Cari Blog Ini

Kamis, 01 Januari 2026

Cinta di Tengah Revolusi

 


Ada seseorang yang masih mencintai negerinya. Bukan dengan bendera di tangan, bukan dengan teriakan di jalan, tapi dengan doa yang dibisikkan pelan di antara hembusan malam. Ia tahu, di masa ini mencintai terlalu terang bisa dianggap ancaman. Bahkan berdoa terlalu keras bisa dituduh sebagai bentuk perlawanan. Maka ia mencintai dalam diam, seperti akar yang tetap bekerja meski tak terlihat, seperti hujan yang jatuh perlahan agar tak menakuti tanah.

Setiap pagi ia menatap langit yang pucat dan berbisik, “Semoga hari ini negeri ini sedikit lebih jujur.” Tidak banyak yang tahu bahwa dalam setiap langkah kecilnya, ia sedang menahan luka besar yang tak sempat disembuhkan sejarah. Ia bukan pahlawan, bukan juga penjahat. Ia hanya manusia yang menolak berhenti percaya meski semua alasan untuk percaya telah dicuri oleh waktu.

Ia mencintai negerinya seperti seseorang mencintai kekasih yang telah berkhianat: dengan air mata yang tetap hangat, dengan dada yang tetap terbuka, meski tahu pelukan itu tak akan pernah kembali. Ia menanam bunga di tanah yang retak, meski tahu mungkin tak akan sempat melihatnya mekar. Karena baginya, mencintai bukan tentang memiliki, tapi tentang menjaga yang dicintai agar tak sepenuhnya binasa.

Kadang ia berdiri di tengah keramaian, menyaksikan wajah-wajah yang menua oleh kecewa, dan hatinya bergetar. Di matanya, rakyat bukan sekadar rakyat; mereka adalah bait-bait puisi yang ditulis Tuhan dengan huruf luka dan tinta ketabahan. Ia tahu, bangsa ini sakit, tapi ia juga tahu: bahkan tubuh yang lemah masih bisa berjuang untuk hidup.

Malam-malamnya diisi dengan doa yang ia sembunyikan di balik jendela. Doa agar mereka yang berkuasa mengingat kembali makna melayani. Doa agar bumi tempatnya berpijak berhenti menelan darah yang tak bersalah. Doa agar nurani yang hampir padam itu menemukan bara kecil untuk menyala lagi. Ia tidak berteriak, tidak memukul meja, tapi setiap tetes air matanya adalah bentuk paling sunyi dari revolusi.

Cintanya tidak tercatat dalam buku sejarah. Namanya tidak diabadikan dalam monumen atau lagu perjuangan. Tapi cinta seperti itulah yang membuat dunia tidak sepenuhnya runtuh. Cinta yang lembut, diam, tapi mengguncang. Cinta yang menolak mati, meski semua yang hidup di sekitarnya telah menyerah.

Dan mungkin di tengah segala kebisingan dusta dan kebanggaan palsu Tuhan lebih mendengar doa orang seperti dia. Yang tidak berkuasa, tidak terkenal, tapi tetap memilih mencintai tanah airnya dengan cara yang paling murni: dengan kesetiaan yang tak bersuara, dengan keyakinan bahwa kebenaran, meski disembunyikan, akan selalu menemukan jalannya pulang.

Lalu pada tengah malam yang sunyi ia mulai memberanikan diri menulis surat cinta untuk keadilan meski harus dengan air mata sebagai tintanya, kemiskinan sebagai kertasnya dan darah sebagai stempelnya sekalipun pada akhirnya surat-surat itu hanya melayang di udara kekuasaan tanpa pernah sampai di atas wajah kebenaran atau di meja keadilan yang kini telah digadaikan pada ruang-ruang kekuasaan.

Ia menulis dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena hatinya terlalu penuh oleh sesuatu yang tak bisa lagi ia tahan. Kata-kata mengalir pelan, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah denyut terakhir dari nurani yang mencoba bertahan di dunia yang kian asing bagi kebenaran.

“Untukmu, keadilan,” tulisnya di baris pertama, “yang dulu kukenal sebagai cahaya, tapi kini hanya tampak seperti bayangan panjang dari lampu-lampu palsu di gedung tinggi.”

Setiap kalimatnya terasa seperti doa yang patah di tenggorokan. Ia menulis tentang anak-anak yang tertidur dalam lapar, tentang ibu-ibu yang berdoa tanpa suara, tentang ayah yang kehilangan tanah, tentang saudara yang kehilangan nama. Ia menulis tentang manusia yang kini dihitung bukan dari jantungnya, tapi dari berapa banyak yang sanggup ia bayar.

Ia tahu surat itu tak akan pernah dibaca oleh mereka yang duduk di singgasana, tapi ia tetap menulis karena cinta, bagi dirinya, bukan soal didengar, melainkan soal tetap percaya. Ia percaya bahwa di antara debu-debu jalan dan reruntuhan nurani, masih ada seseorang yang diam-diam menunggu surat seperti itu.

Setiap kalimatnya adalah luka yang disulam menjadi harapan. Setiap titiknya adalah perhentian dari napas yang hampir padam. Ia menulis dengan keyakinan bahwa mungkin suatu hari nanti, angin akan membawa surat-surat itu ke tangan yang tepat: tangan yang masih bergetar saat melihat ketidakadilan, tangan yang masih tahu bagaimana rasanya memegang hati sendiri tanpa menukarnya dengan kekuasaan.

Ia menulis bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk menjadi pengingat. Bahwa cinta sejati tak selalu tentang memeluk, kadang tentang menegur. Bahwa mencintai tanah air bukan hanya tentang bendera dan lagu, tapi tentang keberanian untuk menangis demi manusia yang tak pernah dikenal namanya.

Dan ketika fajar mulai menyingkap langit yang abu-abu, ia melipat suratnya dengan hati-hati, meniupkan doa terakhir sebelum melepaskannya pada angin.

Barangkali surat itu akan jatuh di jalanan yang kotor, atau tersangkut di dinding istana, atau terbakar di tangan penjaga. Tapi ia tahu, setiap huruf yang ia tulis akan tetap hidup di udara, menyusup ke paru-paru siapa pun yang masih percaya bahwa keadilan bukan milik penguasa, melainkan milik hati yang berani mencintai tanpa pamrih.

Malam itu, ia tak lagi menangis. Karena di dalam dirinya, cinta dan luka akhirnya bersatu menjadi satu hal yang tak bisa dimusnahkan: kesetiaan pada kebenaran, meski seluruh dunia memilih untuk memalingkan wajah.

Maka demikianlah kasih yang terlahir dari penderitaan, tercipta dari air mata namun tetap bisa mencintai, diam-diam meniupkan doa agar suatu hari nanti setiap harapan terwujud, setiap kebenaran menemukan tempatnya bersuara dan setiap keadilan mendapatkan tempatnya untuk berani berperang melawan kekuasaan.

Kasih semacam itu tidak tumbuh dari tawa atau kebahagiaan, melainkan dari luka yang terus menetes perlahan di dada yang tak pernah sempat sembuh. Ia lahir di antara reruntuhan nurani dan nyala kecil yang bertahan di bawah timbunan dusta. Ia tak menuntut balas, hanya ingin bertahan agar dunia tak sepenuhnya beku.

Kasih itu tak mengenakan pakaian indah. Ia berjalan dengan kaki telanjang di jalan penuh duri, tapi tetap menunduk pada bumi, mencium debunya, mencintainya, meski bumi itu kini diwarnai darah dan kebohongan. Ia tahu bahwa tanah air bukan selalu tempat yang membahagiakan; kadang, ia adalah luka yang harus kau peluk agar tak membusuk.

Dari kasih yang lahir dalam penderitaan, manusia belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki, tapi menjaga agar kebaikan tak punah. Bahwa memperjuangkan kebenaran bukan karena ingin menang, tapi karena tak sanggup melihat yang lemah terus ditindas.

Kasih seperti itu tidak bersuara lantang di podium, tidak memiliki panggung, tidak memerlukan tepuk tangan. Ia hidup dalam tindakan kecil yang sering tak dilihat siapa pun; dalam tangan yang membagi roti terakhirnya, dalam langkah yang tetap menolong meski dunia memunggunginya, dalam doa yang tak disebutkan namanya di catatan sejarah.

Ia mencintai bukan karena berharap negeri ini akan berubah esok, tapi karena tahu bahwa jika tak ada yang mencintai dalam diam, negeri ini akan mati tanpa pernah sempat ditebus.

Maka kasih itu terus bernafas dalam sunyi. Ia seperti embun yang jatuh di atas luka bumi, menenangkan meski tak menyembuhkan sepenuhnya. Ia seperti cahaya tipis di antara kabut kelam, rapuh namun cukup untuk menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat.

Dan mungkin, hanya kasih semacam itu yang mampu melawan kekuasaan: bukan dengan senjata, tapi dengan kesetiaan. Bukan dengan teriakan, tapi dengan keberanian untuk tetap lembut di dunia yang keras.

Karena pada akhirnya, yang akan menyalakan kembali cahaya bukanlah kemarahan, melainkan kasih yang menolak padam, kasih yang lahir dari penderitaan, tapi menolak menjadi kebencian. Kasih yang mengingatkan kita bahwa di antara reruntuhan, manusia masih punya satu hal yang tak bisa dirampas: hati yang masih berani mencintai, bahkan pada dunia yang telah melupakannya.

Demikianlah cinta diam-diam menjadi perlawanan, bukan dengan senjata yang dilepaskan, teriakan yang diperdengarkan, atau caci maki yang dilontarkan dan melahirkan amarah-amarah baru yang membangunkan kebencian, kekacauan, dan terkadang dimanipulasi hingga tujuan sebuah kebenaran, perjuangan keadilan tak sepenuhnya mencapai tempatnya tapi hanya muncul dalam wujud kerusuhan yang tak sepenuhnya melahirkan apa yang menjadi tujuan perjuangan itu sendiri.

Cinta semacam itu bergerak lembut, seperti angin yang menyingkap tirai kegelapan tanpa menumbangkan rumah. Ia hadir dalam bisikan yang tidak terdengar, dalam tindakan kecil yang dianggap remeh, namun menggetarkan pondasi kekuasaan yang sombong. Ia menolak menyerah pada aturan yang menindas, tapi juga menolak membiarkan diri berubah menjadi kebencian.

Orang-orang yang mencintai seperti ini berjalan di antara reruntuhan, menatap mata yang kosong, menyentuh tangan yang dingin, dan tetap menaburkan keberanian di atas tanah yang beku. Mereka menulis di dinding sunyi, menanam benih keadilan di celah beton, menyulam kata-kata kebenaran di udara agar suatu hari, meski tidak mereka saksikan, generasi yang datang bisa membaca jejaknya.

Perlawanan mereka tak mengumbar darah, tapi memantik cahaya; tak menginginkan pujian, tapi menumbuhkan keberanian. Setiap tindakan yang terlihat sepele; mengumpulkan makanan untuk yang lapar, menolong anak yang tersesat, membela yang tak bersuara adalah ketukan kecil yang perlahan memecah kaca-kaca ketidakadilan.

Cinta diam-diam menjadi perlawanan karena ia tahu: kekuasaan bisa menaklukkan tubuh, tapi tidak bisa menundukkan nurani yang mencintai kebenaran. Ia tidak berteriak agar didengar, tetapi ia berbisik agar diingat. Ia tidak menuntut balas, karena keadilan yang sejati tidak meminta, ia hadir di mana pun ada hati yang masih berani.

Dan meski dunia kadang menolak melihatnya, meski kekuasaan mencoba menghapus setiap jejak, cinta itu tetap ada mengalir di antara celah-celah kota, merayap di antara reruntuhan hati manusia, menunggu saatnya untuk membangkitkan kembali keberanian yang pernah mati.

Perlawanan yang lahir dari cinta diam-diam ini bukan sekadar melawan yang nyata, tapi juga melawan yang tak terlihat: ketakutan, kepasrahan, dan lupa akan kemanusiaan sendiri. Dan dalam diamnya, ia mengguncang lebih keras daripada seribu teriakan, lebih tajam daripada ribuan pedang, karena ia lahir dari sesuatu yang tak bisa dicuri: hati yang mencintai, meski seluruh dunia menutup telinga.

            Dan diantara puing-puing harapan yang remuk, ia masih menunggu. Bukan menunggu kemenangan yang gemilang, bukan menunggu tepuk tangan atau sorak sorai yang meneguhkan, tapi menunggu saat di mana keadilan bisa kembali bernapas, di mana kebenaran tak lagi tersandera oleh nafsu kekuasaan, dan di mana manusia belajar menatap satu sama lain dengan mata yang tidak dibutakan oleh ambisi.

Ia duduk di atas reruntuhan, dengan dada yang lelah tapi hati yang tak menyerah. Debu menempel di rambutnya, luka masih membekas di kulit, tapi jiwanya berpendar lembut, seperti sisa cahaya di langit senja yang enggan padam. Dalam sunyinya, ia menaburkan doa seperti biji-biji kecil: agar negeri ini kembali memiliki nurani, agar cinta yang lahir dari penderitaan menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat.

Di sekelilingnya, dunia bisa saja tetap kacau, gelap, penuh kepalsuan, tapi ia tetap menunggu. Karena ia tahu, menunggu bukan berarti pasif. Menunggu adalah tindakan paling berani ketika semua orang menyerah pada keputusasaan; menunggu adalah perlawanan yang paling lembut, paling mengguncang, karena hadir tanpa teriakan tapi tetap menegaskan keberadaan nurani.

Kadang angin membawa debu dan sisa-sisa harapan yang patah menampar wajahnya, tapi ia menatap langit dan tersenyum. Setiap puing yang jatuh di bumi adalah saksi bahwa meski dunia bisa runtuh, cinta yang tulus tetap hidup di antara reruntuhan itu.

Dan di sana, di antara puing-puing harapan yang terserak, ia tetap berdiri; diam, lembut, namun mengguncang. Menunggu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua yang pernah terluka, semua yang pernah lupa cara mencintai, dan semua yang pernah kehilangan keberanian untuk percaya.

Karena pada akhirnya, meski dunia tampak hancur, cinta yang lahir dari kesedihan, dari kesetiaan, dari keikhlasan… adalah sesuatu yang tak bisa dihancurkan. Ia menunggu, dan melalui menunggunya itu, ia mengajarkan bahwa masih ada jalan untuk kembali pulang; kepada kemanusiaan, kepada kebenaran, dan kepada tanah air yang meski terluka, tetap layak dicintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nurani Yang Dibuang Ke Udara

  Waktu terus berjalan, dunia terus berputar, dan musim silih berganti tanpa henti. Di tengah perjalanan panjang itu, nurani perlahan memuda...