Dahulu, sebelum waktu
mengenal dirinya sendiri, sebelum ada kata untuk menyebut “ada”, semesta
hanyalah rahim dari cahaya yang terus berdenyut dalam diam panjang yang tak
bertepi. Dalam rahim itu, segalanya larut—warna, gema, bahkan niat untuk
menjadi. Tidak ada siang, tidak ada malam, hanya denyut lembut seperti jantung
yang belum tahu untuk siapa ia berdetak.
Dari denyut itulah
bumi dilahirkan, perlahan dan penuh gentar seperti bayi pertama yang membuka
mata di hadapan cahaya yang terlalu suci untuk dipahami. Ia menangis tanpa
suara, sebab udara belum ada, dan tangisnya menjadi gema pertama yang memecah
sunyi kosmos. Gema itu meluas, menjelma guratan cahaya yang menari di
kegelapan, menciptakan arah, melahirkan jarak, menandai batas antara ada dan
tiada.
Lalu, dari rahim
cahaya itu, turunlah air; tetes pertama yang mengingatkan semesta pada
kelembutan. Ia mengalir mencari bentuk, menuruni gunung yang belum tahu
namanya, menyentuh dataran yang belum tahu artinya menjadi bumi. Air itu
menyimpan rahasia cinta pertama: bahwa setiap kehidupan kelak akan kembali
padanya.
Setelah air, tercipta
bara. Bara yang mula-mula hanyalah percikan kecil dari ketidaksabaran cahaya,
tapi tumbuh menjadi api yang lapar, menyala dari butir-butir nafsu yang
tersembunyi di dada semesta. Bara itu kelak dikenal manusia sebagai keberanian
dan juga kehancuran; dua wajah dari nyala yang sama.
Udara ditiupkan
kemudian, lembut seperti helaan kasih yang menyalakan gerak. Ia membawa aroma
penciptaan, menciptakan napas bagi segala yang berniat hidup. Dan dari napas
itulah, waktu pertama kali berdetak.
Di antara semua
ciptaan, muncullah kesadaran. Ia bangkit dari tanah yang basah oleh air,
tersentuh cahaya, terbakar bara, dan hidup oleh udara. Ia membuka matanya,
menatap langit yang baru saja diciptakan langit yang masih muda, birunya belum
sempurna. Kesadaran itu menatap dunia dengan kebingungan purba, tidak tahu
apakah ia bagian dari semesta atau hanya mimpi yang tersisa dari cahaya.
Ia belajar memberi
nama pada segala yang bergerak, agar dunia tak lagi asing. Ia menyebut sinar
sebagai pagi, gelap sebagai malam, diam sebagai doa. Dan ketika ia menyebut
dirinya manusia, semesta berhenti sejenak, seperti ikut menghela napas, menyadari
bahwa ciptaan terakhir telah membawa sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya:
kerinduan.
Kerinduan itu menuntun manusia mencari
asalnya, menatap langit, laut, gunung, dan air yang terus memantulkan cahaya.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang pernah menyentuhnya sebelum ia
mengenal tubuh. Sejak saat itu, setiap langkah manusia di bumi adalah
perjalanan pulang menuju rahim cahaya, tempat asal segalanya, tempat di mana
cinta pertama kali diciptakan dan waktu pertama kali bernapas.
Namun semua itu belum
sempurna karena tak ada suara meski nyawa telah tercipta, cinta telah ada, dan
waktu telah bernafas. Semesta masih diam, seperti menunggu sesuatu yang tak
kunjung datang; sebuah gema, sebuah panggilan, sebuah keberanian untuk
mengatakan “aku ada.”
Hingga akhirnya
terciptalah suara. Bukan dari petir, bukan dari bara, melainkan dari getar
halus di antara cahaya dan gelap yang saling merindukan. Saat itu, untuk
pertama kalinya langit berbicara. Ia tak bersuara seperti manusia, tapi dari
pernafasannya lahir nada yang membelah hening menjadi harmoni. Bintang-bintang
pun berbisik, suaranya menyerupai desir waktu yang belum sepenuhnya mengerti
makna keabadian. Pagi bernyanyi dengan cahaya yang gemetar, dan malam mulai
mendongeng dengan nada rendah penuh rahasia.
Dari suara itu tumbuh
kata-kata, seperti bunga-bunga yang mekar di udara. Irama terlahir dari
pertemuan mereka, menjadi bahasa pertama yang tidak ditulis di tanah, tapi di
langit. Setiap gema menjadi ayat, setiap hembus angin menjadi doa. Suara itu
melahirkan musik kehidupan, tapi juga luka pertamanya.
Sebab di antara nada
dan cahaya, ada sesuatu yang pecah getaran kecil yang tak seharusnya lahir,
namun tak dapat dicegah. Dari getaran itu tercipta air dari jenis lain, bukan
air yang menumbuhkan pepohonan atau mengisi sungai, melainkan air mata. Air
yang membawa kesedihan pertama semesta, diciptakan bukan karena kehilangan,
tapi karena kesadaran bahwa setiap keindahan membawa ujungnya sendiri.
Langit menangis tanpa
sadar, membiarkan tetesnya jatuh di atas bumi yang baru belajar bernapas. Dari
tetes itu lahir sungai-sungai kesedihan yang mengalir di antara gunung-gunung
muda, mengukir lembah dan mengajarkan bumi tentang arti rasa. Air mata itu
mengandung sesuatu yang tak dimiliki oleh air biasa: ingatan.
Maka sejak itu, segala
yang hidup belajar menangis. Tumbuhan menangis dalam diam saat musim kering
datang. Laut menangis setiap kali bulan memanggilnya pergi. Dan manusia, makhluk
yang lahir terakhir menangis karena mengingat sesuatu yang tak sepenuhnya ia
pahami: rumah asalnya di rahim cahaya.
Dari suara dan air
mata itu, semesta menjadi lengkap. Ada tawa dan sedu, ada nada dan diam, ada
cinta dan kehilangan. Semua menjadi simfoni yang terus berputar di dada waktu,
tak pernah selesai, tak pernah diam, hanya berganti bentuk; seperti gema yang
terus mencari pantulan asalnya. Dan hingga kini, bila malam tiba dan langit
terasa terlalu sunyi, sebenarnya bukan sunyi yang kita dengar. Itu hanyalah
suara pertama semesta, yang masih bergetar pelan, memanggil kita agar ingat…
bahwa segala yang hidup pernah dilahirkan dari cahaya, lalu belajar berbicara
dengan luka.
Lalu perlahan, waktu
yang berjalan menua bersama debu, bernafas di dada ambisi, dan berdiam dalam
napas cinta yang melahirkan segala hal, termasuk luka. Dari sanalah awal
kelupaan manusia dimulai. Waktu menua bersama debu bintang yang perlahan
kehilangan sinarnya, meninggalkan jejak samar di ruang-ruang yang dulu bersinar
dengan kejernihan asal.
Dari semua ciptaan, manusialah yang
tumbuh paling cepat, namun juga paling mudah lupa. Ia lupa dari mana cahaya
pertamanya berasal, lupa air mata pertama yang mengajarinya makna rasa, lupa
suara lembut langit yang dahulu menuntunnya mengeja kata. Ia hidup di antara
nyala dan kelam, tapi tak lagi tahu yang mana rumah, yang mana asal.
Malam-malam menjadi
panjang baginya. Ia menatap langit, tapi bintang tak lagi berbicara padanya. Ia
mendengar desir angin, tapi tak mengenali bahwa itu suara cinta pertama
semesta, masih memanggil namanya yang nyaris terhapus dari bahasa waktu. Hening
mulai tumbuh di dalam dirinya, bukan sebagai kedamaian, melainkan sebagai jarak
yang perlahan memisahkan dirinya dari sumber segala cahaya.
Manusia berjalan di
bumi dengan dada yang kosong namun matanya masih menyala, seperti lilin kecil
yang menolak padam meski tahu angin selalu datang. Di setiap langkahnya, ada
kerinduan samar: rindu pada sesuatu yang tak bisa disebut, tak bisa ditemukan
di daratan, di laut, atau di langit. Rindu itu berdetak lembut di balik tulang
rusuknya, mengingatkan bahwa dahulu ia bukan hanya tubuh, melainkan cahaya yang
pernah mengenal asalnya.
Namun waktu, yang
sabar sekaligus kejam, menutup luka itu perlahan dengan debu. Ia menanamnya
dalam nama-nama baru yang diciptakan manusia untuk menenangkan sepi. Ia menamai
cinta, tapi lupa dari mana cinta itu pertama kali bernafas. Ia menamai hidup,
tapi tak mengerti bahwa hidup hanyalah gema dari suara purba yang dahulu menjadi
saksi kelahirannya.
Kini manusia tinggal
di dunia yang penuh terang, namun tetap tersesat di dalam gelap batinnya
sendiri. Ia membangun kota, menyalakan lampu, menulis kitab, menciptakan mesin
untuk menggantikan keajaiban. Ia menciptakan suara yang lebih keras dari
langit, tapi kehilangan kemampuan untuk mendengar bisikan semesta.
Namun setiap malam, ketika semua cahaya
buatan padam, jiwanya kembali sunyi. Dalam kesunyian itu, ia mendengar sesuatu
yang samar, sebuah panggilan jauh dari rahim cahaya yang dulu melahirkannya.
Sebuah suara lembut, tak berbentuk, tapi terasa hingga ke tulang: panggilan
untuk pulang.
Dan di detik itu,
hening menjadi cermin. Manusia menatap ke dalam dirinya, dan di balik gelap
yang selama ini ia takutkan, masih ada pendar lembut sisa nyala dari asalnya
yang tak pernah benar-benar padam. Mungkin itulah sebabnya manusia masih
berdoa, masih menangis, masih menatap bintang dengan hati yang remuk tapi tetap
berharap.
Sebab di setiap tangisnya,
semesta ikut bergetar. Dan setiap getaran itu adalah ingatan kecil dari cahaya
pertama, yang tak pernah benar-benar melupakannya. Karena meski manusia telah
lupa dari mana ia datang, rahim cahaya yang dulu melahirkannya masih setia
memanggil, dengan sabar, dengan kasih yang tak berkesudahan menunggu saat
manusia akhirnya mengingat, dan pulang.
Sayangnya
waktu yang ditunggu, hari yang dinanti tak pernah tiba hingga perlahan langit
kehilangan warna. Birunya pudar seperti ingatan yang ditinggalkan terlalu lama
di antara halaman waktu. Mentari masih terbit, tapi sinarnya seperti cahaya tua
yang tersesat di dada pagi. Awan berjalan tanpa arah, dan angin yang dulu
membawa nyanyian kini hanya membawa debu.
Langit mulai menua. Ia
tak lagi menjadi cermin bagi doa, melainkan lembar kusam yang memantulkan
kehampaan. Di bawahnya, manusia sibuk menciptakan dunia di dalam dunia; membangun
menara untuk menantang ketinggian yang dahulu mereka sembah, menulis hukum
untuk menggantikan bisikan nurani, dan menyalakan lampu agar tak perlu lagi
percaya pada bintang.
Maka langit, yang
dahulu menyanyikan nada penciptaan, kini hanya bergumam pelan. Warnanya memudar
seperti jiwa yang lelah menunggu. Ia kehilangan biru, kehilangan jingga,
kehilangan segala rona yang dulu hidup dari doa dan ketulusan. Di antara kabut
abu-abu itu, bumi pun perlahan kehilangan arah; gunung-gunung tak lagi
berbicara, laut menjadi gelap, dan pohon-pohon berhenti berdoa.
Dari kehilangan warna
itu, lahirlah sesuatu yang lain—suara serak dari kesunyian yang menua.
Suara itu berkata
pelan, “Manusia lupa pada langit, maka langit pun perlahan berhenti
mencintainya.”
Manusia, yang dulunya
anak dari cahaya, mulai mencintai bayangannya sendiri. Ia mencipta bukan lagi
karena cinta, melainkan karena haus akan kekuasaan. Ia mulai menulis ulang
kisah penciptaan, menempatkan dirinya sebagai pusat segala hal. Dari sanalah
retakan pertama muncul bukan di tanah, tapi di nurani.
Malam menjadi lebih
kelam, bukan karena ketiadaan bintang, tapi karena cahaya di dalam hati telah
padam. Mereka masih menatap langit, namun tak lagi mencari makna. Mereka hanya
menghitungnya, meneliti, menamai, memetakan, seolah keindahan bisa dimiliki
hanya dengan pengetahuan.
Langit memudar semakin
dalam, menjadi kelabu yang nyaris tak bernyawa. Tapi di celahnya, masih ada
sedikit pendar; lemah, tapi nyata. Cahaya yang tersisa itu bukan lagi cahaya
kebanggaan, melainkan cahaya belas kasih. Ia menatap bumi dari kejauhan,
seperti ibu tua yang melihat anaknya tenggelam dalam keserakahan, tapi masih
berharap anak itu suatu hari akan berhenti berlari dan menengadah.
Dan mungkin, suatu
saat nanti, ketika langit benar-benar kehilangan warna, ketika seluruh cahaya
buatan padam, manusia akan mengangkat wajahnya lagi ke atas bukan untuk
menantang, tapi untuk mendengar. Sebab bahkan di langit yang paling kelam,
selalu ada bisikan halus yang menunggu ditemukan: suara dari awal penciptaan,
yang tak pernah mati, hanya menunggu di antara abu, memanggil agar manusia
mengingat... bahwa warna pertama langit pernah lahir dari cinta.
Judul Buku
: Republik Bintang
Karya : Stovia
Tanggal rilis
: 24 Desember 2025
Ilustrasi
: Gemini
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar