Cari Blog Ini

Sabtu, 27 Desember 2025

Negeri yang Mengapung di Antara Luka

 


Ada sebuah negeri yang dulu indah, terbuat dari cahaya yang menetes dari jari-jari langit. Di sanalah angin pernah berdoa, dan burung-burung bernyanyi tanpa tahu makna kehilangan. Namun waktu berjalan seperti pisau tumpul yang lambat mengiris, menyisakan luka, tapi tak segera mematikan.

Kini negeri itu menggantung di antara luka dan ingatan. Gunung-gunungnya masih berdiri, tapi puncaknya telah dijual pada kekuasaan. Sungai-sungainya masih mengalir, tapi airnya telah menjadi asin oleh air mata rakyatnya sendiri.

Di tanah itu, orang-orang harus makan lumpur agar tetap hidup. Anak-anak menangis darah untuk bisa bernafas satu hari lagi, sementara para wanita dipaksa melahirkan emas dan berlian yang bukan untuk mereka melainkan untuk menambal singgasana penguasa yang haus kuasa. Mereka tertawa di bawah nafsu kekuasaan yang memaksa mereka menelanjangi martabatnya sendiri, hingga akhirnya mereka berjalan di atas bumi tanpa sehelai pun pakaian yang dulu disebut kehormatan.

Dan semua itu… demi sesuatu yang disebut kekayaan, demi kata kosong bernama kejayaan.

Istana mereka menjulang tinggi, dindingnya dipahat dari tulang rakyat. Meja-mejanya berat oleh piala dan darah. Mereka bersulang untuk kemenangan yang tak pernah benar-benar mereka menangkan, karena di bawah kaki mereka, bumi merintih pelan.

Lalu datanglah masa di mana cahaya dan gelap sudah tak lagi bisa dibedakan. Manusia saling membunuh bukan karena lapar, tapi karena tak ingin kalah. Mereka menciptakan senjata dari rasa takut, memelihara kebencian seperti hewan peliharaan yang diberi makan setiap hari.

Langit menyaksikan itu semua dengan wajah kelabu. Darah menetes di antara akar-akar, menumbuhkan bunga-bunga kematian yang bermekaran di jalanan. Anak-anak kecil tumbuh tanpa mengenal suara tawa, hanya dentum, hanya jerit, hanya doa yang putus di tengah udara.

Mereka menyebutnya perang. Tapi perang itu tak lagi tentang tanah, tak lagi tentang keadilan melainkan tentang siapa yang masih bisa memegang kuasa, meski dengan tangan berlumur darah.

Dan negeri itu… negeri yang dulu dilahirkan dari cahaya, kini mengapung di antara luka. Ia tak lagi berpijak di bumi, karena bumi telah terlalu lelah menanggungnya. Ia juga tak sepenuhnya berada di langit, karena langit telah menutup matanya. Maka ia menggantung seperti roh yang kehilangan tubuh, seperti doa yang tak sampai, seperti nama yang terus disebut tapi tak lagi berarti.

Namun, di antara reruntuhan dan debu, masih ada sesuatu yang berpendar. Sebuah nyala kecil di mata seorang anak yang menatap langit tanpa takut. Ia tidak tahu siapa yang benar atau salah, tidak tahu tentang emas, tidak tahu tentang kuasa. Ia hanya tahu satu hal: dunia ini seharusnya tidak sekelam ini.

Dan mungkin, di matanya yang kecil itu, langit mulai membuka mata sedikit demi sedikit, seolah ingin mengingatkan bahwa di balik kehancuran, masih ada kemungkinan bagi cahaya untuk lahir lagi, meski dari luka yang paling dalam.

Sebab bahkan di negeri yang mengapung di antara luka, masih ada rahim harapan yang belum sepenuhnya mati menunggu satu napas, satu doa, satu tangan yang berani menyentuh tanah tanpa takut kotor, agar dunia sekali lagi bisa belajar menjadi manusia.

Di tengah segala reruntuhan itu, masih ada sehelai kain yang berkibar di udara; bendera yang robek, warnanya pudar seperti kenangan yang terlalu lama digenggam. Ujungnya compang-camping, sebagian terbakar oleh perang, sebagian lagi tercabik oleh angin yang tak mengenal belas kasih. Namun tetap, ia dikibarkan.

Tangan-tangan kecil yang kotor oleh debu menegakkannya kembali di atas tiang yang bengkok. Tak ada musik, tak ada upacara, hanya sunyi yang melingkupi. Tapi di antara sunyi itulah maknanya terasa paling nyaring: bahwa mereka belum sepenuhnya menyerah.

Bendera itu bukan lagi lambang kemenangan, bukan pula kebanggaan. Ia kini menjadi tanda bahwa masih ada jiwa yang bernafas, masih ada hati yang menolak padam. Robeknya adalah luka, tapi juga bukti bahwa ia telah melewati badai. Setiap sobekannya bercerita tentang ibu yang kehilangan anaknya, tentang rumah yang berubah jadi puing, tentang doa yang menembus kabut asap dan sampai entah ke mana.

Saat angin bertiup, bendera itu tak berkibar gagah seperti dulu, tapi bergetar pelan… seperti dada yang masih menahan isak. Warnanya telah memudar, tapi di dalamnya masih tinggal sedikit cahaya, seperti darah yang enggan berhenti mengalir meski tubuh sudah kehabisan tenaga.

Orang-orang menatapnya dengan mata yang basah, tak tahu apakah mereka sedang menangis karena sedih atau karena haru. Mungkin keduanya. Sebab di tengah kehancuran, bendera itu bukan sekadar kain, ia adalah ingatan bahwa sesuatu yang bernama “harapan” masih hidup, meski setipis benang.

Bendera itu berkibar di antara abu, debu, dan sisa-sisa langit yang kehilangan warna. Ia melambai pada angin seolah berbicara, “Aku masih di sini.”

Dan setiap kali ia bergerak, suara samar terdengar dari balik lipatan kainnya, seolah bumi sendiri berbisik: bahwa kebanggaan sejati bukanlah milik yang menang, melainkan milik mereka yang tetap berdiri, meski dunia di sekitarnya telah runtuh.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika langit belajar mencintai bumi lagi, dan manusia berhenti menulis sejarah dengan darah, bendera itu akan dijahit kembali oleh tangan-tangan yang dulu menegakkannya dalam air mata. Lalu ia akan berkibar lagi bukan karena perang, tapi karena cinta yang akhirnya pulang.

Sayangnya hari yang ditunggu tak juga tiba, air mata masih menggenangi sungai-sungai, dusta masih mengalir pada lidah-lidah penguasa, dan darah belum berhenti tumpah bahkan pada hari yang paling indah.

Waktu berjalan cepat, tapi bukan menuju sembuh, ia justru menegakkan kekuasaan menjadi dewa yang paling kuat di antara segala nilai kehidupan, termasuk nilai kemanusiaan itu sendiri.

Janji tentang kemerdekaan kini tinggal dalam pidato. Setiap kalimatnya bergema indah di udara, tapi jatuh ke tanah dan mati sebelum sempat menyentuh akar. Kata-kata itu kini menjadi ritual tahunan yang dihafalkan dengan suara lantang dan dada membusung, sementara rakyat yang mendengarnya hanya menunduk, bukan karena hormat, tapi karena lapar.

Di istana yang megah, suara keadilan digantikan oleh tepuk tangan. Mereka bersulang di atas penderitaan, menulis kisah tentang kemakmuran di atas kertas emas, lalu menandatanganinya dengan tinta yang terbuat dari keringat orang kecil. Negeri ini kini pandai berpura-pura: tersenyum di depan kamera, menangis di balik layar.

Jalan-jalan penuh baliho yang menjanjikan harapan, padahal di bawahnya, anak-anak masih menjual waktu di lampu merah. Sekolah-sekolah berdiri megah, tapi ilmu disandera oleh biaya. Rumah sakit tampak indah, tapi nyawa ditimbang seperti barang dagangan. Dan para pemimpin yang dulu berjanji menjadi pelayan rakyat kini duduk di singgasana yang lebih tinggi dari langit, menatap ke bawah hanya untuk memastikan rakyatnya tetap tunduk.

Negeri ini kini pandai mengenakan topeng: topeng kemajuan, topeng moral, topeng agama, topeng nasionalisme yang disulam dengan benang kebohongan. Di baliknya, wajah aslinya adalah luka dalam, menganga, dan berbau getir. Keadilan menjadi dongeng yang hanya dibacakan di ruang sidang; hukum adalah permainan catur di mana bidak-bidak kecil selalu dikorbankan agar raja tetap aman.

Dan ketika rakyat bersuara, suaranya dianggap angin; ketika mereka diam, kesunyian mereka dianggap tanda setuju. Maka negeri ini berjalan pincang, tapi masih menyebut dirinya tegak. Ia kehilangan arah, tapi terus berteriak bahwa ia di jalan yang benar.

Perlahan namun pasti manusia mulai menjual nurani di pasar kekuasaan, menukarnya dengan kursi empuk dan tepuk tangan palsu. Jabatan menjadi candu yang membuat mata mereka buta terhadap nestapa, telinga mereka tuli terhadap jerit yang tak berirama. Mereka yang dulu berbicara tentang kebenaran kini membungkamnya dengan amplop bersegel merah, seolah kejujuran hanyalah barang antik yang pantas disimpan di museum sejarah.

Di ruang rapat berpendingin udara, keputusan tentang nasib bangsa dirumuskan dengan angka, bukan dengan hati. Mereka menghitung penderitaan dalam statistik, bukan dalam tangisan. Selembar dokumen bisa mengubah hidup ribuan orang, tapi yang mereka pikirkan hanyalah berapa persen yang bisa diselamatkan untuk diri sendiri.

Maka negeri ini tumbuh seperti pohon tanpa akar; rindang di permukaan, tapi rapuh di dalam. Akar kejujuran telah digergaji oleh ambisi, dan batang moral ditebang untuk membangun menara kekuasaan. Mereka memuja jabatan seperti berhala yang harus disembah setiap pagi, dan demi menambah satu bintang di pundak, mereka rela menumpahkan seribu air mata di jalan.

Rakyat menjadi sekadar angka dalam pidato, nama dalam daftar bantuan yang tak pernah sampai. Sementara mereka yang duduk di kursi tinggi menyebut diri “wakil rakyat”, padahal yang mereka wakili hanyalah nafsu untuk berkuasa lebih lama.

            Lalu kebenaran dikubur dalam seremoni, diucapkan dalam dokumen-dokumen formal tapi tak pernah benar-benar hidup di dada rakyat. Ia hanya dipakai untuk menutup pidato, bukan untuk membuka mata. Segalanya menjadi rapi, sistematis, berstempel resmi dan dari sanalah kebohongan memperoleh legitimasi tertingginya.

Mereka menyebutnya stabilitas, padahal itu hanya nama lain dari ketakutan. Mereka menulisnya dalam pasal-pasal dan aturan, lalu menggunakannya untuk menghentikan suara yang mencoba memanggil nurani. Suara kebenaran rakyat dilabeli upaya makar, suara keadilan disebut pengkhianatan, dan setiap napas yang berbeda dianggap ancaman terhadap “ketertiban”. Maka sunyi pun tumbuh di tanah air sendiri bukan karena tak ada kata, tapi karena kata telah dipenjara.

Di ruang-ruang rapat, mereka menandatangani kesepakatan yang berbau tinta dan tipu daya. Di luar gedung, rakyat berdiri di bawah hujan, menatap langit yang tak lagi menjanjikan perubahan. Di tangan mereka hanya ada keyakinan yang kian menipis, seperti lembar uang yang tak lagi cukup untuk membeli harapan.

Negeri ini, perlahan, menjadi teater yang megah tapi tanpa naskah moral. Pemerintahannya menampilkan wajah senyum di layar kaca, sementara di balik tirai, keserakahan menulis skenario baru tentang siapa yang harus diam, siapa yang boleh hidup, dan siapa yang akan dikorbankan atas nama kemajuan.

Keadilan kehilangan rumahnya. Ia kini berkeliaran seperti pengemis di jalan kekuasaan, mengetuk setiap pintu lembaga tinggi yang sibuk mencatat perkara tanpa pernah menyentuh hati. Setiap kali ia datang membawa bukti, ia diusir dengan alasan prosedur. Setiap kali ia berteriak tentang luka, ia dibungkam dengan kata “stabilitas nasional”.

Dan malam pun datang, membawa cahaya yang tak lagi hangat, hanya menyinari betapa kosongnya negeri yang dulu dibangun atas mimpi dan darah. Kini tinggal barisan nama di prasasti, dihafal setiap upacara, tapi dilupakan dalam keputusan. Kebenaran sudah dikubur dalam seremoni, dan di atas kubur itu, berdirilah mereka yang mengaku pahlawan sambil menghitung berapa banyak tepuk tangan yang akan mereka dapatkan besok pagi.

Hingga pada akhirnya demi tetap hidup, rakyat mulai belajar diam, berhenti menyuarakan kebenaran bahkan ketika yang dipertaruhkan adalah hak hidup mereka sendiri. Mereka belajar membaca arah angin, memilih menunduk sebelum badai datang. Karena di negeri ini, keberanian sudah lama kehilangan tempatnya dan kejujuran, bila diucapkan terlalu keras, bisa menjadi sebab kematian.

Kekuasaan menjelma pedang yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menebas lidah-lidah kebenaran dan memenggal keberanian rakyat yang dulu bernyanyi di jalan-jalan. Kini suara mereka hanya bergema di dada sendiri, terperangkap di antara napas dan ketakutan. Di pasar, di ladang, di kantor, semua orang tahu ada yang busuk di puncak menara, tapi mereka pura-pura mencium wangi bunga agar tak dituduh melawan.

Anak-anak tumbuh tanpa tahu makna kata “adil”, karena yang mereka lihat hanyalah layar berita yang selalu menampilkan wajah sama dengan kalimat yang serupa: “Demi kepentingan bersama.” Padahal kepentingan itu tak pernah mencapai mereka, hanya berhenti di meja rapat dan rekening pribadi. Mereka melihat ayahnya kehilangan pekerjaan tanpa alasan, ibunya menahan air mata ketika harga naik dan janji turun seperti hujan asam.

Rakyat pun berubah menjadi bayang-bayang. Mereka hidup, tapi tak benar-benar ada. Mereka bekerja, tapi hasilnya disedot oleh mesin-mesin besar yang diberi nama program pembangunan. Mereka menyumbang suara, tapi suaranya disamarkan oleh data, dimanipulasi menjadi angka yang indah di laporan tahunan.

Negeri ini kini tampak tenang, tapi itu ketenangan yang mencekik. Seperti danau yang tenang karena tak ada lagi ikan yang berani berenang di dalamnya. Seperti malam yang sunyi karena semua bintang telah jatuh dan padam.

Dan di tengah keheningan yang panjang itu, kebenaran masih berbaring di kuburnya. Tak ada yang berani menziarahinya lagi, karena setiap langkah mendekat bisa dianggap makar.

Namun kadang, pada malam tertentu, jika kau berjalan cukup jauh ke arah suara hati, kau akan mendengar sesuatu; lirih, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan dari tanah yang lembab: bahwa diam tak selamanya berarti tunduk, kadang hanya cara rakyat menunggu waktu untuk hidup kembali sebagai manusia yang utuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nurani Yang Dibuang Ke Udara

  Waktu terus berjalan, dunia terus berputar, dan musim silih berganti tanpa henti. Di tengah perjalanan panjang itu, nurani perlahan memuda...