Ada
sebuah negeri yang dulu indah, terbuat dari cahaya yang menetes dari jari-jari
langit. Di sanalah angin pernah berdoa, dan burung-burung bernyanyi tanpa tahu
makna kehilangan. Namun waktu berjalan seperti pisau tumpul yang lambat
mengiris, menyisakan luka, tapi tak segera mematikan.
Kini
negeri itu menggantung di antara luka dan ingatan. Gunung-gunungnya masih
berdiri, tapi puncaknya telah dijual pada kekuasaan. Sungai-sungainya masih
mengalir, tapi airnya telah menjadi asin oleh air mata rakyatnya sendiri.
Di tanah
itu, orang-orang harus makan lumpur agar tetap hidup. Anak-anak menangis darah
untuk bisa bernafas satu hari lagi, sementara para wanita dipaksa melahirkan
emas dan berlian yang bukan untuk mereka melainkan untuk menambal singgasana
penguasa yang haus kuasa. Mereka tertawa di bawah nafsu kekuasaan yang memaksa
mereka menelanjangi martabatnya sendiri, hingga akhirnya mereka berjalan di
atas bumi tanpa sehelai pun pakaian yang dulu disebut kehormatan.
Dan
semua itu… demi sesuatu yang disebut kekayaan, demi kata kosong bernama
kejayaan.
Istana
mereka menjulang tinggi, dindingnya dipahat dari tulang rakyat. Meja-mejanya
berat oleh piala dan darah. Mereka bersulang untuk kemenangan yang tak pernah
benar-benar mereka menangkan, karena di bawah kaki mereka, bumi merintih pelan.
Lalu
datanglah masa di mana cahaya dan gelap sudah tak lagi bisa dibedakan. Manusia
saling membunuh bukan karena lapar, tapi karena tak ingin kalah. Mereka
menciptakan senjata dari rasa takut, memelihara kebencian seperti hewan
peliharaan yang diberi makan setiap hari.
Langit
menyaksikan itu semua dengan wajah kelabu. Darah menetes di antara akar-akar,
menumbuhkan bunga-bunga kematian yang bermekaran di jalanan. Anak-anak kecil
tumbuh tanpa mengenal suara tawa, hanya dentum, hanya jerit, hanya doa yang
putus di tengah udara.
Mereka
menyebutnya perang. Tapi perang itu tak lagi tentang tanah, tak lagi tentang
keadilan melainkan tentang siapa yang masih bisa memegang kuasa, meski dengan
tangan berlumur darah.
Dan
negeri itu… negeri yang dulu dilahirkan dari cahaya, kini mengapung di antara
luka. Ia tak lagi berpijak di bumi, karena bumi telah terlalu lelah
menanggungnya. Ia juga tak sepenuhnya berada di langit, karena langit telah
menutup matanya. Maka ia menggantung seperti roh yang kehilangan tubuh, seperti
doa yang tak sampai, seperti nama yang terus disebut tapi tak lagi berarti.
Namun,
di antara reruntuhan dan debu, masih ada sesuatu yang berpendar. Sebuah nyala
kecil di mata seorang anak yang menatap langit tanpa takut. Ia tidak tahu siapa
yang benar atau salah, tidak tahu tentang emas, tidak tahu tentang kuasa. Ia
hanya tahu satu hal: dunia ini seharusnya tidak sekelam ini.
Dan
mungkin, di matanya yang kecil itu, langit mulai membuka mata sedikit demi
sedikit, seolah ingin mengingatkan bahwa di balik kehancuran, masih ada
kemungkinan bagi cahaya untuk lahir lagi, meski dari luka yang paling dalam.
Sebab
bahkan di negeri yang mengapung di antara luka, masih ada rahim harapan yang
belum sepenuhnya mati menunggu satu napas, satu doa, satu tangan yang berani
menyentuh tanah tanpa takut kotor, agar dunia sekali lagi bisa belajar menjadi
manusia.
Di
tengah segala reruntuhan itu, masih ada sehelai kain yang berkibar di udara; bendera
yang robek, warnanya pudar seperti kenangan yang terlalu lama digenggam.
Ujungnya compang-camping, sebagian terbakar oleh perang, sebagian lagi tercabik
oleh angin yang tak mengenal belas kasih. Namun tetap, ia dikibarkan.
Tangan-tangan kecil
yang kotor oleh debu menegakkannya kembali di atas tiang yang bengkok. Tak ada
musik, tak ada upacara, hanya sunyi yang melingkupi. Tapi di antara sunyi
itulah maknanya terasa paling nyaring: bahwa mereka belum sepenuhnya menyerah.
Bendera itu bukan lagi
lambang kemenangan, bukan pula kebanggaan. Ia kini menjadi tanda bahwa masih
ada jiwa yang bernafas, masih ada hati yang menolak padam. Robeknya adalah
luka, tapi juga bukti bahwa ia telah melewati badai. Setiap sobekannya
bercerita tentang ibu yang kehilangan anaknya, tentang rumah yang berubah jadi
puing, tentang doa yang menembus kabut asap dan sampai entah ke mana.
Saat angin bertiup,
bendera itu tak berkibar gagah seperti dulu, tapi bergetar pelan… seperti dada
yang masih menahan isak. Warnanya telah memudar, tapi di dalamnya masih tinggal
sedikit cahaya, seperti darah yang enggan berhenti mengalir meski tubuh sudah
kehabisan tenaga.
Orang-orang menatapnya
dengan mata yang basah, tak tahu apakah mereka sedang menangis karena sedih
atau karena haru. Mungkin keduanya. Sebab di tengah kehancuran, bendera itu
bukan sekadar kain, ia adalah ingatan bahwa sesuatu yang bernama “harapan”
masih hidup, meski setipis benang.
Bendera itu berkibar
di antara abu, debu, dan sisa-sisa langit yang kehilangan warna. Ia melambai
pada angin seolah berbicara, “Aku masih di sini.”
Dan setiap kali ia
bergerak, suara samar terdengar dari balik lipatan kainnya, seolah bumi sendiri
berbisik: bahwa kebanggaan sejati bukanlah milik yang menang, melainkan milik
mereka yang tetap berdiri, meski dunia di sekitarnya telah runtuh.
Dan mungkin, suatu
hari nanti, ketika langit belajar mencintai bumi lagi, dan manusia berhenti
menulis sejarah dengan darah, bendera itu akan dijahit kembali oleh
tangan-tangan yang dulu menegakkannya dalam air mata. Lalu ia akan berkibar
lagi bukan karena perang, tapi karena cinta yang akhirnya pulang.
Sayangnya hari yang
ditunggu tak juga tiba, air mata masih menggenangi sungai-sungai, dusta masih
mengalir pada lidah-lidah penguasa, dan darah belum berhenti tumpah bahkan pada
hari yang paling indah.
Waktu berjalan cepat,
tapi bukan menuju sembuh, ia justru menegakkan kekuasaan menjadi dewa yang
paling kuat di antara segala nilai kehidupan, termasuk nilai kemanusiaan itu
sendiri.
Janji tentang kemerdekaan
kini tinggal dalam pidato. Setiap kalimatnya bergema indah di udara, tapi jatuh
ke tanah dan mati sebelum sempat menyentuh akar. Kata-kata itu kini menjadi
ritual tahunan yang dihafalkan dengan suara lantang dan dada membusung,
sementara rakyat yang mendengarnya hanya menunduk, bukan karena hormat, tapi
karena lapar.
Di istana yang megah,
suara keadilan digantikan oleh tepuk tangan. Mereka bersulang di atas
penderitaan, menulis kisah tentang kemakmuran di atas kertas emas, lalu
menandatanganinya dengan tinta yang terbuat dari keringat orang kecil. Negeri
ini kini pandai berpura-pura: tersenyum di depan kamera, menangis di balik
layar.
Jalan-jalan penuh
baliho yang menjanjikan harapan, padahal di bawahnya, anak-anak masih menjual
waktu di lampu merah. Sekolah-sekolah berdiri megah, tapi ilmu disandera oleh
biaya. Rumah sakit tampak indah, tapi nyawa ditimbang seperti barang dagangan. Dan
para pemimpin yang dulu berjanji menjadi pelayan rakyat kini duduk di
singgasana yang lebih tinggi dari langit, menatap ke bawah hanya untuk
memastikan rakyatnya tetap tunduk.
Negeri ini kini pandai
mengenakan topeng: topeng kemajuan, topeng moral, topeng agama, topeng
nasionalisme yang disulam dengan benang kebohongan. Di baliknya, wajah aslinya
adalah luka dalam, menganga, dan berbau getir. Keadilan menjadi dongeng yang
hanya dibacakan di ruang sidang; hukum adalah permainan catur di mana
bidak-bidak kecil selalu dikorbankan agar raja tetap aman.
Dan ketika rakyat
bersuara, suaranya dianggap angin; ketika mereka diam, kesunyian mereka
dianggap tanda setuju. Maka negeri ini berjalan pincang, tapi masih menyebut
dirinya tegak. Ia kehilangan arah, tapi terus berteriak bahwa ia di jalan yang
benar.
Perlahan namun pasti manusia
mulai menjual nurani di pasar kekuasaan, menukarnya dengan kursi empuk dan
tepuk tangan palsu. Jabatan menjadi candu yang membuat mata mereka buta
terhadap nestapa, telinga mereka tuli terhadap jerit yang tak berirama. Mereka
yang dulu berbicara tentang kebenaran kini membungkamnya dengan amplop bersegel
merah, seolah kejujuran hanyalah barang antik yang pantas disimpan di museum
sejarah.
Di ruang rapat
berpendingin udara, keputusan tentang nasib bangsa dirumuskan dengan angka,
bukan dengan hati. Mereka menghitung penderitaan dalam statistik, bukan dalam
tangisan. Selembar dokumen bisa mengubah hidup ribuan orang, tapi yang mereka
pikirkan hanyalah berapa persen yang bisa diselamatkan untuk diri sendiri.
Maka negeri ini tumbuh
seperti pohon tanpa akar; rindang di permukaan, tapi rapuh di dalam. Akar
kejujuran telah digergaji oleh ambisi, dan batang moral ditebang untuk
membangun menara kekuasaan. Mereka memuja jabatan seperti berhala yang harus
disembah setiap pagi, dan demi menambah satu bintang di pundak, mereka rela
menumpahkan seribu air mata di jalan.
Rakyat menjadi sekadar
angka dalam pidato, nama dalam daftar bantuan yang tak pernah sampai. Sementara
mereka yang duduk di kursi tinggi menyebut diri “wakil rakyat”, padahal yang
mereka wakili hanyalah nafsu untuk berkuasa lebih lama.
Lalu
kebenaran dikubur dalam seremoni, diucapkan dalam dokumen-dokumen formal tapi
tak pernah benar-benar hidup di dada rakyat. Ia hanya dipakai untuk menutup
pidato, bukan untuk membuka mata. Segalanya menjadi rapi, sistematis,
berstempel resmi dan dari sanalah kebohongan memperoleh legitimasi
tertingginya.
Mereka menyebutnya
stabilitas, padahal itu hanya nama lain dari ketakutan. Mereka menulisnya dalam
pasal-pasal dan aturan, lalu menggunakannya untuk menghentikan suara yang
mencoba memanggil nurani. Suara kebenaran rakyat dilabeli upaya makar, suara
keadilan disebut pengkhianatan, dan setiap napas yang berbeda dianggap ancaman
terhadap “ketertiban”. Maka sunyi pun tumbuh di tanah air sendiri bukan karena
tak ada kata, tapi karena kata telah dipenjara.
Di ruang-ruang rapat,
mereka menandatangani kesepakatan yang berbau tinta dan tipu daya. Di luar
gedung, rakyat berdiri di bawah hujan, menatap langit yang tak lagi menjanjikan
perubahan. Di tangan mereka hanya ada keyakinan yang kian menipis, seperti
lembar uang yang tak lagi cukup untuk membeli harapan.
Negeri ini, perlahan,
menjadi teater yang megah tapi tanpa naskah moral. Pemerintahannya menampilkan
wajah senyum di layar kaca, sementara di balik tirai, keserakahan menulis
skenario baru tentang siapa yang harus diam, siapa yang boleh hidup, dan siapa
yang akan dikorbankan atas nama kemajuan.
Keadilan kehilangan
rumahnya. Ia kini berkeliaran seperti pengemis di jalan kekuasaan, mengetuk
setiap pintu lembaga tinggi yang sibuk mencatat perkara tanpa pernah menyentuh
hati. Setiap kali ia datang membawa bukti, ia diusir dengan alasan prosedur.
Setiap kali ia berteriak tentang luka, ia dibungkam dengan kata “stabilitas
nasional”.
Dan malam pun datang,
membawa cahaya yang tak lagi hangat, hanya menyinari betapa kosongnya negeri
yang dulu dibangun atas mimpi dan darah. Kini tinggal barisan nama di prasasti,
dihafal setiap upacara, tapi dilupakan dalam keputusan. Kebenaran sudah dikubur
dalam seremoni, dan di atas kubur itu, berdirilah mereka yang mengaku pahlawan sambil
menghitung berapa banyak tepuk tangan yang akan mereka dapatkan besok pagi.
Hingga pada akhirnya
demi tetap hidup, rakyat mulai belajar diam, berhenti menyuarakan kebenaran
bahkan ketika yang dipertaruhkan adalah hak hidup mereka sendiri. Mereka
belajar membaca arah angin, memilih menunduk sebelum badai datang. Karena di
negeri ini, keberanian sudah lama kehilangan tempatnya dan kejujuran, bila
diucapkan terlalu keras, bisa menjadi sebab kematian.
Kekuasaan menjelma
pedang yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menebas lidah-lidah kebenaran
dan memenggal keberanian rakyat yang dulu bernyanyi di jalan-jalan. Kini suara
mereka hanya bergema di dada sendiri, terperangkap di antara napas dan
ketakutan. Di pasar, di ladang, di kantor, semua orang tahu ada yang busuk di
puncak menara, tapi mereka pura-pura mencium wangi bunga agar tak dituduh
melawan.
Anak-anak tumbuh tanpa
tahu makna kata “adil”, karena yang mereka lihat hanyalah layar berita yang
selalu menampilkan wajah sama dengan kalimat yang serupa: “Demi kepentingan
bersama.” Padahal kepentingan itu tak pernah mencapai mereka, hanya berhenti di
meja rapat dan rekening pribadi. Mereka melihat ayahnya kehilangan pekerjaan
tanpa alasan, ibunya menahan air mata ketika harga naik dan janji turun seperti
hujan asam.
Rakyat pun berubah
menjadi bayang-bayang. Mereka hidup, tapi tak benar-benar ada. Mereka bekerja,
tapi hasilnya disedot oleh mesin-mesin besar yang diberi nama program
pembangunan. Mereka menyumbang suara, tapi suaranya disamarkan oleh data,
dimanipulasi menjadi angka yang indah di laporan tahunan.
Negeri ini kini tampak
tenang, tapi itu ketenangan yang mencekik. Seperti danau yang tenang karena tak
ada lagi ikan yang berani berenang di dalamnya. Seperti malam yang sunyi karena
semua bintang telah jatuh dan padam.
Dan di tengah
keheningan yang panjang itu, kebenaran masih berbaring di kuburnya. Tak ada
yang berani menziarahinya lagi, karena setiap langkah mendekat bisa dianggap
makar.
Namun kadang, pada
malam tertentu, jika kau berjalan cukup jauh ke arah suara hati, kau akan
mendengar sesuatu; lirih, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan dari tanah yang
lembab: bahwa diam tak selamanya berarti tunduk, kadang hanya cara rakyat
menunggu waktu untuk hidup kembali sebagai manusia yang utuh.
%20Bagian%202.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar