederhana, yang tak ditayangkan justru itulah yang paling kuat. Ia adalah suara Tuhan yang lembut, hadir di setiap langkah manusia yang berani menundukkan ego, di setiap tangan yang memberi tanpa menunggu balasan, di setiap doa yang tak pernah dipentaskan.

Namun, dunia terlalu bising, dan manusia terlalu sibuk menutupi hatinya dengan logika, ambisi, dan ketakutan. Akhirnya, banyak yang berjalan tanpa mendengar, tanpa merasakan, dan tanpa berani menapak di jalan yang sunyi tapi benar.

Hingga hari itu, untuk pertama kalinya akhirnya keadilan mulai disuarakan, meski terdengar sangat jauh. Keadilan, kebenaran mulai bersuara; mereka menangis di depan gedung parlemen, berlutut di hadapan muka penguasa yang justru tertawa, menyingkir, menghindar, hingga memaksa yang lembut menjadi brutal, yang baik menjadi jahat, yang ingin bicara menjadi berteriak. Dan amarah yang lahir dari kelelahan karena terus diinjak-injak kekuasaan, disebut sebagai pemberontakan, kerusuhan, dan pelakunya layak diadili bahkan tanpa hukum, tanpa keadilan, hanya berdasarkan kehendak penguasa.

Di antara tangis itu, manusia mulai melihat betapa kerapuhannya hati yang menuntut kebenaran bisa disalahartikan, bagaimana kesabaran yang panjang bisa dibelokkan menjadi ancaman. Mereka berteriak bukan karena haus kekerasan, tetapi karena haus keadilan yang tak kunjung datang. Dan di saat itu pula, wajah manusia terlihat samar antara kelelahan dan harapan, antara takut dan keberanian, antara patah dan menolak tunduk.

Gedung parlemen berdiri tinggi, dingin, seolah menertawakan setiap air mata yang menetes di tangga, setiap bisik keadilan yang hilang di antara kolom-kolom batu. Namun, meski suara mereka diterkam oleh dinding-dinding kekuasaan, hati kecil tetap berdengung; ingat bahwa kebenaran tidak bisa dibungkam selamanya, bahwa keadilan yang tulus lahir dari kesabaran yang panjang, dari kesunyian yang tak menyerah, dari keberanian yang tidak menuntut pujian.

Manusia menyadari bahwa mencari kebenaran di antara gedung-gedung megah yang dibangun atas ambisi dan kepentingan kadang membuat hati tersesat. Mereka belajar, perlahan, bahwa kekuasaan dapat menutup mata penguasa, dapat memutarbalikkan hukum, tetapi tidak dapat menutup mata nurani yang sadar. Dan di balik keramaian, di balik teriakan, ada hati-hati kecil yang masih mampu menangis, masih mampu bersuara, masih mampu menyalakan percikan kebenaran yang tidak akan padam.

Keadilan dan kebenaran menangis, tapi tangis itu bukan hanya ratapan; ia adalah doa, adalah perlawanan, adalah cahaya kecil yang bersinar di tengah gelap gedung dan hati manusia yang mulai hilang arah. Dan bagi mereka yang masih mampu mendengar, tangis itu menjadi pengingat bahwa meski dunia penuh kekuasaan dan tipu daya, keadilan tetap hidup di hati yang tidak mau menyerah.






Hujan Bintang Di Republik Gelap

  Kota itu kini seperti cermin retak yang menolak menampilkan wajah aslinya. Di balik gemerlap lampu dan papan iklan yang menjeritkan kebaha...