Ada seseorang yang
masih mencintai negerinya. Bukan dengan bendera di tangan, bukan dengan
teriakan di jalan, tapi dengan doa yang dibisikkan pelan di antara hembusan
malam. Ia tahu, di masa ini mencintai terlalu terang bisa dianggap ancaman.
Bahkan berdoa terlalu keras bisa dituduh sebagai bentuk perlawanan. Maka ia
mencintai dalam diam, seperti akar yang tetap bekerja meski tak terlihat,
seperti hujan yang jatuh perlahan agar tak menakuti tanah.
Setiap pagi ia menatap
langit yang pucat dan berbisik, “Semoga hari ini negeri ini sedikit lebih
jujur.” Tidak banyak yang tahu bahwa dalam setiap langkah kecilnya, ia sedang
menahan luka besar yang tak sempat disembuhkan sejarah. Ia bukan pahlawan,
bukan juga penjahat. Ia hanya manusia yang menolak berhenti percaya meski semua
alasan untuk percaya telah dicuri oleh waktu.
Ia mencintai negerinya
seperti seseorang mencintai kekasih yang telah berkhianat: dengan air mata yang
tetap hangat, dengan dada yang tetap terbuka, meski tahu pelukan itu tak akan
pernah kembali. Ia menanam bunga di tanah yang retak, meski tahu mungkin tak akan
sempat melihatnya mekar. Karena baginya, mencintai bukan tentang memiliki, tapi
tentang menjaga yang dicintai agar tak sepenuhnya binasa.
Kadang ia berdiri di
tengah keramaian, menyaksikan wajah-wajah yang menua oleh kecewa, dan hatinya
bergetar. Di matanya, rakyat bukan sekadar rakyat; mereka adalah bait-bait
puisi yang ditulis Tuhan dengan huruf luka dan tinta ketabahan. Ia tahu, bangsa
ini sakit, tapi ia juga tahu: bahkan tubuh yang lemah masih bisa berjuang untuk
hidup.
Malam-malamnya diisi
dengan doa yang ia sembunyikan di balik jendela. Doa agar mereka yang berkuasa
mengingat kembali makna melayani. Doa agar bumi tempatnya berpijak berhenti
menelan darah yang tak bersalah. Doa agar nurani yang hampir padam itu
menemukan bara kecil untuk menyala lagi. Ia tidak berteriak, tidak memukul
meja, tapi setiap tetes air matanya adalah bentuk paling sunyi dari revolusi.
Cintanya tidak
tercatat dalam buku sejarah. Namanya tidak diabadikan dalam monumen atau lagu
perjuangan. Tapi cinta seperti itulah yang membuat dunia tidak sepenuhnya
runtuh. Cinta yang lembut, diam, tapi mengguncang. Cinta yang menolak mati,
meski semua yang hidup di sekitarnya telah menyerah.
Dan mungkin di tengah
segala kebisingan dusta dan kebanggaan palsu Tuhan lebih mendengar doa orang seperti
dia. Yang tidak berkuasa, tidak terkenal, tapi tetap memilih mencintai tanah
airnya dengan cara yang paling murni: dengan kesetiaan yang tak bersuara,
dengan keyakinan bahwa kebenaran, meski disembunyikan, akan selalu menemukan
jalannya pulang.
Lalu pada tengah malam
yang sunyi ia mulai memberanikan diri menulis surat cinta untuk keadilan meski
harus dengan air mata sebagai tintanya, kemiskinan sebagai kertasnya dan darah
sebagai stempelnya sekalipun pada akhirnya surat-surat itu hanya melayang di udara
kekuasaan tanpa pernah sampai di atas wajah kebenaran atau di meja keadilan
yang kini telah digadaikan pada ruang-ruang kekuasaan.
Ia menulis dengan
tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena hatinya terlalu penuh oleh
sesuatu yang tak bisa lagi ia tahan. Kata-kata mengalir pelan, seolah setiap
huruf yang ia tulis adalah denyut terakhir dari nurani yang mencoba bertahan di
dunia yang kian asing bagi kebenaran.
“Untukmu, keadilan,”
tulisnya di baris pertama, “yang dulu kukenal sebagai cahaya, tapi kini hanya
tampak seperti bayangan panjang dari lampu-lampu palsu di gedung tinggi.”
Setiap kalimatnya
terasa seperti doa yang patah di tenggorokan. Ia menulis tentang anak-anak yang
tertidur dalam lapar, tentang ibu-ibu yang berdoa tanpa suara, tentang ayah
yang kehilangan tanah, tentang saudara yang kehilangan nama. Ia menulis tentang
manusia yang kini dihitung bukan dari jantungnya, tapi dari berapa banyak yang
sanggup ia bayar.
Ia tahu surat itu tak
akan pernah dibaca oleh mereka yang duduk di singgasana, tapi ia tetap menulis karena
cinta, bagi dirinya, bukan soal didengar, melainkan soal tetap percaya. Ia
percaya bahwa di antara debu-debu jalan dan reruntuhan nurani, masih ada
seseorang yang diam-diam menunggu surat seperti itu.
Setiap kalimatnya
adalah luka yang disulam menjadi harapan. Setiap titiknya adalah perhentian
dari napas yang hampir padam. Ia menulis dengan keyakinan bahwa mungkin suatu
hari nanti, angin akan membawa surat-surat itu ke tangan yang tepat: tangan
yang masih bergetar saat melihat ketidakadilan, tangan yang masih tahu
bagaimana rasanya memegang hati sendiri tanpa menukarnya dengan kekuasaan.
Ia menulis bukan untuk
menjadi pahlawan, tapi untuk menjadi pengingat. Bahwa cinta sejati tak selalu
tentang memeluk, kadang tentang menegur. Bahwa mencintai tanah air bukan hanya
tentang bendera dan lagu, tapi tentang keberanian untuk menangis demi manusia
yang tak pernah dikenal namanya.
Dan ketika fajar mulai
menyingkap langit yang abu-abu, ia melipat suratnya dengan hati-hati, meniupkan
doa terakhir sebelum melepaskannya pada angin.
Barangkali surat itu
akan jatuh di jalanan yang kotor, atau tersangkut di dinding istana, atau
terbakar di tangan penjaga. Tapi ia tahu, setiap huruf yang ia tulis akan tetap
hidup di udara, menyusup ke paru-paru siapa pun yang masih percaya bahwa
keadilan bukan milik penguasa, melainkan milik hati yang berani mencintai tanpa
pamrih.
Malam itu, ia tak lagi
menangis. Karena di dalam dirinya, cinta dan luka akhirnya bersatu menjadi satu
hal yang tak bisa dimusnahkan: kesetiaan pada kebenaran, meski seluruh dunia
memilih untuk memalingkan wajah.
Maka demikianlah kasih
yang terlahir dari penderitaan, tercipta dari air mata namun tetap bisa
mencintai, diam-diam meniupkan doa agar suatu hari nanti setiap harapan
terwujud, setiap kebenaran menemukan tempatnya bersuara dan setiap keadilan
mendapatkan tempatnya untuk berani berperang melawan kekuasaan.
Kasih semacam itu
tidak tumbuh dari tawa atau kebahagiaan, melainkan dari luka yang terus menetes
perlahan di dada yang tak pernah sempat sembuh. Ia lahir di antara reruntuhan
nurani dan nyala kecil yang bertahan di bawah timbunan dusta. Ia tak menuntut
balas, hanya ingin bertahan agar dunia tak sepenuhnya beku.
Kasih itu tak
mengenakan pakaian indah. Ia berjalan dengan kaki telanjang di jalan penuh
duri, tapi tetap menunduk pada bumi, mencium debunya, mencintainya, meski bumi
itu kini diwarnai darah dan kebohongan. Ia tahu bahwa tanah air bukan selalu
tempat yang membahagiakan; kadang, ia adalah luka yang harus kau peluk agar tak
membusuk.
Dari kasih yang lahir
dalam penderitaan, manusia belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki,
tapi menjaga agar kebaikan tak punah. Bahwa memperjuangkan kebenaran bukan
karena ingin menang, tapi karena tak sanggup melihat yang lemah terus ditindas.
Kasih seperti itu
tidak bersuara lantang di podium, tidak memiliki panggung, tidak memerlukan
tepuk tangan. Ia hidup dalam tindakan kecil yang sering tak dilihat siapa pun; dalam
tangan yang membagi roti terakhirnya, dalam langkah yang tetap menolong meski
dunia memunggunginya, dalam doa yang tak disebutkan namanya di catatan sejarah.
Ia mencintai bukan
karena berharap negeri ini akan berubah esok, tapi karena tahu bahwa jika tak
ada yang mencintai dalam diam, negeri ini akan mati tanpa pernah sempat
ditebus.
Maka kasih itu terus
bernafas dalam sunyi. Ia seperti embun yang jatuh di atas luka bumi,
menenangkan meski tak menyembuhkan sepenuhnya. Ia seperti cahaya tipis di
antara kabut kelam, rapuh namun cukup untuk menunjukkan arah bagi mereka yang
tersesat.
Dan mungkin, hanya
kasih semacam itu yang mampu melawan kekuasaan: bukan dengan senjata, tapi
dengan kesetiaan. Bukan dengan teriakan, tapi dengan keberanian untuk tetap
lembut di dunia yang keras.
Karena pada akhirnya,
yang akan menyalakan kembali cahaya bukanlah kemarahan, melainkan kasih yang
menolak padam, kasih yang lahir dari penderitaan, tapi menolak menjadi
kebencian. Kasih yang mengingatkan kita bahwa di antara reruntuhan, manusia
masih punya satu hal yang tak bisa dirampas: hati yang masih berani mencintai,
bahkan pada dunia yang telah melupakannya.
Demikianlah
cinta diam-diam menjadi perlawanan, bukan dengan senjata yang dilepaskan,
teriakan yang diperdengarkan, atau caci maki yang dilontarkan dan melahirkan
amarah-amarah baru yang membangunkan kebencian, kekacauan, dan terkadang
dimanipulasi hingga tujuan sebuah kebenaran, perjuangan keadilan tak sepenuhnya
mencapai tempatnya tapi hanya muncul dalam wujud kerusuhan yang tak sepenuhnya
melahirkan apa yang menjadi tujuan perjuangan itu sendiri.
Cinta
semacam itu bergerak lembut, seperti angin yang menyingkap tirai kegelapan
tanpa menumbangkan rumah. Ia hadir dalam bisikan yang tidak terdengar, dalam
tindakan kecil yang dianggap remeh, namun menggetarkan pondasi kekuasaan yang
sombong. Ia menolak menyerah pada aturan yang menindas, tapi juga menolak
membiarkan diri berubah menjadi kebencian.
Orang-orang
yang mencintai seperti ini berjalan di antara reruntuhan, menatap mata yang
kosong, menyentuh tangan yang dingin, dan tetap menaburkan keberanian di atas
tanah yang beku. Mereka menulis di dinding sunyi, menanam benih keadilan di
celah beton, menyulam kata-kata kebenaran di udara agar suatu hari, meski tidak
mereka saksikan, generasi yang datang bisa membaca jejaknya.
Perlawanan
mereka tak mengumbar darah, tapi memantik cahaya; tak menginginkan pujian, tapi
menumbuhkan keberanian. Setiap tindakan yang terlihat sepele; mengumpulkan
makanan untuk yang lapar, menolong anak yang tersesat, membela yang tak
bersuara adalah ketukan kecil yang perlahan memecah kaca-kaca ketidakadilan.
Cinta
diam-diam menjadi perlawanan karena ia tahu: kekuasaan bisa menaklukkan tubuh,
tapi tidak bisa menundukkan nurani yang mencintai kebenaran. Ia tidak berteriak
agar didengar, tetapi ia berbisik agar diingat. Ia tidak menuntut balas, karena
keadilan yang sejati tidak meminta, ia hadir di mana pun ada hati yang masih
berani.
Dan
meski dunia kadang menolak melihatnya, meski kekuasaan mencoba menghapus setiap
jejak, cinta itu tetap ada mengalir di antara celah-celah kota, merayap di
antara reruntuhan hati manusia, menunggu saatnya untuk membangkitkan kembali
keberanian yang pernah mati.
Perlawanan
yang lahir dari cinta diam-diam ini bukan sekadar melawan yang nyata, tapi juga
melawan yang tak terlihat: ketakutan, kepasrahan, dan lupa akan kemanusiaan
sendiri. Dan dalam diamnya, ia mengguncang lebih keras daripada seribu
teriakan, lebih tajam daripada ribuan pedang, karena ia lahir dari sesuatu yang
tak bisa dicuri: hati yang mencintai, meski seluruh dunia menutup telinga.
Dan
diantara puing-puing harapan yang remuk, ia masih menunggu. Bukan menunggu
kemenangan yang gemilang, bukan menunggu tepuk tangan atau sorak sorai yang
meneguhkan, tapi menunggu saat di mana keadilan bisa kembali bernapas, di mana
kebenaran tak lagi tersandera oleh nafsu kekuasaan, dan di mana manusia belajar
menatap satu sama lain dengan mata yang tidak dibutakan oleh ambisi.
Ia duduk di atas
reruntuhan, dengan dada yang lelah tapi hati yang tak menyerah. Debu menempel
di rambutnya, luka masih membekas di kulit, tapi jiwanya berpendar lembut,
seperti sisa cahaya di langit senja yang enggan padam. Dalam sunyinya, ia
menaburkan doa seperti biji-biji kecil: agar negeri ini kembali memiliki
nurani, agar cinta yang lahir dari penderitaan menjadi cahaya bagi mereka yang
tersesat.
Di sekelilingnya,
dunia bisa saja tetap kacau, gelap, penuh kepalsuan, tapi ia tetap menunggu.
Karena ia tahu, menunggu bukan berarti pasif. Menunggu adalah tindakan paling
berani ketika semua orang menyerah pada keputusasaan; menunggu adalah
perlawanan yang paling lembut, paling mengguncang, karena hadir tanpa teriakan
tapi tetap menegaskan keberadaan nurani.
Kadang angin membawa
debu dan sisa-sisa harapan yang patah menampar wajahnya, tapi ia menatap langit
dan tersenyum. Setiap puing yang jatuh di bumi adalah saksi bahwa meski dunia
bisa runtuh, cinta yang tulus tetap hidup di antara reruntuhan itu.
Dan di sana, di antara
puing-puing harapan yang terserak, ia tetap berdiri; diam, lembut, namun
mengguncang. Menunggu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua yang pernah
terluka, semua yang pernah lupa cara mencintai, dan semua yang pernah
kehilangan keberanian untuk percaya.
Karena pada akhirnya,
meski dunia tampak hancur, cinta yang lahir dari kesedihan, dari kesetiaan,
dari keikhlasan… adalah sesuatu yang tak bisa dihancurkan. Ia menunggu, dan
melalui menunggunya itu, ia mengajarkan bahwa masih ada jalan untuk kembali
pulang; kepada kemanusiaan, kepada kebenaran, dan kepada tanah air yang meski
terluka, tetap layak dicintai.
%20Bagian%203.jpg)
%20Bagian%202.jpg)
.jpg)







