Cari Blog Ini

Jumat, 09 Januari 2026

Hujan Bintang Di Republik Gelap

 


Kota itu kini seperti cermin retak yang menolak menampilkan wajah aslinya. Di balik gemerlap lampu dan papan iklan yang menjeritkan kebahagiaan, tersembunyi kehampaan yang membusuk perlahan. Manusia berjalan cepat, seperti sedang mengejar sesuatu yang bahkan tak tahu bentuknya. Mereka menatap layar lebih sering daripada menatap langit. Mereka berbicara pada mesin, tapi kehilangan bahasa untuk bicara pada sesama.

Di antara gedung tinggi yang menembus awan, doa-doa tak lagi naik. Mereka tertahan di kaca, jatuh lagi ke bumi, berbaur dengan polusi dan janji yang tak ditepati. Di tempat ibadah, manusia bersujud bukan lagi karena cinta, melainkan karena takut. Takut kehilangan rezeki, takut kehilangan posisi, takut tidak terlihat suci di mata sesama penyembah. Tuhan berubah menjadi simbol, disimpan rapi dalam kalimat-kalimat status, tapi jarang benar-benar dipanggil dengan hati.

Lalu di sudut kota yang gelap, ada seseorang yang duduk memandangi langit, mencoba mencari Tuhan di antara gedung yang menelan bintang. Ia bertanya dalam diam, “Di mana Engkau bersembunyi, saat kami mulai kehilangan arah?” Tapi yang menjawab hanyalah gema dari kepalsuan yang sudah terlalu tebal. Di dunia ini, bahkan kebenaran harus memiliki sponsor agar bisa terdengar.

Manusia kini berbondong-bondong mencari surga di tempat yang penuh lampu, suara, dan nama besar. Mereka lupa bahwa Tuhan tak butuh megafon, tak butuh sorotan. Ia bersemayam di tempat sunyi, di hati yang masih berani menyesal. Tapi siapa hari ini yang mau berhenti sejenak untuk menyesal? Semua sibuk membenarkan dirinya, bahkan di hadapan kebenaran itu sendiri.

Kota itu tenggelam oleh cahaya yang mereka ciptakan sendiri. Cahaya yang membutakan, bukan menerangi. Cahaya yang menghapus garis antara benar dan salah, seolah keduanya hanya soal keberpihakan. Dan di tengah gemerlap yang menipu itu, hati manusia menjadi padang tandus; kering, sepi, dan terlalu takut untuk mencintai tanpa pamrih.

Kadang aku berpikir, mungkin Tuhan tak pergi. Mungkin Ia hanya menunggu manusia berhenti mencari-Nya di gedung-gedung tinggi dan mulai mencarinya di dalam diri. Tapi kota ini terlalu bising. Bahkan keheningan pun dibungkam oleh musik, iklan, dan ambisi yang tak pernah tidur. Dan di sanalah, perlahan tapi pasti, nurani terkubur hidup-hidup; tanpa upacara, tanpa doa, hanya diiringi suara tawa palsu dari manusia yang berpikir mereka sedang bahagia.

 

Lalu di tengah keadaan itu tumbuhlah anak-anak yang lahir dari dosa yang diwariskan, bukan dari kesalahan mereka sendiri, melainkan dari kepalsuan yang telah lebih dulu menua di dada orang dewasa. Mereka belajar berbohong bahkan sebelum tahu arti kebenaran. Mereka tumbuh di bawah langit yang penuh dusta, di mana kejujuran, kebenaran, dan keadilan hanya menjadi naskah dalam panggung sandiwara kehidupan, dibacakan dengan suara merdu tapi tanpa makna.

Mereka belajar tersenyum dari bibir orang dewasa yang menyembunyikan luka di balik gigi putih dan tawa yang dipoles di depan cermin. Mereka belajar berkata manis bukan karena ingin menenangkan hati, tapi karena takut kehilangan simpati. Mereka meniru cara berbohong seperti meniru cara berjalan; tanpa sadar, namun perlahan menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhnya.

Di ruang makan, mereka mendengar kebohongan kecil yang dibungkus sopan santun. Di ruang sekolah, mereka diajari bahwa angka lebih penting dari niat. Di ruang tamu, mereka melihat cinta pura-pura dipentaskan untuk tamu, lalu dibungkam begitu pintu tertutup. Di layar-layar, mereka menyaksikan kebaikan dijadikan tontonan, bukan tindakan. Dunia memperlihatkan pada mereka bahwa kejujuran hanyalah pilihan bodoh bagi mereka yang belum pandai menipu kenyataan.

Dan ketika mereka bertanya tentang kebenaran, orang dewasa hanya tertawa pelan, menepuk kepala mereka, dan berkata, “Nanti kau akan mengerti.” Tapi yang akhirnya mereka mengerti bukanlah kebenaran, melainkan cara bertahan di tengah kebohongan yang dijaga bersama.

Anak-anak itu kemudian paham, bahwa berbohong adalah bahasa untuk hidup lebih mudah. Bahwa menyenangkan orang lebih berharga daripada menjadi benar. Bahwa yang tampak bahagia lebih disukai daripada yang sungguh-sungguh damai. Mereka belajar dari tangan yang gemetar menulis kebenaran tapi takut menyuarakannya karena bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan teman, kehilangan panggung.

Dan begitulah kebohongan diwariskan, seperti doa yang tersesat di jalan pulang, seperti benih yang tumbuh di tanah retak tanpa pernah berbuah. Tak ada yang tahu kapan kejujuran berhenti tumbuh, tapi semua tahu bagaimana rasanya hidup tanpanya.

Kadang di malam yang panjang, anak-anak itu bermimpi menjadi manusia yang benar. Namun saat fajar datang, dunia telah menunggu dengan hukum yang lain: yang jujur akan kalah, yang licik akan naik, yang peduli akan hancur. Maka mereka belajar menelan air mata, menggantinya dengan tawa, dan menyebutnya kedewasaan.

Dan di situ di antara sisa kepolosan yang mulai membeku suara hati yang dulu lembut kini hanya berbisik lirih di antara debu lampu kota, “Beginikah caranya dunia menghapus cahaya dari mata anak-anaknya sendiri?”

Maka saat itulah langit mulai menolak membuka pagi. Dunia menyambut cahaya terang dari langit seolah itu pagi, padahal bukan. Itu kegelapan yang berselimut cahaya, cahaya yang dingin dan palsu, yang tak pernah benar-benar menyentuh langit. Cahaya itu hanya kebiasaan; pola yang diulang oleh bumi tanpa makna, tanpa jiwa.

Ia bukan lagi cahaya kebenaran, bukan cahaya keadilan, bukan pula kebijaksanaan yang dulu mampu mengetuk langit hingga langit rela membuka pintunya untuk memberi kehidupan.

Pagi kini hanyalah rutinitas yang berulang tanpa kesadaran. Langit menatap bumi dari kejauhan, melihat manusia berlarian dalam gelap yang mereka sebut terang.

Mereka menyembah sinar buatan, menyalakan ribuan lampu untuk menipu mata sendiri, agar tak melihat gelap yang mereka ciptakan di dalam diri. Matahari masih terbit, tapi tak lagi diundang oleh doa, hanya oleh jadwal. Tak ada hati yang menunggu fajar dengan harapan, tak ada jiwa yang berterima kasih pada cahaya. Dunia sibuk menyalakan dirinya sendiri, lupa bahwa terang sejati datang dari dalam.

Angin pagi pun kehilangan arah, tak tahu lagi harus membawa kesejukan ke mana. Ia hanya berputar di antara gedung, menabrak kaca dan logam, lalu jatuh lelah di bawah kaki manusia yang berjalan tanpa menoleh ke langit. Burung-burung pun enggan bernyanyi. Mereka tahu, nyanyian mereka tak lagi didengar oleh hati yang penuh notifikasi dan kebisingan.

Langit, yang dulu menjadi tempat pertemuan antara doa dan harapan, kini hanya menjadi layar besar bagi polusi cahaya. Di atas sana, bintang-bintang memudar pelan, tertutup karena lelah melihat manusia berpura-pura bahagia.

Dan bumi, dengan segala gegap gempita dan kesibukannya, tak menyadari bahwa ia sedang hidup tanpa pagi. Bahwa setiap terbit matahari hanyalah pengulangan tanpa makna, sekadar tanda bahwa waktu masih berjalan, bukan tanda bahwa hidup sedang dimulai.

Maka langit menutup dirinya rapat, bukan karena marah, tapi karena kecewa. Ia menunggu ada satu jiwa yang masih mau menatapnya bukan untuk meminta, tapi untuk mengingat. Menunggu ada satu manusia yang masih mau menyapa pagi dengan doa yang jujur, dengan hati yang masih bisa bersyukur tanpa alasan.

Dan hingga hari itu tiba, langit memilih diam. Ia menahan sinarnya seperti seorang ibu yang menahan tangis di depan anak-anaknya yang lupa pulang. Ia tahu, cahaya yang dipaksakan tak akan pernah membawa terang.

Di bawah sinar yang tak lagi bersinar bersama doa-doa, di sebuah taman yang dulu penuh burung dan nyanyian, cinta mati perlahan. Ia dibunuh oleh debat panjang tentang siapa yang lebih benar, siapa yang lebih pantas disebut korban. Orang-orang kini mencintai untuk menang, bukan untuk mengerti. Di setiap kata aku peduli, terselip ambisi yang dibungkus moralitas.

Kepedulian bukan lagi kepedulian. Ia menjelma drama panjang di layar-layar, dengan musik lembut dan cahaya hangat, agar manusia tampak mulia. Tapi di baliknya, hanya ada naskah yang dihafal dengan sempurna; tentang bagaimana terlihat baik tanpa benar-benar menjadi baik. Tidak ada lagi tangan yang menolong tanpa kamera. Tidak ada lagi hati yang menenangkan tanpa panggung. Kebaikan kini berpose, tersenyum, lalu berjalan pergi setelah semua sorot cahaya padam.

Dan di sela tepuk tangan yang bergema dari layar ke layar, ada jutaan kebusukan yang tak bisa difilter. Ia mengendap di balik senyum selebritas rohani, di balik kata-kata motivasi yang dipoles, di balik mata yang pura-pura lembut tapi hanya menilai siapa yang pantas diberi kasih dan siapa yang tidak. Dunia memuja kebaikan yang bisa dijual, dan membuang keheningan yang tulus tanpa tanda tangan dan merek.

Cinta yang dulu sederhana kini tercekik oleh logika pasar. Ia tak lagi bicara dengan hati, tapi dengan algoritma. Ia dihitung dengan jumlah suka dan komentar, dinilai dari seberapa sering dibagikan. Orang-orang belajar berempati dengan cepat, dan melupakannya lebih cepat lagi. Cinta kehilangan ruangnya untuk tumbuh, kehilangan kesabarannya untuk menunggu.

Dan di taman itu, tempat burung dulu bernyanyi, hanya tersisa angin yang mengaduh pelan, membawa sisa-sisa kata yang tak sempat diucapkan dengan tulus. Di bangku kayu yang lapuk, ada jejak seseorang yang pernah duduk di sana, menulis puisi untuk manusia, lalu berhenti karena menyadari manusia kini hanya membaca puisi yang bisa dijadikan iklan.

Cinta tak mati karena kebencian. Ia mati karena kehilangan tempat untuk dipercaya. Ia mati di antara debat politik, di antara meja perundingan yang penuh ego, di antara lidah-lidah yang membela kebenaran tapi tak pernah mencintainya.

Dan malam pun turun, menutup taman itu dengan langit kelabu. Rembulan menatap dari jauh, berduka dalam diam, mencari satu manusia yang masih berani mencintai tanpa pamrih. Tapi manusia kini sibuk memperdebatkan definisi cinta, sibuk menulis narasi siapa yang lebih layak disebut penyayang.

Padahal, cinta tak butuh pembelaan. Ia hanya butuh tempat untuk hidup kembali, di hati yang berani diam tanpa panggung, memberi tanpa tanda, mencintai tanpa perlu terlihat.

Dan malam pun turun perlahan, tapi bintang-bintang menolak bersinar. Mereka malu menyaksikan manusia yang menatap langit hanya untuk berdoa agar bisnisnya sukses atau lawannya hancur. Di bawahnya, bulan pun turun, pelan-pelan, menapaki jalan kosong, mencari sisa manusia yang masih jujur, yang masih menatap langit bukan untuk meminta, tapi untuk mengingat.

Namun setelah malam panjang berjalan, manusia seperti itu tak juga ditemukan. Bahkan dari balik pondok-pondok kecil dengan kayu keropos dan atap lapuk, transaksi masih terjadi; dari yang menua bersama waktu hingga yang baru lahir bersama air mata. Segalanya diperjualbelikan: cinta, doa, bahkan rasa malu.

Kemiskinan tak lagi melahirkan kasih dan keadilan, sebagaimana kekayaan tak pernah melahirkan kebenaran dan welas asih.

Manusia kini memikul dosa mereka sendiri dengan kepala menengadah dan dada membusung, seolah itu kebanggaan. Mereka berjalan di bawah cahaya lampu yang memantulkan bayangan diri, bukan cahaya nurani. Mulut mereka mengucap nama Tuhan, tapi hati mereka menyembah keberuntungan. Mereka mencium tanah suci bukan untuk bersyukur, melainkan agar dunia melihat bahwa mereka pernah bersujud di sana.

Bulan berhenti di tepi sungai, memandangi air yang hitam oleh pantulan kota. Ia mencari wajah manusia yang masih bening, tapi hanya menemukan topeng-topeng yang terapung, saling menatap tanpa mata. Angin malam berhembus pelan, membawa doa-doa yang kehilangan makna, berbaur dengan debu dan kebisingan yang tak pernah tidur.

Di langit, bintang-bintang menggigil. Mereka ingin bersinar, tapi takut disalahartikan sebagai tanda keberuntungan bagi yang menindas, atau pertanda kemenangan bagi yang tamak. Dunia terlalu bising untuk mendengar kebenaran. Terlalu silau untuk melihat kesederhanaan.

Dan bulan, dengan cahaya yang mulai pudar, hanya berbisik pada dirinya sendiri,
“Apakah manusia benar-benar lupa bahwa kejujuran adalah satu-satunya cahaya yang tak bisa dipadamkan bahkan oleh malam paling gelap?”

Ia lalu menatap sekali lagi ke bawah, ke bumi yang kini tak lagi menatap ke atas. Hening menggantung di antara langit dan tanah, seperti doa yang tak menemukan arah. Hanya sunyi yang masih setia menunggu, menunggu satu manusia yang berani jujur tanpa ingin dilihat, yang berani mencintai tanpa ingin diingat, yang berani hidup tanpa harus menang.

Saat itulah bintang pertama jatuh. Lalu yang kedua. Lalu ratusan lainnya, hujan bintang membanjiri langit kelam republik itu.

Setiap bintang membawa cahaya kecil, bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk mengingatkan.

Bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam, hanya bersembunyi dari manusia yang tak lagi mencarinya dengan hati.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, langit kembali menangis. Tapi tangisnya bukan ratapan, melainkan doa. Doa agar manusia, di antara reruntuhan sistem dan kekuasaan yang mereka bangun sendiri, masih bisa menemukan secuil cahaya yang benar-benar datang dari dalam dirinya sendiri.

Sayangnya tak ada yang mengangkat kepala ke langit untuk melihat bintang berjatuhan atau menundukkan kepala saat serpihannya berguguran. Wajah mereka hanya memandang layar dan tertawa dalam kesombongan.

Pikiran mereka sibuk menghitung angka dan peluang, membangun takhta di atas grafik keuntungan. Hati mereka terlupakan, dibiarkan berdebu di sudut dada yang kian sunyi.

Begitulah kehidupan dijalankan oleh para manusia yang telah lupa bagaimana caranya jatuh cinta tanpa sorot kamera, lupa bagaimana memeluk tanpa alasan, lupa bagaimana menolong tanpa disorot atau dipuji. Mereka lupa bagaimana menjalankan kebenaran tanpa menyalahkan, bagaimana menerapkan keadilan tanpa menimbang nama dan warna, bagaimana menyebut kata kemanusiaan tanpa pamrih tersembunyi di baliknya.

Dan malam itu, ketika hujan bintang mulai mereda, langit tampak seperti tubuh luka yang perlahan menutup dirinya kembali. Bumi masih bising, namun tidak satu pun suara benar-benar hidup.

Lampu-lampu kota menyala, tapi tak satu pun memantulkan jiwa. Bulan berhenti di atas reruntuhan menara doa, memandangi kota yang tenggelam oleh cahaya palsu; cahaya yang tidak menghangatkan, hanya membutakan.

Di jalanan, anak-anak tertidur dengan ponsel di tangan, meniru kebiasaan orang dewasa yang lebih pandai berbohong daripada bermimpi.

Di layar-layar besar, cinta diperdagangkan dalam bentuk tayangan, dalam kata manis dan musik sedih yang dijual dengan sponsor di sudutnya.

Lalu, dari kejauhan, bintang terakhir jatuh. Cahayanya redup tapi bersih, menembus langit kelabu dan menyentuh tanah yang penuh retakan. Ia tidak menyelamatkan, tidak pula menegur. Ia hanya diam di sana, seperti rahasia kecil dari semesta yang menolak padam.

Dan entah kenapa, di tengah kebisingan, angin tiba-tiba berbisik pelan, hampir seperti doa yang lupa jalan pulang: “Masih ada waktu. Jika manusia mau menatap ke dalam dirinya sendiri.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hujan Bintang Di Republik Gelap

  Kota itu kini seperti cermin retak yang menolak menampilkan wajah aslinya. Di balik gemerlap lampu dan papan iklan yang menjeritkan kebaha...