Cari Blog Ini

Kamis, 01 Januari 2026

Cinta di Tengah Revolusi

 


Ada seseorang yang masih mencintai negerinya. Bukan dengan bendera di tangan, bukan dengan teriakan di jalan, tapi dengan doa yang dibisikkan pelan di antara hembusan malam. Ia tahu, di masa ini mencintai terlalu terang bisa dianggap ancaman. Bahkan berdoa terlalu keras bisa dituduh sebagai bentuk perlawanan. Maka ia mencintai dalam diam, seperti akar yang tetap bekerja meski tak terlihat, seperti hujan yang jatuh perlahan agar tak menakuti tanah.

Setiap pagi ia menatap langit yang pucat dan berbisik, “Semoga hari ini negeri ini sedikit lebih jujur.” Tidak banyak yang tahu bahwa dalam setiap langkah kecilnya, ia sedang menahan luka besar yang tak sempat disembuhkan sejarah. Ia bukan pahlawan, bukan juga penjahat. Ia hanya manusia yang menolak berhenti percaya meski semua alasan untuk percaya telah dicuri oleh waktu.

Ia mencintai negerinya seperti seseorang mencintai kekasih yang telah berkhianat: dengan air mata yang tetap hangat, dengan dada yang tetap terbuka, meski tahu pelukan itu tak akan pernah kembali. Ia menanam bunga di tanah yang retak, meski tahu mungkin tak akan sempat melihatnya mekar. Karena baginya, mencintai bukan tentang memiliki, tapi tentang menjaga yang dicintai agar tak sepenuhnya binasa.

Kadang ia berdiri di tengah keramaian, menyaksikan wajah-wajah yang menua oleh kecewa, dan hatinya bergetar. Di matanya, rakyat bukan sekadar rakyat; mereka adalah bait-bait puisi yang ditulis Tuhan dengan huruf luka dan tinta ketabahan. Ia tahu, bangsa ini sakit, tapi ia juga tahu: bahkan tubuh yang lemah masih bisa berjuang untuk hidup.

Malam-malamnya diisi dengan doa yang ia sembunyikan di balik jendela. Doa agar mereka yang berkuasa mengingat kembali makna melayani. Doa agar bumi tempatnya berpijak berhenti menelan darah yang tak bersalah. Doa agar nurani yang hampir padam itu menemukan bara kecil untuk menyala lagi. Ia tidak berteriak, tidak memukul meja, tapi setiap tetes air matanya adalah bentuk paling sunyi dari revolusi.

Cintanya tidak tercatat dalam buku sejarah. Namanya tidak diabadikan dalam monumen atau lagu perjuangan. Tapi cinta seperti itulah yang membuat dunia tidak sepenuhnya runtuh. Cinta yang lembut, diam, tapi mengguncang. Cinta yang menolak mati, meski semua yang hidup di sekitarnya telah menyerah.

Dan mungkin di tengah segala kebisingan dusta dan kebanggaan palsu Tuhan lebih mendengar doa orang seperti dia. Yang tidak berkuasa, tidak terkenal, tapi tetap memilih mencintai tanah airnya dengan cara yang paling murni: dengan kesetiaan yang tak bersuara, dengan keyakinan bahwa kebenaran, meski disembunyikan, akan selalu menemukan jalannya pulang.

Lalu pada tengah malam yang sunyi ia mulai memberanikan diri menulis surat cinta untuk keadilan meski harus dengan air mata sebagai tintanya, kemiskinan sebagai kertasnya dan darah sebagai stempelnya sekalipun pada akhirnya surat-surat itu hanya melayang di udara kekuasaan tanpa pernah sampai di atas wajah kebenaran atau di meja keadilan yang kini telah digadaikan pada ruang-ruang kekuasaan.

Ia menulis dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena hatinya terlalu penuh oleh sesuatu yang tak bisa lagi ia tahan. Kata-kata mengalir pelan, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah denyut terakhir dari nurani yang mencoba bertahan di dunia yang kian asing bagi kebenaran.

“Untukmu, keadilan,” tulisnya di baris pertama, “yang dulu kukenal sebagai cahaya, tapi kini hanya tampak seperti bayangan panjang dari lampu-lampu palsu di gedung tinggi.”

Setiap kalimatnya terasa seperti doa yang patah di tenggorokan. Ia menulis tentang anak-anak yang tertidur dalam lapar, tentang ibu-ibu yang berdoa tanpa suara, tentang ayah yang kehilangan tanah, tentang saudara yang kehilangan nama. Ia menulis tentang manusia yang kini dihitung bukan dari jantungnya, tapi dari berapa banyak yang sanggup ia bayar.

Ia tahu surat itu tak akan pernah dibaca oleh mereka yang duduk di singgasana, tapi ia tetap menulis karena cinta, bagi dirinya, bukan soal didengar, melainkan soal tetap percaya. Ia percaya bahwa di antara debu-debu jalan dan reruntuhan nurani, masih ada seseorang yang diam-diam menunggu surat seperti itu.

Setiap kalimatnya adalah luka yang disulam menjadi harapan. Setiap titiknya adalah perhentian dari napas yang hampir padam. Ia menulis dengan keyakinan bahwa mungkin suatu hari nanti, angin akan membawa surat-surat itu ke tangan yang tepat: tangan yang masih bergetar saat melihat ketidakadilan, tangan yang masih tahu bagaimana rasanya memegang hati sendiri tanpa menukarnya dengan kekuasaan.

Ia menulis bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk menjadi pengingat. Bahwa cinta sejati tak selalu tentang memeluk, kadang tentang menegur. Bahwa mencintai tanah air bukan hanya tentang bendera dan lagu, tapi tentang keberanian untuk menangis demi manusia yang tak pernah dikenal namanya.

Dan ketika fajar mulai menyingkap langit yang abu-abu, ia melipat suratnya dengan hati-hati, meniupkan doa terakhir sebelum melepaskannya pada angin.

Barangkali surat itu akan jatuh di jalanan yang kotor, atau tersangkut di dinding istana, atau terbakar di tangan penjaga. Tapi ia tahu, setiap huruf yang ia tulis akan tetap hidup di udara, menyusup ke paru-paru siapa pun yang masih percaya bahwa keadilan bukan milik penguasa, melainkan milik hati yang berani mencintai tanpa pamrih.

Malam itu, ia tak lagi menangis. Karena di dalam dirinya, cinta dan luka akhirnya bersatu menjadi satu hal yang tak bisa dimusnahkan: kesetiaan pada kebenaran, meski seluruh dunia memilih untuk memalingkan wajah.

Maka demikianlah kasih yang terlahir dari penderitaan, tercipta dari air mata namun tetap bisa mencintai, diam-diam meniupkan doa agar suatu hari nanti setiap harapan terwujud, setiap kebenaran menemukan tempatnya bersuara dan setiap keadilan mendapatkan tempatnya untuk berani berperang melawan kekuasaan.

Kasih semacam itu tidak tumbuh dari tawa atau kebahagiaan, melainkan dari luka yang terus menetes perlahan di dada yang tak pernah sempat sembuh. Ia lahir di antara reruntuhan nurani dan nyala kecil yang bertahan di bawah timbunan dusta. Ia tak menuntut balas, hanya ingin bertahan agar dunia tak sepenuhnya beku.

Kasih itu tak mengenakan pakaian indah. Ia berjalan dengan kaki telanjang di jalan penuh duri, tapi tetap menunduk pada bumi, mencium debunya, mencintainya, meski bumi itu kini diwarnai darah dan kebohongan. Ia tahu bahwa tanah air bukan selalu tempat yang membahagiakan; kadang, ia adalah luka yang harus kau peluk agar tak membusuk.

Dari kasih yang lahir dalam penderitaan, manusia belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki, tapi menjaga agar kebaikan tak punah. Bahwa memperjuangkan kebenaran bukan karena ingin menang, tapi karena tak sanggup melihat yang lemah terus ditindas.

Kasih seperti itu tidak bersuara lantang di podium, tidak memiliki panggung, tidak memerlukan tepuk tangan. Ia hidup dalam tindakan kecil yang sering tak dilihat siapa pun; dalam tangan yang membagi roti terakhirnya, dalam langkah yang tetap menolong meski dunia memunggunginya, dalam doa yang tak disebutkan namanya di catatan sejarah.

Ia mencintai bukan karena berharap negeri ini akan berubah esok, tapi karena tahu bahwa jika tak ada yang mencintai dalam diam, negeri ini akan mati tanpa pernah sempat ditebus.

Maka kasih itu terus bernafas dalam sunyi. Ia seperti embun yang jatuh di atas luka bumi, menenangkan meski tak menyembuhkan sepenuhnya. Ia seperti cahaya tipis di antara kabut kelam, rapuh namun cukup untuk menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat.

Dan mungkin, hanya kasih semacam itu yang mampu melawan kekuasaan: bukan dengan senjata, tapi dengan kesetiaan. Bukan dengan teriakan, tapi dengan keberanian untuk tetap lembut di dunia yang keras.

Karena pada akhirnya, yang akan menyalakan kembali cahaya bukanlah kemarahan, melainkan kasih yang menolak padam, kasih yang lahir dari penderitaan, tapi menolak menjadi kebencian. Kasih yang mengingatkan kita bahwa di antara reruntuhan, manusia masih punya satu hal yang tak bisa dirampas: hati yang masih berani mencintai, bahkan pada dunia yang telah melupakannya.

Demikianlah cinta diam-diam menjadi perlawanan, bukan dengan senjata yang dilepaskan, teriakan yang diperdengarkan, atau caci maki yang dilontarkan dan melahirkan amarah-amarah baru yang membangunkan kebencian, kekacauan, dan terkadang dimanipulasi hingga tujuan sebuah kebenaran, perjuangan keadilan tak sepenuhnya mencapai tempatnya tapi hanya muncul dalam wujud kerusuhan yang tak sepenuhnya melahirkan apa yang menjadi tujuan perjuangan itu sendiri.

Cinta semacam itu bergerak lembut, seperti angin yang menyingkap tirai kegelapan tanpa menumbangkan rumah. Ia hadir dalam bisikan yang tidak terdengar, dalam tindakan kecil yang dianggap remeh, namun menggetarkan pondasi kekuasaan yang sombong. Ia menolak menyerah pada aturan yang menindas, tapi juga menolak membiarkan diri berubah menjadi kebencian.

Orang-orang yang mencintai seperti ini berjalan di antara reruntuhan, menatap mata yang kosong, menyentuh tangan yang dingin, dan tetap menaburkan keberanian di atas tanah yang beku. Mereka menulis di dinding sunyi, menanam benih keadilan di celah beton, menyulam kata-kata kebenaran di udara agar suatu hari, meski tidak mereka saksikan, generasi yang datang bisa membaca jejaknya.

Perlawanan mereka tak mengumbar darah, tapi memantik cahaya; tak menginginkan pujian, tapi menumbuhkan keberanian. Setiap tindakan yang terlihat sepele; mengumpulkan makanan untuk yang lapar, menolong anak yang tersesat, membela yang tak bersuara adalah ketukan kecil yang perlahan memecah kaca-kaca ketidakadilan.

Cinta diam-diam menjadi perlawanan karena ia tahu: kekuasaan bisa menaklukkan tubuh, tapi tidak bisa menundukkan nurani yang mencintai kebenaran. Ia tidak berteriak agar didengar, tetapi ia berbisik agar diingat. Ia tidak menuntut balas, karena keadilan yang sejati tidak meminta, ia hadir di mana pun ada hati yang masih berani.

Dan meski dunia kadang menolak melihatnya, meski kekuasaan mencoba menghapus setiap jejak, cinta itu tetap ada mengalir di antara celah-celah kota, merayap di antara reruntuhan hati manusia, menunggu saatnya untuk membangkitkan kembali keberanian yang pernah mati.

Perlawanan yang lahir dari cinta diam-diam ini bukan sekadar melawan yang nyata, tapi juga melawan yang tak terlihat: ketakutan, kepasrahan, dan lupa akan kemanusiaan sendiri. Dan dalam diamnya, ia mengguncang lebih keras daripada seribu teriakan, lebih tajam daripada ribuan pedang, karena ia lahir dari sesuatu yang tak bisa dicuri: hati yang mencintai, meski seluruh dunia menutup telinga.

            Dan diantara puing-puing harapan yang remuk, ia masih menunggu. Bukan menunggu kemenangan yang gemilang, bukan menunggu tepuk tangan atau sorak sorai yang meneguhkan, tapi menunggu saat di mana keadilan bisa kembali bernapas, di mana kebenaran tak lagi tersandera oleh nafsu kekuasaan, dan di mana manusia belajar menatap satu sama lain dengan mata yang tidak dibutakan oleh ambisi.

Ia duduk di atas reruntuhan, dengan dada yang lelah tapi hati yang tak menyerah. Debu menempel di rambutnya, luka masih membekas di kulit, tapi jiwanya berpendar lembut, seperti sisa cahaya di langit senja yang enggan padam. Dalam sunyinya, ia menaburkan doa seperti biji-biji kecil: agar negeri ini kembali memiliki nurani, agar cinta yang lahir dari penderitaan menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat.

Di sekelilingnya, dunia bisa saja tetap kacau, gelap, penuh kepalsuan, tapi ia tetap menunggu. Karena ia tahu, menunggu bukan berarti pasif. Menunggu adalah tindakan paling berani ketika semua orang menyerah pada keputusasaan; menunggu adalah perlawanan yang paling lembut, paling mengguncang, karena hadir tanpa teriakan tapi tetap menegaskan keberadaan nurani.

Kadang angin membawa debu dan sisa-sisa harapan yang patah menampar wajahnya, tapi ia menatap langit dan tersenyum. Setiap puing yang jatuh di bumi adalah saksi bahwa meski dunia bisa runtuh, cinta yang tulus tetap hidup di antara reruntuhan itu.

Dan di sana, di antara puing-puing harapan yang terserak, ia tetap berdiri; diam, lembut, namun mengguncang. Menunggu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua yang pernah terluka, semua yang pernah lupa cara mencintai, dan semua yang pernah kehilangan keberanian untuk percaya.

Karena pada akhirnya, meski dunia tampak hancur, cinta yang lahir dari kesedihan, dari kesetiaan, dari keikhlasan… adalah sesuatu yang tak bisa dihancurkan. Ia menunggu, dan melalui menunggunya itu, ia mengajarkan bahwa masih ada jalan untuk kembali pulang; kepada kemanusiaan, kepada kebenaran, dan kepada tanah air yang meski terluka, tetap layak dicintai.

Sabtu, 27 Desember 2025

Negeri yang Mengapung di Antara Luka

 


Ada sebuah negeri yang dulu indah, terbuat dari cahaya yang menetes dari jari-jari langit. Di sanalah angin pernah berdoa, dan burung-burung bernyanyi tanpa tahu makna kehilangan. Namun waktu berjalan seperti pisau tumpul yang lambat mengiris, menyisakan luka, tapi tak segera mematikan.

Kini negeri itu menggantung di antara luka dan ingatan. Gunung-gunungnya masih berdiri, tapi puncaknya telah dijual pada kekuasaan. Sungai-sungainya masih mengalir, tapi airnya telah menjadi asin oleh air mata rakyatnya sendiri.

Di tanah itu, orang-orang harus makan lumpur agar tetap hidup. Anak-anak menangis darah untuk bisa bernafas satu hari lagi, sementara para wanita dipaksa melahirkan emas dan berlian yang bukan untuk mereka melainkan untuk menambal singgasana penguasa yang haus kuasa. Mereka tertawa di bawah nafsu kekuasaan yang memaksa mereka menelanjangi martabatnya sendiri, hingga akhirnya mereka berjalan di atas bumi tanpa sehelai pun pakaian yang dulu disebut kehormatan.

Dan semua itu… demi sesuatu yang disebut kekayaan, demi kata kosong bernama kejayaan.

Istana mereka menjulang tinggi, dindingnya dipahat dari tulang rakyat. Meja-mejanya berat oleh piala dan darah. Mereka bersulang untuk kemenangan yang tak pernah benar-benar mereka menangkan, karena di bawah kaki mereka, bumi merintih pelan.

Lalu datanglah masa di mana cahaya dan gelap sudah tak lagi bisa dibedakan. Manusia saling membunuh bukan karena lapar, tapi karena tak ingin kalah. Mereka menciptakan senjata dari rasa takut, memelihara kebencian seperti hewan peliharaan yang diberi makan setiap hari.

Langit menyaksikan itu semua dengan wajah kelabu. Darah menetes di antara akar-akar, menumbuhkan bunga-bunga kematian yang bermekaran di jalanan. Anak-anak kecil tumbuh tanpa mengenal suara tawa, hanya dentum, hanya jerit, hanya doa yang putus di tengah udara.

Mereka menyebutnya perang. Tapi perang itu tak lagi tentang tanah, tak lagi tentang keadilan melainkan tentang siapa yang masih bisa memegang kuasa, meski dengan tangan berlumur darah.

Dan negeri itu… negeri yang dulu dilahirkan dari cahaya, kini mengapung di antara luka. Ia tak lagi berpijak di bumi, karena bumi telah terlalu lelah menanggungnya. Ia juga tak sepenuhnya berada di langit, karena langit telah menutup matanya. Maka ia menggantung seperti roh yang kehilangan tubuh, seperti doa yang tak sampai, seperti nama yang terus disebut tapi tak lagi berarti.

Namun, di antara reruntuhan dan debu, masih ada sesuatu yang berpendar. Sebuah nyala kecil di mata seorang anak yang menatap langit tanpa takut. Ia tidak tahu siapa yang benar atau salah, tidak tahu tentang emas, tidak tahu tentang kuasa. Ia hanya tahu satu hal: dunia ini seharusnya tidak sekelam ini.

Dan mungkin, di matanya yang kecil itu, langit mulai membuka mata sedikit demi sedikit, seolah ingin mengingatkan bahwa di balik kehancuran, masih ada kemungkinan bagi cahaya untuk lahir lagi, meski dari luka yang paling dalam.

Sebab bahkan di negeri yang mengapung di antara luka, masih ada rahim harapan yang belum sepenuhnya mati menunggu satu napas, satu doa, satu tangan yang berani menyentuh tanah tanpa takut kotor, agar dunia sekali lagi bisa belajar menjadi manusia.

Di tengah segala reruntuhan itu, masih ada sehelai kain yang berkibar di udara; bendera yang robek, warnanya pudar seperti kenangan yang terlalu lama digenggam. Ujungnya compang-camping, sebagian terbakar oleh perang, sebagian lagi tercabik oleh angin yang tak mengenal belas kasih. Namun tetap, ia dikibarkan.

Tangan-tangan kecil yang kotor oleh debu menegakkannya kembali di atas tiang yang bengkok. Tak ada musik, tak ada upacara, hanya sunyi yang melingkupi. Tapi di antara sunyi itulah maknanya terasa paling nyaring: bahwa mereka belum sepenuhnya menyerah.

Bendera itu bukan lagi lambang kemenangan, bukan pula kebanggaan. Ia kini menjadi tanda bahwa masih ada jiwa yang bernafas, masih ada hati yang menolak padam. Robeknya adalah luka, tapi juga bukti bahwa ia telah melewati badai. Setiap sobekannya bercerita tentang ibu yang kehilangan anaknya, tentang rumah yang berubah jadi puing, tentang doa yang menembus kabut asap dan sampai entah ke mana.

Saat angin bertiup, bendera itu tak berkibar gagah seperti dulu, tapi bergetar pelan… seperti dada yang masih menahan isak. Warnanya telah memudar, tapi di dalamnya masih tinggal sedikit cahaya, seperti darah yang enggan berhenti mengalir meski tubuh sudah kehabisan tenaga.

Orang-orang menatapnya dengan mata yang basah, tak tahu apakah mereka sedang menangis karena sedih atau karena haru. Mungkin keduanya. Sebab di tengah kehancuran, bendera itu bukan sekadar kain, ia adalah ingatan bahwa sesuatu yang bernama “harapan” masih hidup, meski setipis benang.

Bendera itu berkibar di antara abu, debu, dan sisa-sisa langit yang kehilangan warna. Ia melambai pada angin seolah berbicara, “Aku masih di sini.”

Dan setiap kali ia bergerak, suara samar terdengar dari balik lipatan kainnya, seolah bumi sendiri berbisik: bahwa kebanggaan sejati bukanlah milik yang menang, melainkan milik mereka yang tetap berdiri, meski dunia di sekitarnya telah runtuh.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika langit belajar mencintai bumi lagi, dan manusia berhenti menulis sejarah dengan darah, bendera itu akan dijahit kembali oleh tangan-tangan yang dulu menegakkannya dalam air mata. Lalu ia akan berkibar lagi bukan karena perang, tapi karena cinta yang akhirnya pulang.

Sayangnya hari yang ditunggu tak juga tiba, air mata masih menggenangi sungai-sungai, dusta masih mengalir pada lidah-lidah penguasa, dan darah belum berhenti tumpah bahkan pada hari yang paling indah.

Waktu berjalan cepat, tapi bukan menuju sembuh, ia justru menegakkan kekuasaan menjadi dewa yang paling kuat di antara segala nilai kehidupan, termasuk nilai kemanusiaan itu sendiri.

Janji tentang kemerdekaan kini tinggal dalam pidato. Setiap kalimatnya bergema indah di udara, tapi jatuh ke tanah dan mati sebelum sempat menyentuh akar. Kata-kata itu kini menjadi ritual tahunan yang dihafalkan dengan suara lantang dan dada membusung, sementara rakyat yang mendengarnya hanya menunduk, bukan karena hormat, tapi karena lapar.

Di istana yang megah, suara keadilan digantikan oleh tepuk tangan. Mereka bersulang di atas penderitaan, menulis kisah tentang kemakmuran di atas kertas emas, lalu menandatanganinya dengan tinta yang terbuat dari keringat orang kecil. Negeri ini kini pandai berpura-pura: tersenyum di depan kamera, menangis di balik layar.

Jalan-jalan penuh baliho yang menjanjikan harapan, padahal di bawahnya, anak-anak masih menjual waktu di lampu merah. Sekolah-sekolah berdiri megah, tapi ilmu disandera oleh biaya. Rumah sakit tampak indah, tapi nyawa ditimbang seperti barang dagangan. Dan para pemimpin yang dulu berjanji menjadi pelayan rakyat kini duduk di singgasana yang lebih tinggi dari langit, menatap ke bawah hanya untuk memastikan rakyatnya tetap tunduk.

Negeri ini kini pandai mengenakan topeng: topeng kemajuan, topeng moral, topeng agama, topeng nasionalisme yang disulam dengan benang kebohongan. Di baliknya, wajah aslinya adalah luka dalam, menganga, dan berbau getir. Keadilan menjadi dongeng yang hanya dibacakan di ruang sidang; hukum adalah permainan catur di mana bidak-bidak kecil selalu dikorbankan agar raja tetap aman.

Dan ketika rakyat bersuara, suaranya dianggap angin; ketika mereka diam, kesunyian mereka dianggap tanda setuju. Maka negeri ini berjalan pincang, tapi masih menyebut dirinya tegak. Ia kehilangan arah, tapi terus berteriak bahwa ia di jalan yang benar.

Perlahan namun pasti manusia mulai menjual nurani di pasar kekuasaan, menukarnya dengan kursi empuk dan tepuk tangan palsu. Jabatan menjadi candu yang membuat mata mereka buta terhadap nestapa, telinga mereka tuli terhadap jerit yang tak berirama. Mereka yang dulu berbicara tentang kebenaran kini membungkamnya dengan amplop bersegel merah, seolah kejujuran hanyalah barang antik yang pantas disimpan di museum sejarah.

Di ruang rapat berpendingin udara, keputusan tentang nasib bangsa dirumuskan dengan angka, bukan dengan hati. Mereka menghitung penderitaan dalam statistik, bukan dalam tangisan. Selembar dokumen bisa mengubah hidup ribuan orang, tapi yang mereka pikirkan hanyalah berapa persen yang bisa diselamatkan untuk diri sendiri.

Maka negeri ini tumbuh seperti pohon tanpa akar; rindang di permukaan, tapi rapuh di dalam. Akar kejujuran telah digergaji oleh ambisi, dan batang moral ditebang untuk membangun menara kekuasaan. Mereka memuja jabatan seperti berhala yang harus disembah setiap pagi, dan demi menambah satu bintang di pundak, mereka rela menumpahkan seribu air mata di jalan.

Rakyat menjadi sekadar angka dalam pidato, nama dalam daftar bantuan yang tak pernah sampai. Sementara mereka yang duduk di kursi tinggi menyebut diri “wakil rakyat”, padahal yang mereka wakili hanyalah nafsu untuk berkuasa lebih lama.

            Lalu kebenaran dikubur dalam seremoni, diucapkan dalam dokumen-dokumen formal tapi tak pernah benar-benar hidup di dada rakyat. Ia hanya dipakai untuk menutup pidato, bukan untuk membuka mata. Segalanya menjadi rapi, sistematis, berstempel resmi dan dari sanalah kebohongan memperoleh legitimasi tertingginya.

Mereka menyebutnya stabilitas, padahal itu hanya nama lain dari ketakutan. Mereka menulisnya dalam pasal-pasal dan aturan, lalu menggunakannya untuk menghentikan suara yang mencoba memanggil nurani. Suara kebenaran rakyat dilabeli upaya makar, suara keadilan disebut pengkhianatan, dan setiap napas yang berbeda dianggap ancaman terhadap “ketertiban”. Maka sunyi pun tumbuh di tanah air sendiri bukan karena tak ada kata, tapi karena kata telah dipenjara.

Di ruang-ruang rapat, mereka menandatangani kesepakatan yang berbau tinta dan tipu daya. Di luar gedung, rakyat berdiri di bawah hujan, menatap langit yang tak lagi menjanjikan perubahan. Di tangan mereka hanya ada keyakinan yang kian menipis, seperti lembar uang yang tak lagi cukup untuk membeli harapan.

Negeri ini, perlahan, menjadi teater yang megah tapi tanpa naskah moral. Pemerintahannya menampilkan wajah senyum di layar kaca, sementara di balik tirai, keserakahan menulis skenario baru tentang siapa yang harus diam, siapa yang boleh hidup, dan siapa yang akan dikorbankan atas nama kemajuan.

Keadilan kehilangan rumahnya. Ia kini berkeliaran seperti pengemis di jalan kekuasaan, mengetuk setiap pintu lembaga tinggi yang sibuk mencatat perkara tanpa pernah menyentuh hati. Setiap kali ia datang membawa bukti, ia diusir dengan alasan prosedur. Setiap kali ia berteriak tentang luka, ia dibungkam dengan kata “stabilitas nasional”.

Dan malam pun datang, membawa cahaya yang tak lagi hangat, hanya menyinari betapa kosongnya negeri yang dulu dibangun atas mimpi dan darah. Kini tinggal barisan nama di prasasti, dihafal setiap upacara, tapi dilupakan dalam keputusan. Kebenaran sudah dikubur dalam seremoni, dan di atas kubur itu, berdirilah mereka yang mengaku pahlawan sambil menghitung berapa banyak tepuk tangan yang akan mereka dapatkan besok pagi.

Hingga pada akhirnya demi tetap hidup, rakyat mulai belajar diam, berhenti menyuarakan kebenaran bahkan ketika yang dipertaruhkan adalah hak hidup mereka sendiri. Mereka belajar membaca arah angin, memilih menunduk sebelum badai datang. Karena di negeri ini, keberanian sudah lama kehilangan tempatnya dan kejujuran, bila diucapkan terlalu keras, bisa menjadi sebab kematian.

Kekuasaan menjelma pedang yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menebas lidah-lidah kebenaran dan memenggal keberanian rakyat yang dulu bernyanyi di jalan-jalan. Kini suara mereka hanya bergema di dada sendiri, terperangkap di antara napas dan ketakutan. Di pasar, di ladang, di kantor, semua orang tahu ada yang busuk di puncak menara, tapi mereka pura-pura mencium wangi bunga agar tak dituduh melawan.

Anak-anak tumbuh tanpa tahu makna kata “adil”, karena yang mereka lihat hanyalah layar berita yang selalu menampilkan wajah sama dengan kalimat yang serupa: “Demi kepentingan bersama.” Padahal kepentingan itu tak pernah mencapai mereka, hanya berhenti di meja rapat dan rekening pribadi. Mereka melihat ayahnya kehilangan pekerjaan tanpa alasan, ibunya menahan air mata ketika harga naik dan janji turun seperti hujan asam.

Rakyat pun berubah menjadi bayang-bayang. Mereka hidup, tapi tak benar-benar ada. Mereka bekerja, tapi hasilnya disedot oleh mesin-mesin besar yang diberi nama program pembangunan. Mereka menyumbang suara, tapi suaranya disamarkan oleh data, dimanipulasi menjadi angka yang indah di laporan tahunan.

Negeri ini kini tampak tenang, tapi itu ketenangan yang mencekik. Seperti danau yang tenang karena tak ada lagi ikan yang berani berenang di dalamnya. Seperti malam yang sunyi karena semua bintang telah jatuh dan padam.

Dan di tengah keheningan yang panjang itu, kebenaran masih berbaring di kuburnya. Tak ada yang berani menziarahinya lagi, karena setiap langkah mendekat bisa dianggap makar.

Namun kadang, pada malam tertentu, jika kau berjalan cukup jauh ke arah suara hati, kau akan mendengar sesuatu; lirih, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan dari tanah yang lembab: bahwa diam tak selamanya berarti tunduk, kadang hanya cara rakyat menunggu waktu untuk hidup kembali sebagai manusia yang utuh.


Rabu, 24 Desember 2025

Genesis Cosmoc

 


Dahulu, sebelum waktu mengenal dirinya sendiri, sebelum ada kata untuk menyebut “ada”, semesta hanyalah rahim dari cahaya yang terus berdenyut dalam diam panjang yang tak bertepi. Dalam rahim itu, segalanya larut—warna, gema, bahkan niat untuk menjadi. Tidak ada siang, tidak ada malam, hanya denyut lembut seperti jantung yang belum tahu untuk siapa ia berdetak.

Dari denyut itulah bumi dilahirkan, perlahan dan penuh gentar seperti bayi pertama yang membuka mata di hadapan cahaya yang terlalu suci untuk dipahami. Ia menangis tanpa suara, sebab udara belum ada, dan tangisnya menjadi gema pertama yang memecah sunyi kosmos. Gema itu meluas, menjelma guratan cahaya yang menari di kegelapan, menciptakan arah, melahirkan jarak, menandai batas antara ada dan tiada.

Lalu, dari rahim cahaya itu, turunlah air; tetes pertama yang mengingatkan semesta pada kelembutan. Ia mengalir mencari bentuk, menuruni gunung yang belum tahu namanya, menyentuh dataran yang belum tahu artinya menjadi bumi. Air itu menyimpan rahasia cinta pertama: bahwa setiap kehidupan kelak akan kembali padanya.

Setelah air, tercipta bara. Bara yang mula-mula hanyalah percikan kecil dari ketidaksabaran cahaya, tapi tumbuh menjadi api yang lapar, menyala dari butir-butir nafsu yang tersembunyi di dada semesta. Bara itu kelak dikenal manusia sebagai keberanian dan juga kehancuran; dua wajah dari nyala yang sama.

Udara ditiupkan kemudian, lembut seperti helaan kasih yang menyalakan gerak. Ia membawa aroma penciptaan, menciptakan napas bagi segala yang berniat hidup. Dan dari napas itulah, waktu pertama kali berdetak.

Di antara semua ciptaan, muncullah kesadaran. Ia bangkit dari tanah yang basah oleh air, tersentuh cahaya, terbakar bara, dan hidup oleh udara. Ia membuka matanya, menatap langit yang baru saja diciptakan langit yang masih muda, birunya belum sempurna. Kesadaran itu menatap dunia dengan kebingungan purba, tidak tahu apakah ia bagian dari semesta atau hanya mimpi yang tersisa dari cahaya.

Ia belajar memberi nama pada segala yang bergerak, agar dunia tak lagi asing. Ia menyebut sinar sebagai pagi, gelap sebagai malam, diam sebagai doa. Dan ketika ia menyebut dirinya manusia, semesta berhenti sejenak, seperti ikut menghela napas, menyadari bahwa ciptaan terakhir telah membawa sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: kerinduan.

Kerinduan itu menuntun manusia mencari asalnya, menatap langit, laut, gunung, dan air yang terus memantulkan cahaya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang pernah menyentuhnya sebelum ia mengenal tubuh. Sejak saat itu, setiap langkah manusia di bumi adalah perjalanan pulang menuju rahim cahaya, tempat asal segalanya, tempat di mana cinta pertama kali diciptakan dan waktu pertama kali bernapas.

Namun semua itu belum sempurna karena tak ada suara meski nyawa telah tercipta, cinta telah ada, dan waktu telah bernafas. Semesta masih diam, seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung datang; sebuah gema, sebuah panggilan, sebuah keberanian untuk mengatakan “aku ada.”

Hingga akhirnya terciptalah suara. Bukan dari petir, bukan dari bara, melainkan dari getar halus di antara cahaya dan gelap yang saling merindukan. Saat itu, untuk pertama kalinya langit berbicara. Ia tak bersuara seperti manusia, tapi dari pernafasannya lahir nada yang membelah hening menjadi harmoni. Bintang-bintang pun berbisik, suaranya menyerupai desir waktu yang belum sepenuhnya mengerti makna keabadian. Pagi bernyanyi dengan cahaya yang gemetar, dan malam mulai mendongeng dengan nada rendah penuh rahasia.

Dari suara itu tumbuh kata-kata, seperti bunga-bunga yang mekar di udara. Irama terlahir dari pertemuan mereka, menjadi bahasa pertama yang tidak ditulis di tanah, tapi di langit. Setiap gema menjadi ayat, setiap hembus angin menjadi doa. Suara itu melahirkan musik kehidupan, tapi juga luka pertamanya.

Sebab di antara nada dan cahaya, ada sesuatu yang pecah getaran kecil yang tak seharusnya lahir, namun tak dapat dicegah. Dari getaran itu tercipta air dari jenis lain, bukan air yang menumbuhkan pepohonan atau mengisi sungai, melainkan air mata. Air yang membawa kesedihan pertama semesta, diciptakan bukan karena kehilangan, tapi karena kesadaran bahwa setiap keindahan membawa ujungnya sendiri.

Langit menangis tanpa sadar, membiarkan tetesnya jatuh di atas bumi yang baru belajar bernapas. Dari tetes itu lahir sungai-sungai kesedihan yang mengalir di antara gunung-gunung muda, mengukir lembah dan mengajarkan bumi tentang arti rasa. Air mata itu mengandung sesuatu yang tak dimiliki oleh air biasa: ingatan.

Maka sejak itu, segala yang hidup belajar menangis. Tumbuhan menangis dalam diam saat musim kering datang. Laut menangis setiap kali bulan memanggilnya pergi. Dan manusia, makhluk yang lahir terakhir menangis karena mengingat sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami: rumah asalnya di rahim cahaya.

Dari suara dan air mata itu, semesta menjadi lengkap. Ada tawa dan sedu, ada nada dan diam, ada cinta dan kehilangan. Semua menjadi simfoni yang terus berputar di dada waktu, tak pernah selesai, tak pernah diam, hanya berganti bentuk; seperti gema yang terus mencari pantulan asalnya. Dan hingga kini, bila malam tiba dan langit terasa terlalu sunyi, sebenarnya bukan sunyi yang kita dengar. Itu hanyalah suara pertama semesta, yang masih bergetar pelan, memanggil kita agar ingat… bahwa segala yang hidup pernah dilahirkan dari cahaya, lalu belajar berbicara dengan luka.

Lalu perlahan, waktu yang berjalan menua bersama debu, bernafas di dada ambisi, dan berdiam dalam napas cinta yang melahirkan segala hal, termasuk luka. Dari sanalah awal kelupaan manusia dimulai. Waktu menua bersama debu bintang yang perlahan kehilangan sinarnya, meninggalkan jejak samar di ruang-ruang yang dulu bersinar dengan kejernihan asal.

Dari semua ciptaan, manusialah yang tumbuh paling cepat, namun juga paling mudah lupa. Ia lupa dari mana cahaya pertamanya berasal, lupa air mata pertama yang mengajarinya makna rasa, lupa suara lembut langit yang dahulu menuntunnya mengeja kata. Ia hidup di antara nyala dan kelam, tapi tak lagi tahu yang mana rumah, yang mana asal.

Malam-malam menjadi panjang baginya. Ia menatap langit, tapi bintang tak lagi berbicara padanya. Ia mendengar desir angin, tapi tak mengenali bahwa itu suara cinta pertama semesta, masih memanggil namanya yang nyaris terhapus dari bahasa waktu. Hening mulai tumbuh di dalam dirinya, bukan sebagai kedamaian, melainkan sebagai jarak yang perlahan memisahkan dirinya dari sumber segala cahaya.

Manusia berjalan di bumi dengan dada yang kosong namun matanya masih menyala, seperti lilin kecil yang menolak padam meski tahu angin selalu datang. Di setiap langkahnya, ada kerinduan samar: rindu pada sesuatu yang tak bisa disebut, tak bisa ditemukan di daratan, di laut, atau di langit. Rindu itu berdetak lembut di balik tulang rusuknya, mengingatkan bahwa dahulu ia bukan hanya tubuh, melainkan cahaya yang pernah mengenal asalnya.

Namun waktu, yang sabar sekaligus kejam, menutup luka itu perlahan dengan debu. Ia menanamnya dalam nama-nama baru yang diciptakan manusia untuk menenangkan sepi. Ia menamai cinta, tapi lupa dari mana cinta itu pertama kali bernafas. Ia menamai hidup, tapi tak mengerti bahwa hidup hanyalah gema dari suara purba yang dahulu menjadi saksi kelahirannya.

Kini manusia tinggal di dunia yang penuh terang, namun tetap tersesat di dalam gelap batinnya sendiri. Ia membangun kota, menyalakan lampu, menulis kitab, menciptakan mesin untuk menggantikan keajaiban. Ia menciptakan suara yang lebih keras dari langit, tapi kehilangan kemampuan untuk mendengar bisikan semesta.

Namun setiap malam, ketika semua cahaya buatan padam, jiwanya kembali sunyi. Dalam kesunyian itu, ia mendengar sesuatu yang samar, sebuah panggilan jauh dari rahim cahaya yang dulu melahirkannya. Sebuah suara lembut, tak berbentuk, tapi terasa hingga ke tulang: panggilan untuk pulang.

Dan di detik itu, hening menjadi cermin. Manusia menatap ke dalam dirinya, dan di balik gelap yang selama ini ia takutkan, masih ada pendar lembut sisa nyala dari asalnya yang tak pernah benar-benar padam. Mungkin itulah sebabnya manusia masih berdoa, masih menangis, masih menatap bintang dengan hati yang remuk tapi tetap berharap.

Sebab di setiap tangisnya, semesta ikut bergetar. Dan setiap getaran itu adalah ingatan kecil dari cahaya pertama, yang tak pernah benar-benar melupakannya. Karena meski manusia telah lupa dari mana ia datang, rahim cahaya yang dulu melahirkannya masih setia memanggil, dengan sabar, dengan kasih yang tak berkesudahan menunggu saat manusia akhirnya mengingat, dan pulang.

            Sayangnya waktu yang ditunggu, hari yang dinanti tak pernah tiba hingga perlahan langit kehilangan warna. Birunya pudar seperti ingatan yang ditinggalkan terlalu lama di antara halaman waktu. Mentari masih terbit, tapi sinarnya seperti cahaya tua yang tersesat di dada pagi. Awan berjalan tanpa arah, dan angin yang dulu membawa nyanyian kini hanya membawa debu.

Langit mulai menua. Ia tak lagi menjadi cermin bagi doa, melainkan lembar kusam yang memantulkan kehampaan. Di bawahnya, manusia sibuk menciptakan dunia di dalam dunia; membangun menara untuk menantang ketinggian yang dahulu mereka sembah, menulis hukum untuk menggantikan bisikan nurani, dan menyalakan lampu agar tak perlu lagi percaya pada bintang.

Maka langit, yang dahulu menyanyikan nada penciptaan, kini hanya bergumam pelan. Warnanya memudar seperti jiwa yang lelah menunggu. Ia kehilangan biru, kehilangan jingga, kehilangan segala rona yang dulu hidup dari doa dan ketulusan. Di antara kabut abu-abu itu, bumi pun perlahan kehilangan arah; gunung-gunung tak lagi berbicara, laut menjadi gelap, dan pohon-pohon berhenti berdoa.

Dari kehilangan warna itu, lahirlah sesuatu yang lain—suara serak dari kesunyian yang menua.

Suara itu berkata pelan, “Manusia lupa pada langit, maka langit pun perlahan berhenti mencintainya.”

Manusia, yang dulunya anak dari cahaya, mulai mencintai bayangannya sendiri. Ia mencipta bukan lagi karena cinta, melainkan karena haus akan kekuasaan. Ia mulai menulis ulang kisah penciptaan, menempatkan dirinya sebagai pusat segala hal. Dari sanalah retakan pertama muncul bukan di tanah, tapi di nurani.

Malam menjadi lebih kelam, bukan karena ketiadaan bintang, tapi karena cahaya di dalam hati telah padam. Mereka masih menatap langit, namun tak lagi mencari makna. Mereka hanya menghitungnya, meneliti, menamai, memetakan, seolah keindahan bisa dimiliki hanya dengan pengetahuan.

Langit memudar semakin dalam, menjadi kelabu yang nyaris tak bernyawa. Tapi di celahnya, masih ada sedikit pendar; lemah, tapi nyata. Cahaya yang tersisa itu bukan lagi cahaya kebanggaan, melainkan cahaya belas kasih. Ia menatap bumi dari kejauhan, seperti ibu tua yang melihat anaknya tenggelam dalam keserakahan, tapi masih berharap anak itu suatu hari akan berhenti berlari dan menengadah.

Dan mungkin, suatu saat nanti, ketika langit benar-benar kehilangan warna, ketika seluruh cahaya buatan padam, manusia akan mengangkat wajahnya lagi ke atas bukan untuk menantang, tapi untuk mendengar. Sebab bahkan di langit yang paling kelam, selalu ada bisikan halus yang menunggu ditemukan: suara dari awal penciptaan, yang tak pernah mati, hanya menunggu di antara abu, memanggil agar manusia mengingat... bahwa warna pertama langit pernah lahir dari cinta.


Judul Buku    : Republik Bintang

Karya            : Stovia

Tanggal rilis  : 24 Desember 2025

Ilustrasi         : Gemini




Jumat, 12 Desember 2025

Rumah Yang Hilang Dari Peta Bumi






Kadang bumi berbicara tanpa suara, hanya lewat senja yang redup, ombak yang mengadu, dan jejak makhluk yang tak lagi punya tempat pulang. Jika kita masih bertanya apa yang terjadi pada semesta, mungkin kita perlu belajar mendengar dengan hati yang lebih jernih.


#puisi #puisiindonesia #puisiakal #puisiharian #puisipecah #puisihijau #puisilingkungan #alam #bumi #lingkungan #kerusakanalam #selamatkanbumi #rumahgajah #puisi2025

Kamis, 11 Desember 2025

Ketika Laut dan Kata Sama-Sama Tak Lagi Bicara

 


Seolah aku menuliskan ini dari tubuhku sendiri, dari air yang mulai letih dan tanah yang tak lagi mampu menahan perih. Aku sudah mencoba berbicara lewat angin, lewat riak kecil yang menepuk pantai, tapi kalian tak mendengarnya. Kini aku bicara lewat ombak yang meninggi dan api yang mencari jalan keluar, bukan untuk menakuti, hanya untuk menunjukkan bahwa aku pun bisa terluka.

#puisi #puisialam #suarabumi #bumibicara #puisibencana #renunganalam #katakataindah #puisiindonesia


Selasa, 09 Desember 2025

Suara yang Jatuh Bersama Hujan

 


Kadang alam sudah lama berbicara, hanya saja manusia terlalu sibuk menutup telinga. Hujan jatuh seperti peringatan, angin membawa keluh kesah, langit menghitam untuk menunjukkan luka yang kita buat sendiri. Namun kita masih bertanya ada apa, seolah bumi belum berkali-kali menunjukkan rasa sakitnya.


#puisi #puisialam #puisikelestarian #sajakalam #lingkungan #bumi #bumimenangis #katakatabermakna #puisiharian #puisiindonesia #renungan #manusialingkungan #sastramodern #quotesindonesia #fyp

Minggu, 23 November 2025

Tempat Kata Menemukan Cahaya



Ada masa ketika kata tumbuh dari luka yang tak berwajah, lalu berubah menjadi cahaya kecil yang menuntun kita pulang. Di antara bintang yang bergetar dan rembulan yang tertunduk, puisi selalu menemukan jalannya. Ia lahir dari tangis, hidup dari harapan, dan menjelma menjadi rumah bagi segala rasa yang enggan padam.


#puisi #puisiindonesia #katakata #katakatabijak #puisiromantis #puisihariini #puisipendek #puisicinta #puisilaris #puisiestetika #sastraku #sastraindonesia #quotesharian #quotesindonesia #karyapena #penulisindonesia

Sabtu, 22 November 2025

Ketika Senja Menggambar Wajahmu

 


Di bawah langit senja aku menemukan wajah yang pernah diramalkan cahaya. Ada langkah asing yang datang seperti pesan dari bintang dan sejak itu hatiku tahu pelariannya telah selesai. Setiap sunyi berubah menjadi hangat seolah semesta menaruhmu di jalur yang tak mungkin salah.

#puisi #puisiromantis #puisiindonesia #katakatabijak #katacinta #senja #rembulan #bimasakti #ceritacinta #puisiharian #fyp #fypindonesia #kontenpuisi #puisioriginal

Jumat, 21 November 2025

Ketika Malam Menyimpan Matamu


Baca selengkapnya disini

Pagi datang seperti lembaran baru yang terbuka perlahan. Dalam cahaya pertama itu, wajahmu muncul seperti lukisan yang menyapa angin. Ada sisa bintang di matamu, ada rembulan yang bersembunyi di balik lengkungan senyummu, seolah malam enggan pergi meski hari sudah mengetuk. Mungkin rindu memang semacam candu yang membuat ribuan malam terasa belum cukup untuk saling menemukan kembali.


#puisi #puisiindonesia #puisiromantis #katabijak #katacinta #puisisenja #puisipagi #sastra #sastraindonesia #quotescinta #quotesromantis #fyp #fypindonesia #viral #kontenpuitis #puisiharian #karyastovia

Kamis, 20 November 2025

Jejak Malam di Matamu


Baca selengkapnya disini

Kadang langit mengajarkan bahwa cahaya tak selalu lahir dari matahari. Ada senja yang merayap pelan, membawa kenangan pada sepasang mata yang memantulkan bintang. Ada malam yang membuat rindu tumbuh seperti bunga di halaman dada. Di antara gelap dan cahaya itu, aku belajar bahwa menatapmu terasa seperti menatap langit yang sedang berdoa .

#puisi #puisiromantis #puisicinta #katakata #katakatacinta #senja #malam #rembulan #rindu #matamu #puisiindonesia #puisioriginal #puisiharian #karyapena #fyp #pendekarpena

Cinta di Tengah Revolusi

  Ada seseorang yang masih mencintai negerinya. Bukan dengan bendera di tangan, bukan dengan teriakan di jalan, tapi dengan doa yang dibisik...