Cari Blog Ini

Rabu, 24 Desember 2025

Genesis Cosmoc

 


Dahulu, sebelum waktu mengenal dirinya sendiri, sebelum ada kata untuk menyebut “ada”, semesta hanyalah rahim dari cahaya yang terus berdenyut dalam diam panjang yang tak bertepi. Dalam rahim itu, segalanya larut—warna, gema, bahkan niat untuk menjadi. Tidak ada siang, tidak ada malam, hanya denyut lembut seperti jantung yang belum tahu untuk siapa ia berdetak.

Dari denyut itulah bumi dilahirkan, perlahan dan penuh gentar seperti bayi pertama yang membuka mata di hadapan cahaya yang terlalu suci untuk dipahami. Ia menangis tanpa suara, sebab udara belum ada, dan tangisnya menjadi gema pertama yang memecah sunyi kosmos. Gema itu meluas, menjelma guratan cahaya yang menari di kegelapan, menciptakan arah, melahirkan jarak, menandai batas antara ada dan tiada.

Lalu, dari rahim cahaya itu, turunlah air; tetes pertama yang mengingatkan semesta pada kelembutan. Ia mengalir mencari bentuk, menuruni gunung yang belum tahu namanya, menyentuh dataran yang belum tahu artinya menjadi bumi. Air itu menyimpan rahasia cinta pertama: bahwa setiap kehidupan kelak akan kembali padanya.

Setelah air, tercipta bara. Bara yang mula-mula hanyalah percikan kecil dari ketidaksabaran cahaya, tapi tumbuh menjadi api yang lapar, menyala dari butir-butir nafsu yang tersembunyi di dada semesta. Bara itu kelak dikenal manusia sebagai keberanian dan juga kehancuran; dua wajah dari nyala yang sama.

Udara ditiupkan kemudian, lembut seperti helaan kasih yang menyalakan gerak. Ia membawa aroma penciptaan, menciptakan napas bagi segala yang berniat hidup. Dan dari napas itulah, waktu pertama kali berdetak.

Di antara semua ciptaan, muncullah kesadaran. Ia bangkit dari tanah yang basah oleh air, tersentuh cahaya, terbakar bara, dan hidup oleh udara. Ia membuka matanya, menatap langit yang baru saja diciptakan langit yang masih muda, birunya belum sempurna. Kesadaran itu menatap dunia dengan kebingungan purba, tidak tahu apakah ia bagian dari semesta atau hanya mimpi yang tersisa dari cahaya.

Ia belajar memberi nama pada segala yang bergerak, agar dunia tak lagi asing. Ia menyebut sinar sebagai pagi, gelap sebagai malam, diam sebagai doa. Dan ketika ia menyebut dirinya manusia, semesta berhenti sejenak, seperti ikut menghela napas, menyadari bahwa ciptaan terakhir telah membawa sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: kerinduan.

Kerinduan itu menuntun manusia mencari asalnya, menatap langit, laut, gunung, dan air yang terus memantulkan cahaya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang pernah menyentuhnya sebelum ia mengenal tubuh. Sejak saat itu, setiap langkah manusia di bumi adalah perjalanan pulang menuju rahim cahaya, tempat asal segalanya, tempat di mana cinta pertama kali diciptakan dan waktu pertama kali bernapas.

Namun semua itu belum sempurna karena tak ada suara meski nyawa telah tercipta, cinta telah ada, dan waktu telah bernafas. Semesta masih diam, seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung datang; sebuah gema, sebuah panggilan, sebuah keberanian untuk mengatakan “aku ada.”

Hingga akhirnya terciptalah suara. Bukan dari petir, bukan dari bara, melainkan dari getar halus di antara cahaya dan gelap yang saling merindukan. Saat itu, untuk pertama kalinya langit berbicara. Ia tak bersuara seperti manusia, tapi dari pernafasannya lahir nada yang membelah hening menjadi harmoni. Bintang-bintang pun berbisik, suaranya menyerupai desir waktu yang belum sepenuhnya mengerti makna keabadian. Pagi bernyanyi dengan cahaya yang gemetar, dan malam mulai mendongeng dengan nada rendah penuh rahasia.

Dari suara itu tumbuh kata-kata, seperti bunga-bunga yang mekar di udara. Irama terlahir dari pertemuan mereka, menjadi bahasa pertama yang tidak ditulis di tanah, tapi di langit. Setiap gema menjadi ayat, setiap hembus angin menjadi doa. Suara itu melahirkan musik kehidupan, tapi juga luka pertamanya.

Sebab di antara nada dan cahaya, ada sesuatu yang pecah getaran kecil yang tak seharusnya lahir, namun tak dapat dicegah. Dari getaran itu tercipta air dari jenis lain, bukan air yang menumbuhkan pepohonan atau mengisi sungai, melainkan air mata. Air yang membawa kesedihan pertama semesta, diciptakan bukan karena kehilangan, tapi karena kesadaran bahwa setiap keindahan membawa ujungnya sendiri.

Langit menangis tanpa sadar, membiarkan tetesnya jatuh di atas bumi yang baru belajar bernapas. Dari tetes itu lahir sungai-sungai kesedihan yang mengalir di antara gunung-gunung muda, mengukir lembah dan mengajarkan bumi tentang arti rasa. Air mata itu mengandung sesuatu yang tak dimiliki oleh air biasa: ingatan.

Maka sejak itu, segala yang hidup belajar menangis. Tumbuhan menangis dalam diam saat musim kering datang. Laut menangis setiap kali bulan memanggilnya pergi. Dan manusia, makhluk yang lahir terakhir menangis karena mengingat sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami: rumah asalnya di rahim cahaya.

Dari suara dan air mata itu, semesta menjadi lengkap. Ada tawa dan sedu, ada nada dan diam, ada cinta dan kehilangan. Semua menjadi simfoni yang terus berputar di dada waktu, tak pernah selesai, tak pernah diam, hanya berganti bentuk; seperti gema yang terus mencari pantulan asalnya. Dan hingga kini, bila malam tiba dan langit terasa terlalu sunyi, sebenarnya bukan sunyi yang kita dengar. Itu hanyalah suara pertama semesta, yang masih bergetar pelan, memanggil kita agar ingat… bahwa segala yang hidup pernah dilahirkan dari cahaya, lalu belajar berbicara dengan luka.

Lalu perlahan, waktu yang berjalan menua bersama debu, bernafas di dada ambisi, dan berdiam dalam napas cinta yang melahirkan segala hal, termasuk luka. Dari sanalah awal kelupaan manusia dimulai. Waktu menua bersama debu bintang yang perlahan kehilangan sinarnya, meninggalkan jejak samar di ruang-ruang yang dulu bersinar dengan kejernihan asal.

Dari semua ciptaan, manusialah yang tumbuh paling cepat, namun juga paling mudah lupa. Ia lupa dari mana cahaya pertamanya berasal, lupa air mata pertama yang mengajarinya makna rasa, lupa suara lembut langit yang dahulu menuntunnya mengeja kata. Ia hidup di antara nyala dan kelam, tapi tak lagi tahu yang mana rumah, yang mana asal.

Malam-malam menjadi panjang baginya. Ia menatap langit, tapi bintang tak lagi berbicara padanya. Ia mendengar desir angin, tapi tak mengenali bahwa itu suara cinta pertama semesta, masih memanggil namanya yang nyaris terhapus dari bahasa waktu. Hening mulai tumbuh di dalam dirinya, bukan sebagai kedamaian, melainkan sebagai jarak yang perlahan memisahkan dirinya dari sumber segala cahaya.

Manusia berjalan di bumi dengan dada yang kosong namun matanya masih menyala, seperti lilin kecil yang menolak padam meski tahu angin selalu datang. Di setiap langkahnya, ada kerinduan samar: rindu pada sesuatu yang tak bisa disebut, tak bisa ditemukan di daratan, di laut, atau di langit. Rindu itu berdetak lembut di balik tulang rusuknya, mengingatkan bahwa dahulu ia bukan hanya tubuh, melainkan cahaya yang pernah mengenal asalnya.

Namun waktu, yang sabar sekaligus kejam, menutup luka itu perlahan dengan debu. Ia menanamnya dalam nama-nama baru yang diciptakan manusia untuk menenangkan sepi. Ia menamai cinta, tapi lupa dari mana cinta itu pertama kali bernafas. Ia menamai hidup, tapi tak mengerti bahwa hidup hanyalah gema dari suara purba yang dahulu menjadi saksi kelahirannya.

Kini manusia tinggal di dunia yang penuh terang, namun tetap tersesat di dalam gelap batinnya sendiri. Ia membangun kota, menyalakan lampu, menulis kitab, menciptakan mesin untuk menggantikan keajaiban. Ia menciptakan suara yang lebih keras dari langit, tapi kehilangan kemampuan untuk mendengar bisikan semesta.

Namun setiap malam, ketika semua cahaya buatan padam, jiwanya kembali sunyi. Dalam kesunyian itu, ia mendengar sesuatu yang samar, sebuah panggilan jauh dari rahim cahaya yang dulu melahirkannya. Sebuah suara lembut, tak berbentuk, tapi terasa hingga ke tulang: panggilan untuk pulang.

Dan di detik itu, hening menjadi cermin. Manusia menatap ke dalam dirinya, dan di balik gelap yang selama ini ia takutkan, masih ada pendar lembut sisa nyala dari asalnya yang tak pernah benar-benar padam. Mungkin itulah sebabnya manusia masih berdoa, masih menangis, masih menatap bintang dengan hati yang remuk tapi tetap berharap.

Sebab di setiap tangisnya, semesta ikut bergetar. Dan setiap getaran itu adalah ingatan kecil dari cahaya pertama, yang tak pernah benar-benar melupakannya. Karena meski manusia telah lupa dari mana ia datang, rahim cahaya yang dulu melahirkannya masih setia memanggil, dengan sabar, dengan kasih yang tak berkesudahan menunggu saat manusia akhirnya mengingat, dan pulang.

            Sayangnya waktu yang ditunggu, hari yang dinanti tak pernah tiba hingga perlahan langit kehilangan warna. Birunya pudar seperti ingatan yang ditinggalkan terlalu lama di antara halaman waktu. Mentari masih terbit, tapi sinarnya seperti cahaya tua yang tersesat di dada pagi. Awan berjalan tanpa arah, dan angin yang dulu membawa nyanyian kini hanya membawa debu.

Langit mulai menua. Ia tak lagi menjadi cermin bagi doa, melainkan lembar kusam yang memantulkan kehampaan. Di bawahnya, manusia sibuk menciptakan dunia di dalam dunia; membangun menara untuk menantang ketinggian yang dahulu mereka sembah, menulis hukum untuk menggantikan bisikan nurani, dan menyalakan lampu agar tak perlu lagi percaya pada bintang.

Maka langit, yang dahulu menyanyikan nada penciptaan, kini hanya bergumam pelan. Warnanya memudar seperti jiwa yang lelah menunggu. Ia kehilangan biru, kehilangan jingga, kehilangan segala rona yang dulu hidup dari doa dan ketulusan. Di antara kabut abu-abu itu, bumi pun perlahan kehilangan arah; gunung-gunung tak lagi berbicara, laut menjadi gelap, dan pohon-pohon berhenti berdoa.

Dari kehilangan warna itu, lahirlah sesuatu yang lain—suara serak dari kesunyian yang menua.

Suara itu berkata pelan, “Manusia lupa pada langit, maka langit pun perlahan berhenti mencintainya.”

Manusia, yang dulunya anak dari cahaya, mulai mencintai bayangannya sendiri. Ia mencipta bukan lagi karena cinta, melainkan karena haus akan kekuasaan. Ia mulai menulis ulang kisah penciptaan, menempatkan dirinya sebagai pusat segala hal. Dari sanalah retakan pertama muncul bukan di tanah, tapi di nurani.

Malam menjadi lebih kelam, bukan karena ketiadaan bintang, tapi karena cahaya di dalam hati telah padam. Mereka masih menatap langit, namun tak lagi mencari makna. Mereka hanya menghitungnya, meneliti, menamai, memetakan, seolah keindahan bisa dimiliki hanya dengan pengetahuan.

Langit memudar semakin dalam, menjadi kelabu yang nyaris tak bernyawa. Tapi di celahnya, masih ada sedikit pendar; lemah, tapi nyata. Cahaya yang tersisa itu bukan lagi cahaya kebanggaan, melainkan cahaya belas kasih. Ia menatap bumi dari kejauhan, seperti ibu tua yang melihat anaknya tenggelam dalam keserakahan, tapi masih berharap anak itu suatu hari akan berhenti berlari dan menengadah.

Dan mungkin, suatu saat nanti, ketika langit benar-benar kehilangan warna, ketika seluruh cahaya buatan padam, manusia akan mengangkat wajahnya lagi ke atas bukan untuk menantang, tapi untuk mendengar. Sebab bahkan di langit yang paling kelam, selalu ada bisikan halus yang menunggu ditemukan: suara dari awal penciptaan, yang tak pernah mati, hanya menunggu di antara abu, memanggil agar manusia mengingat... bahwa warna pertama langit pernah lahir dari cinta.


Judul Buku    : Republik Bintang

Karya            : Stovia

Tanggal rilis  : 24 Desember 2025

Ilustrasi         : Gemini




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nurani Yang Dibuang Ke Udara

  Waktu terus berjalan, dunia terus berputar, dan musim silih berganti tanpa henti. Di tengah perjalanan panjang itu, nurani perlahan memuda...