Cari Blog Ini

Jumat, 09 Januari 2026

Hujan Bintang Di Republik Gelap

 


Kota itu kini seperti cermin retak yang menolak menampilkan wajah aslinya. Di balik gemerlap lampu dan papan iklan yang menjeritkan kebahagiaan, tersembunyi kehampaan yang membusuk perlahan. Manusia berjalan cepat, seperti sedang mengejar sesuatu yang bahkan tak tahu bentuknya. Mereka menatap layar lebih sering daripada menatap langit. Mereka berbicara pada mesin, tapi kehilangan bahasa untuk bicara pada sesama.

Di antara gedung tinggi yang menembus awan, doa-doa tak lagi naik. Mereka tertahan di kaca, jatuh lagi ke bumi, berbaur dengan polusi dan janji yang tak ditepati. Di tempat ibadah, manusia bersujud bukan lagi karena cinta, melainkan karena takut. Takut kehilangan rezeki, takut kehilangan posisi, takut tidak terlihat suci di mata sesama penyembah. Tuhan berubah menjadi simbol, disimpan rapi dalam kalimat-kalimat status, tapi jarang benar-benar dipanggil dengan hati.

Lalu di sudut kota yang gelap, ada seseorang yang duduk memandangi langit, mencoba mencari Tuhan di antara gedung yang menelan bintang. Ia bertanya dalam diam, “Di mana Engkau bersembunyi, saat kami mulai kehilangan arah?” Tapi yang menjawab hanyalah gema dari kepalsuan yang sudah terlalu tebal. Di dunia ini, bahkan kebenaran harus memiliki sponsor agar bisa terdengar.

Manusia kini berbondong-bondong mencari surga di tempat yang penuh lampu, suara, dan nama besar. Mereka lupa bahwa Tuhan tak butuh megafon, tak butuh sorotan. Ia bersemayam di tempat sunyi, di hati yang masih berani menyesal. Tapi siapa hari ini yang mau berhenti sejenak untuk menyesal? Semua sibuk membenarkan dirinya, bahkan di hadapan kebenaran itu sendiri.

Kota itu tenggelam oleh cahaya yang mereka ciptakan sendiri. Cahaya yang membutakan, bukan menerangi. Cahaya yang menghapus garis antara benar dan salah, seolah keduanya hanya soal keberpihakan. Dan di tengah gemerlap yang menipu itu, hati manusia menjadi padang tandus; kering, sepi, dan terlalu takut untuk mencintai tanpa pamrih.

Kadang aku berpikir, mungkin Tuhan tak pergi. Mungkin Ia hanya menunggu manusia berhenti mencari-Nya di gedung-gedung tinggi dan mulai mencarinya di dalam diri. Tapi kota ini terlalu bising. Bahkan keheningan pun dibungkam oleh musik, iklan, dan ambisi yang tak pernah tidur. Dan di sanalah, perlahan tapi pasti, nurani terkubur hidup-hidup; tanpa upacara, tanpa doa, hanya diiringi suara tawa palsu dari manusia yang berpikir mereka sedang bahagia.

 

Lalu di tengah keadaan itu tumbuhlah anak-anak yang lahir dari dosa yang diwariskan, bukan dari kesalahan mereka sendiri, melainkan dari kepalsuan yang telah lebih dulu menua di dada orang dewasa. Mereka belajar berbohong bahkan sebelum tahu arti kebenaran. Mereka tumbuh di bawah langit yang penuh dusta, di mana kejujuran, kebenaran, dan keadilan hanya menjadi naskah dalam panggung sandiwara kehidupan, dibacakan dengan suara merdu tapi tanpa makna.

Mereka belajar tersenyum dari bibir orang dewasa yang menyembunyikan luka di balik gigi putih dan tawa yang dipoles di depan cermin. Mereka belajar berkata manis bukan karena ingin menenangkan hati, tapi karena takut kehilangan simpati. Mereka meniru cara berbohong seperti meniru cara berjalan; tanpa sadar, namun perlahan menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhnya.

Di ruang makan, mereka mendengar kebohongan kecil yang dibungkus sopan santun. Di ruang sekolah, mereka diajari bahwa angka lebih penting dari niat. Di ruang tamu, mereka melihat cinta pura-pura dipentaskan untuk tamu, lalu dibungkam begitu pintu tertutup. Di layar-layar, mereka menyaksikan kebaikan dijadikan tontonan, bukan tindakan. Dunia memperlihatkan pada mereka bahwa kejujuran hanyalah pilihan bodoh bagi mereka yang belum pandai menipu kenyataan.

Dan ketika mereka bertanya tentang kebenaran, orang dewasa hanya tertawa pelan, menepuk kepala mereka, dan berkata, “Nanti kau akan mengerti.” Tapi yang akhirnya mereka mengerti bukanlah kebenaran, melainkan cara bertahan di tengah kebohongan yang dijaga bersama.

Anak-anak itu kemudian paham, bahwa berbohong adalah bahasa untuk hidup lebih mudah. Bahwa menyenangkan orang lebih berharga daripada menjadi benar. Bahwa yang tampak bahagia lebih disukai daripada yang sungguh-sungguh damai. Mereka belajar dari tangan yang gemetar menulis kebenaran tapi takut menyuarakannya karena bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan teman, kehilangan panggung.

Dan begitulah kebohongan diwariskan, seperti doa yang tersesat di jalan pulang, seperti benih yang tumbuh di tanah retak tanpa pernah berbuah. Tak ada yang tahu kapan kejujuran berhenti tumbuh, tapi semua tahu bagaimana rasanya hidup tanpanya.

Kadang di malam yang panjang, anak-anak itu bermimpi menjadi manusia yang benar. Namun saat fajar datang, dunia telah menunggu dengan hukum yang lain: yang jujur akan kalah, yang licik akan naik, yang peduli akan hancur. Maka mereka belajar menelan air mata, menggantinya dengan tawa, dan menyebutnya kedewasaan.

Dan di situ di antara sisa kepolosan yang mulai membeku suara hati yang dulu lembut kini hanya berbisik lirih di antara debu lampu kota, “Beginikah caranya dunia menghapus cahaya dari mata anak-anaknya sendiri?”

Maka saat itulah langit mulai menolak membuka pagi. Dunia menyambut cahaya terang dari langit seolah itu pagi, padahal bukan. Itu kegelapan yang berselimut cahaya, cahaya yang dingin dan palsu, yang tak pernah benar-benar menyentuh langit. Cahaya itu hanya kebiasaan; pola yang diulang oleh bumi tanpa makna, tanpa jiwa.

Ia bukan lagi cahaya kebenaran, bukan cahaya keadilan, bukan pula kebijaksanaan yang dulu mampu mengetuk langit hingga langit rela membuka pintunya untuk memberi kehidupan.

Pagi kini hanyalah rutinitas yang berulang tanpa kesadaran. Langit menatap bumi dari kejauhan, melihat manusia berlarian dalam gelap yang mereka sebut terang.

Mereka menyembah sinar buatan, menyalakan ribuan lampu untuk menipu mata sendiri, agar tak melihat gelap yang mereka ciptakan di dalam diri. Matahari masih terbit, tapi tak lagi diundang oleh doa, hanya oleh jadwal. Tak ada hati yang menunggu fajar dengan harapan, tak ada jiwa yang berterima kasih pada cahaya. Dunia sibuk menyalakan dirinya sendiri, lupa bahwa terang sejati datang dari dalam.

Angin pagi pun kehilangan arah, tak tahu lagi harus membawa kesejukan ke mana. Ia hanya berputar di antara gedung, menabrak kaca dan logam, lalu jatuh lelah di bawah kaki manusia yang berjalan tanpa menoleh ke langit. Burung-burung pun enggan bernyanyi. Mereka tahu, nyanyian mereka tak lagi didengar oleh hati yang penuh notifikasi dan kebisingan.

Langit, yang dulu menjadi tempat pertemuan antara doa dan harapan, kini hanya menjadi layar besar bagi polusi cahaya. Di atas sana, bintang-bintang memudar pelan, tertutup karena lelah melihat manusia berpura-pura bahagia.

Dan bumi, dengan segala gegap gempita dan kesibukannya, tak menyadari bahwa ia sedang hidup tanpa pagi. Bahwa setiap terbit matahari hanyalah pengulangan tanpa makna, sekadar tanda bahwa waktu masih berjalan, bukan tanda bahwa hidup sedang dimulai.

Maka langit menutup dirinya rapat, bukan karena marah, tapi karena kecewa. Ia menunggu ada satu jiwa yang masih mau menatapnya bukan untuk meminta, tapi untuk mengingat. Menunggu ada satu manusia yang masih mau menyapa pagi dengan doa yang jujur, dengan hati yang masih bisa bersyukur tanpa alasan.

Dan hingga hari itu tiba, langit memilih diam. Ia menahan sinarnya seperti seorang ibu yang menahan tangis di depan anak-anaknya yang lupa pulang. Ia tahu, cahaya yang dipaksakan tak akan pernah membawa terang.

Di bawah sinar yang tak lagi bersinar bersama doa-doa, di sebuah taman yang dulu penuh burung dan nyanyian, cinta mati perlahan. Ia dibunuh oleh debat panjang tentang siapa yang lebih benar, siapa yang lebih pantas disebut korban. Orang-orang kini mencintai untuk menang, bukan untuk mengerti. Di setiap kata aku peduli, terselip ambisi yang dibungkus moralitas.

Kepedulian bukan lagi kepedulian. Ia menjelma drama panjang di layar-layar, dengan musik lembut dan cahaya hangat, agar manusia tampak mulia. Tapi di baliknya, hanya ada naskah yang dihafal dengan sempurna; tentang bagaimana terlihat baik tanpa benar-benar menjadi baik. Tidak ada lagi tangan yang menolong tanpa kamera. Tidak ada lagi hati yang menenangkan tanpa panggung. Kebaikan kini berpose, tersenyum, lalu berjalan pergi setelah semua sorot cahaya padam.

Dan di sela tepuk tangan yang bergema dari layar ke layar, ada jutaan kebusukan yang tak bisa difilter. Ia mengendap di balik senyum selebritas rohani, di balik kata-kata motivasi yang dipoles, di balik mata yang pura-pura lembut tapi hanya menilai siapa yang pantas diberi kasih dan siapa yang tidak. Dunia memuja kebaikan yang bisa dijual, dan membuang keheningan yang tulus tanpa tanda tangan dan merek.

Cinta yang dulu sederhana kini tercekik oleh logika pasar. Ia tak lagi bicara dengan hati, tapi dengan algoritma. Ia dihitung dengan jumlah suka dan komentar, dinilai dari seberapa sering dibagikan. Orang-orang belajar berempati dengan cepat, dan melupakannya lebih cepat lagi. Cinta kehilangan ruangnya untuk tumbuh, kehilangan kesabarannya untuk menunggu.

Dan di taman itu, tempat burung dulu bernyanyi, hanya tersisa angin yang mengaduh pelan, membawa sisa-sisa kata yang tak sempat diucapkan dengan tulus. Di bangku kayu yang lapuk, ada jejak seseorang yang pernah duduk di sana, menulis puisi untuk manusia, lalu berhenti karena menyadari manusia kini hanya membaca puisi yang bisa dijadikan iklan.

Cinta tak mati karena kebencian. Ia mati karena kehilangan tempat untuk dipercaya. Ia mati di antara debat politik, di antara meja perundingan yang penuh ego, di antara lidah-lidah yang membela kebenaran tapi tak pernah mencintainya.

Dan malam pun turun, menutup taman itu dengan langit kelabu. Rembulan menatap dari jauh, berduka dalam diam, mencari satu manusia yang masih berani mencintai tanpa pamrih. Tapi manusia kini sibuk memperdebatkan definisi cinta, sibuk menulis narasi siapa yang lebih layak disebut penyayang.

Padahal, cinta tak butuh pembelaan. Ia hanya butuh tempat untuk hidup kembali, di hati yang berani diam tanpa panggung, memberi tanpa tanda, mencintai tanpa perlu terlihat.

Dan malam pun turun perlahan, tapi bintang-bintang menolak bersinar. Mereka malu menyaksikan manusia yang menatap langit hanya untuk berdoa agar bisnisnya sukses atau lawannya hancur. Di bawahnya, bulan pun turun, pelan-pelan, menapaki jalan kosong, mencari sisa manusia yang masih jujur, yang masih menatap langit bukan untuk meminta, tapi untuk mengingat.

Namun setelah malam panjang berjalan, manusia seperti itu tak juga ditemukan. Bahkan dari balik pondok-pondok kecil dengan kayu keropos dan atap lapuk, transaksi masih terjadi; dari yang menua bersama waktu hingga yang baru lahir bersama air mata. Segalanya diperjualbelikan: cinta, doa, bahkan rasa malu.

Kemiskinan tak lagi melahirkan kasih dan keadilan, sebagaimana kekayaan tak pernah melahirkan kebenaran dan welas asih.

Manusia kini memikul dosa mereka sendiri dengan kepala menengadah dan dada membusung, seolah itu kebanggaan. Mereka berjalan di bawah cahaya lampu yang memantulkan bayangan diri, bukan cahaya nurani. Mulut mereka mengucap nama Tuhan, tapi hati mereka menyembah keberuntungan. Mereka mencium tanah suci bukan untuk bersyukur, melainkan agar dunia melihat bahwa mereka pernah bersujud di sana.

Bulan berhenti di tepi sungai, memandangi air yang hitam oleh pantulan kota. Ia mencari wajah manusia yang masih bening, tapi hanya menemukan topeng-topeng yang terapung, saling menatap tanpa mata. Angin malam berhembus pelan, membawa doa-doa yang kehilangan makna, berbaur dengan debu dan kebisingan yang tak pernah tidur.

Di langit, bintang-bintang menggigil. Mereka ingin bersinar, tapi takut disalahartikan sebagai tanda keberuntungan bagi yang menindas, atau pertanda kemenangan bagi yang tamak. Dunia terlalu bising untuk mendengar kebenaran. Terlalu silau untuk melihat kesederhanaan.

Dan bulan, dengan cahaya yang mulai pudar, hanya berbisik pada dirinya sendiri,
“Apakah manusia benar-benar lupa bahwa kejujuran adalah satu-satunya cahaya yang tak bisa dipadamkan bahkan oleh malam paling gelap?”

Ia lalu menatap sekali lagi ke bawah, ke bumi yang kini tak lagi menatap ke atas. Hening menggantung di antara langit dan tanah, seperti doa yang tak menemukan arah. Hanya sunyi yang masih setia menunggu, menunggu satu manusia yang berani jujur tanpa ingin dilihat, yang berani mencintai tanpa ingin diingat, yang berani hidup tanpa harus menang.

Saat itulah bintang pertama jatuh. Lalu yang kedua. Lalu ratusan lainnya, hujan bintang membanjiri langit kelam republik itu.

Setiap bintang membawa cahaya kecil, bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk mengingatkan.

Bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam, hanya bersembunyi dari manusia yang tak lagi mencarinya dengan hati.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, langit kembali menangis. Tapi tangisnya bukan ratapan, melainkan doa. Doa agar manusia, di antara reruntuhan sistem dan kekuasaan yang mereka bangun sendiri, masih bisa menemukan secuil cahaya yang benar-benar datang dari dalam dirinya sendiri.

Sayangnya tak ada yang mengangkat kepala ke langit untuk melihat bintang berjatuhan atau menundukkan kepala saat serpihannya berguguran. Wajah mereka hanya memandang layar dan tertawa dalam kesombongan.

Pikiran mereka sibuk menghitung angka dan peluang, membangun takhta di atas grafik keuntungan. Hati mereka terlupakan, dibiarkan berdebu di sudut dada yang kian sunyi.

Begitulah kehidupan dijalankan oleh para manusia yang telah lupa bagaimana caranya jatuh cinta tanpa sorot kamera, lupa bagaimana memeluk tanpa alasan, lupa bagaimana menolong tanpa disorot atau dipuji. Mereka lupa bagaimana menjalankan kebenaran tanpa menyalahkan, bagaimana menerapkan keadilan tanpa menimbang nama dan warna, bagaimana menyebut kata kemanusiaan tanpa pamrih tersembunyi di baliknya.

Dan malam itu, ketika hujan bintang mulai mereda, langit tampak seperti tubuh luka yang perlahan menutup dirinya kembali. Bumi masih bising, namun tidak satu pun suara benar-benar hidup.

Lampu-lampu kota menyala, tapi tak satu pun memantulkan jiwa. Bulan berhenti di atas reruntuhan menara doa, memandangi kota yang tenggelam oleh cahaya palsu; cahaya yang tidak menghangatkan, hanya membutakan.

Di jalanan, anak-anak tertidur dengan ponsel di tangan, meniru kebiasaan orang dewasa yang lebih pandai berbohong daripada bermimpi.

Di layar-layar besar, cinta diperdagangkan dalam bentuk tayangan, dalam kata manis dan musik sedih yang dijual dengan sponsor di sudutnya.

Lalu, dari kejauhan, bintang terakhir jatuh. Cahayanya redup tapi bersih, menembus langit kelabu dan menyentuh tanah yang penuh retakan. Ia tidak menyelamatkan, tidak pula menegur. Ia hanya diam di sana, seperti rahasia kecil dari semesta yang menolak padam.

Dan entah kenapa, di tengah kebisingan, angin tiba-tiba berbisik pelan, hampir seperti doa yang lupa jalan pulang: “Masih ada waktu. Jika manusia mau menatap ke dalam dirinya sendiri.”

Kamis, 08 Januari 2026

Nurani Yang Dibuang Ke Udara

 



Waktu terus berjalan, dunia terus berputar, dan musim silih berganti tanpa henti. Di tengah perjalanan panjang itu, nurani perlahan memudar. Ia terlepas ke udara bukan untuk diterbangkan kepada langit sebagai doa-doa yang lahir dari harapan, melainkan sebagai sesuatu yang tak lagi dianggap berguna, layak dibuang begitu saja.

Manusia kini berdoa bukan untuk mendekat pada cahaya, tetapi untuk menegosiasikan nasib. Doa dijual sebagai janji, ditukar dengan suara, dengan angka, dengan kekuasaan. Setiap sujud menjadi transaksi; setiap “amin” berubah menjadi kontrak yang tak lagi menyentuh hati, hanya menyentuh kepentingan. Langit mendengar ribuan suara, tapi hanya sedikit yang benar-benar datang dari jiwa.

Mereka mencari Tuhan di tempat yang berkilau, di gedung-gedung megah, di antara lampu dan kamera, di balik tirai simbol-simbol yang dibersihkan setiap hari tapi tak pernah benar-benar suci. Padahal Tuhan selalu tinggal di hati yang sederhana, di tangan yang memberi tanpa nama, di napas yang mengucap terima kasih meski dunia tak adil. Kini hati itu kosong. Sunyi. Tuhan dipanggil dengan suara keras, tapi tak satu pun yang benar-benar menunggu jawaban-Nya.

Doa telah berubah menjadi mata uang baru. Ia bisa dibeli, dijual, dipamerkan di panggung, diselipkan di pidato. Bentuknya yang lembut, aroma kemanusiaannya yang dulu naik perlahan seperti asap dupa ke langit yang tenang, kini hilang. Doa bergegas, berteriak, berlomba, saling menyingkirkan satu sama lain demi mendapat perhatian lebih cepat, lebih banyak, lebih viral.

Di tengah hiruk-pikuk itu, manusia lupa makna paling sunyi dari doa: diam. Keheningan di mana hati bertemu dengan yang Ilahi tanpa saksi, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan. Bahkan kesunyian pun kini dijual, seperti semua hal yang dulu suci menjadi komoditas.

Waktu terus berlari, tapi arah batin manusia semakin kabur. Mereka berjalan dengan tubuh tegak, namun hati tertunduk, seolah mencari sesuatu yang hilang tanpa tahu apa yang mereka cari. Menatap langit, tapi tak melihat Tuhan. Menatap cermin, tapi tak melihat diri sendiri.

Lalu perlahan, keimanan mulai digadaikan. Ia dinaikkan ke atas panggung, dilontarkan dalam bentuk kata-kata, jubah panjang yang ekornya menyentuh mimbar-mimbar, tapi kebenaran, kesucian, dan keimanannya tak pernah menyentuh urat nadi manusia sendiri. Ia menjadi pertunjukan, ritual megah di permukaan, namun sunyi dari hati yang dulu memanggil-Nya dengan tulus, karena pada masa ini tak ada lagi ketulusan dalam cinta yang pernah begitu kuat mencengkram langit, mengetuk pintu-pintu di mana doa dulu terwujud melalui cinta.

Mereka menjadikannya alat untuk menghakimi satu sama lain, memutuskan dosa dan pahala bagi mereka yang tak sepaham, menobatkannya sebagai kebenaran mutlak, selamanya dibungkus janji surga bagi yang tunduk dan ancaman neraka bagi yang melawan. Sedikit pun mereka tidak berpikir tentang esensi kebenaran itu sendiri; tentang keadilan, kasih, dan kemanusiaan yang seharusnya menjadi bagian dari iman.

Doa tak lagi mengalir dari hati yang hening; ia menjadi teriakan di panggung yang dipenuhi sorak dan tepuk tangan. Keheningan yang dulu menjadi jembatan antara manusia dan yang Ilahi kini digantikan gema instruksi dan perintah, simbol yang tampak suci tapi kosong makna.

Dan manusia? Mereka tersesat. Mencari Tuhan bukan di dalam hati sendiri, tetapi di balik jubah panjang, di antara kata-kata yang megah tapi kosong, di mimbar yang tinggi dan jauh. Mereka menelan aturan, menelan dogma, menelan ketakutan, berharap keselamatan datang dari panggung yang sama sekali tidak pernah memeluk mereka.

Di tengah gemerlap pertunjukan itu, nurani mulai memudar perlahan, seolah tertelan bayangan besar yang mereka kira cahaya. Mereka lupa bahwa iman sejati tidak butuh panggung, tidak butuh sorak, tidak butuh pengakuan orang lain. Iman itu sederhana, lahir dari hati yang jujur, dari tangan yang memberi tanpa pamrih, dari air mata yang menetes tanpa ingin diperhitungkan.

Namun panggung tetap berdiri, jubah tetap berkibar, dan manusia berjalan di bawahnya dengan mata yang kosong, mencari Tuhan di tempat yang salah, mengira gema panggung adalah suara-Nya. Dan di sana, di antara kata-kata berserakan dan tepuk tangan yang menggema, hanya hati yang tersisa menunggu; menunggu manusia mengingat bahwa iman bukan tontonan, tapi perjalanan yang hanya bisa dirasakan dalam sunyi.

Kemudian, di tengah semua itu, hati kecil yang disembunyikan di balik layar tetap ada. Meski tak diberi ruang untuk bersuara, bahkan perlahan dicoba untuk dibungkam, bahkan dibunuh, dengan alasan bahwa hidup membutuhkan logika, bukan perasaan.

Lucunya, semua manusia seakan membenarkannya, lupa bahwa mereka dulu tercipta bukan dari logika, melainkan dari cinta. Logika hanyalah alat untuk membuat mereka mampu bertahan hidup dengan tubuh yang membutuhkan asupan fisik agar tetap berdiri.

Namun tubuh bukanlah satu-satunya yang perlu dijaga. Ada nyawa, ada jiwa, ada hati bagian dari manusia yang tidak membutuhkan makanan fisik untuk tetap hidup. Mereka tetap bertahan karena cinta, karena kehendak-Nya, karena dorongan tak terlihat yang menjaga keberadaan dalam kehidupan yang selalu bergerak, selalu berubah, dan mungkin suatu saat akan berakhir.

Hati kecil itu, meski tersembunyi, tetap berdegup. Ia menyimpan peringatan lembut: bahwa manusia tidak boleh sepenuhnya menyerahkan dirinya pada logika semata, karena logika tanpa cinta hanyalah tubuh yang berdiri tanpa jiwa, jiwa yang berjalan tanpa arah, hati yang diam tanpa arti.

Ia menunggu di antara bayang-bayang, menunggu manusia kembali mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang merasakan; merasakan keadilan, kemanusiaan, kasih, dan Tuhan yang selalu ada di ruang paling sunyi, di dalam hati yang masih berani mendengarkan.

Sayangnya, hati itu tak juga terbuka dan mau mendengarkan. Sebaliknya, hati dibungkam oleh manusia yang masih takut berbuat baik. Mereka takut kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan popularitas, karena kebaikan telah dianggap kuno, sebuah kata yang terlalu lembut untuk dunia yang menuntut kerasnya ambisi. Kebaikan yang ada hanya tampil di layar-layar sebagai panggung, sebagai cerita fiksi yang dipuji, dikomentari, dan diulang-ulang, tapi tak pernah dianggap sebagai nilai yang perlu dijalankan sebagai manusia.

Mereka menahan tangan untuk memberi, menahan suara untuk menegur, menahan hati untuk merasakan. Senyum yang tulus ditukar dengan sandiwara, kata-kata yang hangat diganti dengan perhitungan, dan kasih yang sederhana ditutupi tirai strategi. Setiap langkah kebaikan menjadi taruhan; takut dianggap lemah, takut tersisih, takut dicemooh. Akhirnya, yang tersisa hanyalah bayangan dari apa yang seharusnya manusia; tubuh yang berdiri, mata yang menatap, tapi hati yang menunduk.

Dan di balik semua itu, hati kecil tetap menunggu. Ia menunggu keberanian untuk menembus ketakutan, menunggu manusia berani melakukan hal yang benar, meski dunia menertawakan, meski kekuasaan mengintimidasi, meski popularitas menjauh.

Ia menunggu manusia menyadari bahwa berbuat baik bukan soal hadiah, bukan soal pengakuan, tapi tentang menjaga jiwa tetap hidup, menjaga nurani tetap bernyala di tengah gelapnya dunia.

Di tengah hiruk-pikuk ambisi, hati kecil itu tetap berdegup. Ia mengingatkan bahwa kebaikan yang diam, yang sederhana, yang tak ditayangkan justru itulah yang paling kuat. Ia adalah suara Tuhan yang lembut, hadir di setiap langkah manusia yang berani menundukkan ego, di setiap tangan yang memberi tanpa menunggu balasan, di setiap doa yang tak pernah dipentaskan.

Namun, dunia terlalu bising, dan manusia terlalu sibuk menutupi hatinya dengan logika, ambisi, dan ketakutan. Akhirnya, banyak yang berjalan tanpa mendengar, tanpa merasakan, dan tanpa berani menapak di jalan yang sunyi tapi benar.

Hingga hari itu, untuk pertama kalinya akhirnya keadilan mulai disuarakan, meski terdengar sangat jauh. Keadilan, kebenaran mulai bersuara; mereka menangis di depan gedung parlemen, berlutut di hadapan muka penguasa yang justru tertawa, menyingkir, menghindar, hingga memaksa yang lembut menjadi brutal, yang baik menjadi jahat, yang ingin bicara menjadi berteriak. Dan amarah yang lahir dari kelelahan karena terus diinjak-injak kekuasaan, disebut sebagai pemberontakan, kerusuhan, dan pelakunya layak diadili bahkan tanpa hukum, tanpa keadilan, hanya berdasarkan kehendak penguasa.

Di antara tangis itu, manusia mulai melihat betapa kerapuhannya hati yang menuntut kebenaran bisa disalahartikan, bagaimana kesabaran yang panjang bisa dibelokkan menjadi ancaman. Mereka berteriak bukan karena haus kekerasan, tetapi karena haus keadilan yang tak kunjung datang. Dan di saat itu pula, wajah manusia terlihat samar antara kelelahan dan harapan, antara takut dan keberanian, antara patah dan menolak tunduk.

Gedung parlemen berdiri tinggi, dingin, seolah menertawakan setiap air mata yang menetes di tangga, setiap bisik keadilan yang hilang di antara kolom-kolom batu. Namun, meski suara mereka diterkam oleh dinding-dinding kekuasaan, hati kecil tetap berdengung; ingat bahwa kebenaran tidak bisa dibungkam selamanya, bahwa keadilan yang tulus lahir dari kesabaran yang panjang, dari kesunyian yang tak menyerah, dari keberanian yang tidak menuntut pujian.

Manusia menyadari bahwa mencari kebenaran di antara gedung-gedung megah yang dibangun atas ambisi dan kepentingan kadang membuat hati tersesat. Mereka belajar, perlahan, bahwa kekuasaan dapat menutup mata penguasa, dapat memutarbalikkan hukum, tetapi tidak dapat menutup mata nurani yang sadar. Dan di balik keramaian, di balik teriakan, ada hati-hati kecil yang masih mampu menangis, masih mampu bersuara, masih mampu menyalakan percikan kebenaran yang tidak akan padam.

Keadilan dan kebenaran menangis, tapi tangis itu bukan hanya ratapan; ia adalah doa, adalah perlawanan, adalah cahaya kecil yang bersinar di tengah gelap gedung dan hati manusia yang mulai hilang arah. Dan bagi mereka yang masih mampu mendengar, tangis itu menjadi pengingat bahwa meski dunia penuh kekuasaan dan tipu daya, keadilan tetap hidup di hati yang tidak mau menyerah.






Kamis, 01 Januari 2026

Cinta di Tengah Revolusi

 


Ada seseorang yang masih mencintai negerinya. Bukan dengan bendera di tangan, bukan dengan teriakan di jalan, tapi dengan doa yang dibisikkan pelan di antara hembusan malam. Ia tahu, di masa ini mencintai terlalu terang bisa dianggap ancaman. Bahkan berdoa terlalu keras bisa dituduh sebagai bentuk perlawanan. Maka ia mencintai dalam diam, seperti akar yang tetap bekerja meski tak terlihat, seperti hujan yang jatuh perlahan agar tak menakuti tanah.

Setiap pagi ia menatap langit yang pucat dan berbisik, “Semoga hari ini negeri ini sedikit lebih jujur.” Tidak banyak yang tahu bahwa dalam setiap langkah kecilnya, ia sedang menahan luka besar yang tak sempat disembuhkan sejarah. Ia bukan pahlawan, bukan juga penjahat. Ia hanya manusia yang menolak berhenti percaya meski semua alasan untuk percaya telah dicuri oleh waktu.

Ia mencintai negerinya seperti seseorang mencintai kekasih yang telah berkhianat: dengan air mata yang tetap hangat, dengan dada yang tetap terbuka, meski tahu pelukan itu tak akan pernah kembali. Ia menanam bunga di tanah yang retak, meski tahu mungkin tak akan sempat melihatnya mekar. Karena baginya, mencintai bukan tentang memiliki, tapi tentang menjaga yang dicintai agar tak sepenuhnya binasa.

Kadang ia berdiri di tengah keramaian, menyaksikan wajah-wajah yang menua oleh kecewa, dan hatinya bergetar. Di matanya, rakyat bukan sekadar rakyat; mereka adalah bait-bait puisi yang ditulis Tuhan dengan huruf luka dan tinta ketabahan. Ia tahu, bangsa ini sakit, tapi ia juga tahu: bahkan tubuh yang lemah masih bisa berjuang untuk hidup.

Malam-malamnya diisi dengan doa yang ia sembunyikan di balik jendela. Doa agar mereka yang berkuasa mengingat kembali makna melayani. Doa agar bumi tempatnya berpijak berhenti menelan darah yang tak bersalah. Doa agar nurani yang hampir padam itu menemukan bara kecil untuk menyala lagi. Ia tidak berteriak, tidak memukul meja, tapi setiap tetes air matanya adalah bentuk paling sunyi dari revolusi.

Cintanya tidak tercatat dalam buku sejarah. Namanya tidak diabadikan dalam monumen atau lagu perjuangan. Tapi cinta seperti itulah yang membuat dunia tidak sepenuhnya runtuh. Cinta yang lembut, diam, tapi mengguncang. Cinta yang menolak mati, meski semua yang hidup di sekitarnya telah menyerah.

Dan mungkin di tengah segala kebisingan dusta dan kebanggaan palsu Tuhan lebih mendengar doa orang seperti dia. Yang tidak berkuasa, tidak terkenal, tapi tetap memilih mencintai tanah airnya dengan cara yang paling murni: dengan kesetiaan yang tak bersuara, dengan keyakinan bahwa kebenaran, meski disembunyikan, akan selalu menemukan jalannya pulang.

Lalu pada tengah malam yang sunyi ia mulai memberanikan diri menulis surat cinta untuk keadilan meski harus dengan air mata sebagai tintanya, kemiskinan sebagai kertasnya dan darah sebagai stempelnya sekalipun pada akhirnya surat-surat itu hanya melayang di udara kekuasaan tanpa pernah sampai di atas wajah kebenaran atau di meja keadilan yang kini telah digadaikan pada ruang-ruang kekuasaan.

Ia menulis dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tapi karena hatinya terlalu penuh oleh sesuatu yang tak bisa lagi ia tahan. Kata-kata mengalir pelan, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah denyut terakhir dari nurani yang mencoba bertahan di dunia yang kian asing bagi kebenaran.

“Untukmu, keadilan,” tulisnya di baris pertama, “yang dulu kukenal sebagai cahaya, tapi kini hanya tampak seperti bayangan panjang dari lampu-lampu palsu di gedung tinggi.”

Setiap kalimatnya terasa seperti doa yang patah di tenggorokan. Ia menulis tentang anak-anak yang tertidur dalam lapar, tentang ibu-ibu yang berdoa tanpa suara, tentang ayah yang kehilangan tanah, tentang saudara yang kehilangan nama. Ia menulis tentang manusia yang kini dihitung bukan dari jantungnya, tapi dari berapa banyak yang sanggup ia bayar.

Ia tahu surat itu tak akan pernah dibaca oleh mereka yang duduk di singgasana, tapi ia tetap menulis karena cinta, bagi dirinya, bukan soal didengar, melainkan soal tetap percaya. Ia percaya bahwa di antara debu-debu jalan dan reruntuhan nurani, masih ada seseorang yang diam-diam menunggu surat seperti itu.

Setiap kalimatnya adalah luka yang disulam menjadi harapan. Setiap titiknya adalah perhentian dari napas yang hampir padam. Ia menulis dengan keyakinan bahwa mungkin suatu hari nanti, angin akan membawa surat-surat itu ke tangan yang tepat: tangan yang masih bergetar saat melihat ketidakadilan, tangan yang masih tahu bagaimana rasanya memegang hati sendiri tanpa menukarnya dengan kekuasaan.

Ia menulis bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk menjadi pengingat. Bahwa cinta sejati tak selalu tentang memeluk, kadang tentang menegur. Bahwa mencintai tanah air bukan hanya tentang bendera dan lagu, tapi tentang keberanian untuk menangis demi manusia yang tak pernah dikenal namanya.

Dan ketika fajar mulai menyingkap langit yang abu-abu, ia melipat suratnya dengan hati-hati, meniupkan doa terakhir sebelum melepaskannya pada angin.

Barangkali surat itu akan jatuh di jalanan yang kotor, atau tersangkut di dinding istana, atau terbakar di tangan penjaga. Tapi ia tahu, setiap huruf yang ia tulis akan tetap hidup di udara, menyusup ke paru-paru siapa pun yang masih percaya bahwa keadilan bukan milik penguasa, melainkan milik hati yang berani mencintai tanpa pamrih.

Malam itu, ia tak lagi menangis. Karena di dalam dirinya, cinta dan luka akhirnya bersatu menjadi satu hal yang tak bisa dimusnahkan: kesetiaan pada kebenaran, meski seluruh dunia memilih untuk memalingkan wajah.

Maka demikianlah kasih yang terlahir dari penderitaan, tercipta dari air mata namun tetap bisa mencintai, diam-diam meniupkan doa agar suatu hari nanti setiap harapan terwujud, setiap kebenaran menemukan tempatnya bersuara dan setiap keadilan mendapatkan tempatnya untuk berani berperang melawan kekuasaan.

Kasih semacam itu tidak tumbuh dari tawa atau kebahagiaan, melainkan dari luka yang terus menetes perlahan di dada yang tak pernah sempat sembuh. Ia lahir di antara reruntuhan nurani dan nyala kecil yang bertahan di bawah timbunan dusta. Ia tak menuntut balas, hanya ingin bertahan agar dunia tak sepenuhnya beku.

Kasih itu tak mengenakan pakaian indah. Ia berjalan dengan kaki telanjang di jalan penuh duri, tapi tetap menunduk pada bumi, mencium debunya, mencintainya, meski bumi itu kini diwarnai darah dan kebohongan. Ia tahu bahwa tanah air bukan selalu tempat yang membahagiakan; kadang, ia adalah luka yang harus kau peluk agar tak membusuk.

Dari kasih yang lahir dalam penderitaan, manusia belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki, tapi menjaga agar kebaikan tak punah. Bahwa memperjuangkan kebenaran bukan karena ingin menang, tapi karena tak sanggup melihat yang lemah terus ditindas.

Kasih seperti itu tidak bersuara lantang di podium, tidak memiliki panggung, tidak memerlukan tepuk tangan. Ia hidup dalam tindakan kecil yang sering tak dilihat siapa pun; dalam tangan yang membagi roti terakhirnya, dalam langkah yang tetap menolong meski dunia memunggunginya, dalam doa yang tak disebutkan namanya di catatan sejarah.

Ia mencintai bukan karena berharap negeri ini akan berubah esok, tapi karena tahu bahwa jika tak ada yang mencintai dalam diam, negeri ini akan mati tanpa pernah sempat ditebus.

Maka kasih itu terus bernafas dalam sunyi. Ia seperti embun yang jatuh di atas luka bumi, menenangkan meski tak menyembuhkan sepenuhnya. Ia seperti cahaya tipis di antara kabut kelam, rapuh namun cukup untuk menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat.

Dan mungkin, hanya kasih semacam itu yang mampu melawan kekuasaan: bukan dengan senjata, tapi dengan kesetiaan. Bukan dengan teriakan, tapi dengan keberanian untuk tetap lembut di dunia yang keras.

Karena pada akhirnya, yang akan menyalakan kembali cahaya bukanlah kemarahan, melainkan kasih yang menolak padam, kasih yang lahir dari penderitaan, tapi menolak menjadi kebencian. Kasih yang mengingatkan kita bahwa di antara reruntuhan, manusia masih punya satu hal yang tak bisa dirampas: hati yang masih berani mencintai, bahkan pada dunia yang telah melupakannya.

Demikianlah cinta diam-diam menjadi perlawanan, bukan dengan senjata yang dilepaskan, teriakan yang diperdengarkan, atau caci maki yang dilontarkan dan melahirkan amarah-amarah baru yang membangunkan kebencian, kekacauan, dan terkadang dimanipulasi hingga tujuan sebuah kebenaran, perjuangan keadilan tak sepenuhnya mencapai tempatnya tapi hanya muncul dalam wujud kerusuhan yang tak sepenuhnya melahirkan apa yang menjadi tujuan perjuangan itu sendiri.

Cinta semacam itu bergerak lembut, seperti angin yang menyingkap tirai kegelapan tanpa menumbangkan rumah. Ia hadir dalam bisikan yang tidak terdengar, dalam tindakan kecil yang dianggap remeh, namun menggetarkan pondasi kekuasaan yang sombong. Ia menolak menyerah pada aturan yang menindas, tapi juga menolak membiarkan diri berubah menjadi kebencian.

Orang-orang yang mencintai seperti ini berjalan di antara reruntuhan, menatap mata yang kosong, menyentuh tangan yang dingin, dan tetap menaburkan keberanian di atas tanah yang beku. Mereka menulis di dinding sunyi, menanam benih keadilan di celah beton, menyulam kata-kata kebenaran di udara agar suatu hari, meski tidak mereka saksikan, generasi yang datang bisa membaca jejaknya.

Perlawanan mereka tak mengumbar darah, tapi memantik cahaya; tak menginginkan pujian, tapi menumbuhkan keberanian. Setiap tindakan yang terlihat sepele; mengumpulkan makanan untuk yang lapar, menolong anak yang tersesat, membela yang tak bersuara adalah ketukan kecil yang perlahan memecah kaca-kaca ketidakadilan.

Cinta diam-diam menjadi perlawanan karena ia tahu: kekuasaan bisa menaklukkan tubuh, tapi tidak bisa menundukkan nurani yang mencintai kebenaran. Ia tidak berteriak agar didengar, tetapi ia berbisik agar diingat. Ia tidak menuntut balas, karena keadilan yang sejati tidak meminta, ia hadir di mana pun ada hati yang masih berani.

Dan meski dunia kadang menolak melihatnya, meski kekuasaan mencoba menghapus setiap jejak, cinta itu tetap ada mengalir di antara celah-celah kota, merayap di antara reruntuhan hati manusia, menunggu saatnya untuk membangkitkan kembali keberanian yang pernah mati.

Perlawanan yang lahir dari cinta diam-diam ini bukan sekadar melawan yang nyata, tapi juga melawan yang tak terlihat: ketakutan, kepasrahan, dan lupa akan kemanusiaan sendiri. Dan dalam diamnya, ia mengguncang lebih keras daripada seribu teriakan, lebih tajam daripada ribuan pedang, karena ia lahir dari sesuatu yang tak bisa dicuri: hati yang mencintai, meski seluruh dunia menutup telinga.

            Dan diantara puing-puing harapan yang remuk, ia masih menunggu. Bukan menunggu kemenangan yang gemilang, bukan menunggu tepuk tangan atau sorak sorai yang meneguhkan, tapi menunggu saat di mana keadilan bisa kembali bernapas, di mana kebenaran tak lagi tersandera oleh nafsu kekuasaan, dan di mana manusia belajar menatap satu sama lain dengan mata yang tidak dibutakan oleh ambisi.

Ia duduk di atas reruntuhan, dengan dada yang lelah tapi hati yang tak menyerah. Debu menempel di rambutnya, luka masih membekas di kulit, tapi jiwanya berpendar lembut, seperti sisa cahaya di langit senja yang enggan padam. Dalam sunyinya, ia menaburkan doa seperti biji-biji kecil: agar negeri ini kembali memiliki nurani, agar cinta yang lahir dari penderitaan menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat.

Di sekelilingnya, dunia bisa saja tetap kacau, gelap, penuh kepalsuan, tapi ia tetap menunggu. Karena ia tahu, menunggu bukan berarti pasif. Menunggu adalah tindakan paling berani ketika semua orang menyerah pada keputusasaan; menunggu adalah perlawanan yang paling lembut, paling mengguncang, karena hadir tanpa teriakan tapi tetap menegaskan keberadaan nurani.

Kadang angin membawa debu dan sisa-sisa harapan yang patah menampar wajahnya, tapi ia menatap langit dan tersenyum. Setiap puing yang jatuh di bumi adalah saksi bahwa meski dunia bisa runtuh, cinta yang tulus tetap hidup di antara reruntuhan itu.

Dan di sana, di antara puing-puing harapan yang terserak, ia tetap berdiri; diam, lembut, namun mengguncang. Menunggu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua yang pernah terluka, semua yang pernah lupa cara mencintai, dan semua yang pernah kehilangan keberanian untuk percaya.

Karena pada akhirnya, meski dunia tampak hancur, cinta yang lahir dari kesedihan, dari kesetiaan, dari keikhlasan… adalah sesuatu yang tak bisa dihancurkan. Ia menunggu, dan melalui menunggunya itu, ia mengajarkan bahwa masih ada jalan untuk kembali pulang; kepada kemanusiaan, kepada kebenaran, dan kepada tanah air yang meski terluka, tetap layak dicintai.

Sabtu, 27 Desember 2025

Negeri yang Mengapung di Antara Luka

 


Ada sebuah negeri yang dulu indah, terbuat dari cahaya yang menetes dari jari-jari langit. Di sanalah angin pernah berdoa, dan burung-burung bernyanyi tanpa tahu makna kehilangan. Namun waktu berjalan seperti pisau tumpul yang lambat mengiris, menyisakan luka, tapi tak segera mematikan.

Kini negeri itu menggantung di antara luka dan ingatan. Gunung-gunungnya masih berdiri, tapi puncaknya telah dijual pada kekuasaan. Sungai-sungainya masih mengalir, tapi airnya telah menjadi asin oleh air mata rakyatnya sendiri.

Di tanah itu, orang-orang harus makan lumpur agar tetap hidup. Anak-anak menangis darah untuk bisa bernafas satu hari lagi, sementara para wanita dipaksa melahirkan emas dan berlian yang bukan untuk mereka melainkan untuk menambal singgasana penguasa yang haus kuasa. Mereka tertawa di bawah nafsu kekuasaan yang memaksa mereka menelanjangi martabatnya sendiri, hingga akhirnya mereka berjalan di atas bumi tanpa sehelai pun pakaian yang dulu disebut kehormatan.

Dan semua itu… demi sesuatu yang disebut kekayaan, demi kata kosong bernama kejayaan.

Istana mereka menjulang tinggi, dindingnya dipahat dari tulang rakyat. Meja-mejanya berat oleh piala dan darah. Mereka bersulang untuk kemenangan yang tak pernah benar-benar mereka menangkan, karena di bawah kaki mereka, bumi merintih pelan.

Lalu datanglah masa di mana cahaya dan gelap sudah tak lagi bisa dibedakan. Manusia saling membunuh bukan karena lapar, tapi karena tak ingin kalah. Mereka menciptakan senjata dari rasa takut, memelihara kebencian seperti hewan peliharaan yang diberi makan setiap hari.

Langit menyaksikan itu semua dengan wajah kelabu. Darah menetes di antara akar-akar, menumbuhkan bunga-bunga kematian yang bermekaran di jalanan. Anak-anak kecil tumbuh tanpa mengenal suara tawa, hanya dentum, hanya jerit, hanya doa yang putus di tengah udara.

Mereka menyebutnya perang. Tapi perang itu tak lagi tentang tanah, tak lagi tentang keadilan melainkan tentang siapa yang masih bisa memegang kuasa, meski dengan tangan berlumur darah.

Dan negeri itu… negeri yang dulu dilahirkan dari cahaya, kini mengapung di antara luka. Ia tak lagi berpijak di bumi, karena bumi telah terlalu lelah menanggungnya. Ia juga tak sepenuhnya berada di langit, karena langit telah menutup matanya. Maka ia menggantung seperti roh yang kehilangan tubuh, seperti doa yang tak sampai, seperti nama yang terus disebut tapi tak lagi berarti.

Namun, di antara reruntuhan dan debu, masih ada sesuatu yang berpendar. Sebuah nyala kecil di mata seorang anak yang menatap langit tanpa takut. Ia tidak tahu siapa yang benar atau salah, tidak tahu tentang emas, tidak tahu tentang kuasa. Ia hanya tahu satu hal: dunia ini seharusnya tidak sekelam ini.

Dan mungkin, di matanya yang kecil itu, langit mulai membuka mata sedikit demi sedikit, seolah ingin mengingatkan bahwa di balik kehancuran, masih ada kemungkinan bagi cahaya untuk lahir lagi, meski dari luka yang paling dalam.

Sebab bahkan di negeri yang mengapung di antara luka, masih ada rahim harapan yang belum sepenuhnya mati menunggu satu napas, satu doa, satu tangan yang berani menyentuh tanah tanpa takut kotor, agar dunia sekali lagi bisa belajar menjadi manusia.

Di tengah segala reruntuhan itu, masih ada sehelai kain yang berkibar di udara; bendera yang robek, warnanya pudar seperti kenangan yang terlalu lama digenggam. Ujungnya compang-camping, sebagian terbakar oleh perang, sebagian lagi tercabik oleh angin yang tak mengenal belas kasih. Namun tetap, ia dikibarkan.

Tangan-tangan kecil yang kotor oleh debu menegakkannya kembali di atas tiang yang bengkok. Tak ada musik, tak ada upacara, hanya sunyi yang melingkupi. Tapi di antara sunyi itulah maknanya terasa paling nyaring: bahwa mereka belum sepenuhnya menyerah.

Bendera itu bukan lagi lambang kemenangan, bukan pula kebanggaan. Ia kini menjadi tanda bahwa masih ada jiwa yang bernafas, masih ada hati yang menolak padam. Robeknya adalah luka, tapi juga bukti bahwa ia telah melewati badai. Setiap sobekannya bercerita tentang ibu yang kehilangan anaknya, tentang rumah yang berubah jadi puing, tentang doa yang menembus kabut asap dan sampai entah ke mana.

Saat angin bertiup, bendera itu tak berkibar gagah seperti dulu, tapi bergetar pelan… seperti dada yang masih menahan isak. Warnanya telah memudar, tapi di dalamnya masih tinggal sedikit cahaya, seperti darah yang enggan berhenti mengalir meski tubuh sudah kehabisan tenaga.

Orang-orang menatapnya dengan mata yang basah, tak tahu apakah mereka sedang menangis karena sedih atau karena haru. Mungkin keduanya. Sebab di tengah kehancuran, bendera itu bukan sekadar kain, ia adalah ingatan bahwa sesuatu yang bernama “harapan” masih hidup, meski setipis benang.

Bendera itu berkibar di antara abu, debu, dan sisa-sisa langit yang kehilangan warna. Ia melambai pada angin seolah berbicara, “Aku masih di sini.”

Dan setiap kali ia bergerak, suara samar terdengar dari balik lipatan kainnya, seolah bumi sendiri berbisik: bahwa kebanggaan sejati bukanlah milik yang menang, melainkan milik mereka yang tetap berdiri, meski dunia di sekitarnya telah runtuh.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika langit belajar mencintai bumi lagi, dan manusia berhenti menulis sejarah dengan darah, bendera itu akan dijahit kembali oleh tangan-tangan yang dulu menegakkannya dalam air mata. Lalu ia akan berkibar lagi bukan karena perang, tapi karena cinta yang akhirnya pulang.

Sayangnya hari yang ditunggu tak juga tiba, air mata masih menggenangi sungai-sungai, dusta masih mengalir pada lidah-lidah penguasa, dan darah belum berhenti tumpah bahkan pada hari yang paling indah.

Waktu berjalan cepat, tapi bukan menuju sembuh, ia justru menegakkan kekuasaan menjadi dewa yang paling kuat di antara segala nilai kehidupan, termasuk nilai kemanusiaan itu sendiri.

Janji tentang kemerdekaan kini tinggal dalam pidato. Setiap kalimatnya bergema indah di udara, tapi jatuh ke tanah dan mati sebelum sempat menyentuh akar. Kata-kata itu kini menjadi ritual tahunan yang dihafalkan dengan suara lantang dan dada membusung, sementara rakyat yang mendengarnya hanya menunduk, bukan karena hormat, tapi karena lapar.

Di istana yang megah, suara keadilan digantikan oleh tepuk tangan. Mereka bersulang di atas penderitaan, menulis kisah tentang kemakmuran di atas kertas emas, lalu menandatanganinya dengan tinta yang terbuat dari keringat orang kecil. Negeri ini kini pandai berpura-pura: tersenyum di depan kamera, menangis di balik layar.

Jalan-jalan penuh baliho yang menjanjikan harapan, padahal di bawahnya, anak-anak masih menjual waktu di lampu merah. Sekolah-sekolah berdiri megah, tapi ilmu disandera oleh biaya. Rumah sakit tampak indah, tapi nyawa ditimbang seperti barang dagangan. Dan para pemimpin yang dulu berjanji menjadi pelayan rakyat kini duduk di singgasana yang lebih tinggi dari langit, menatap ke bawah hanya untuk memastikan rakyatnya tetap tunduk.

Negeri ini kini pandai mengenakan topeng: topeng kemajuan, topeng moral, topeng agama, topeng nasionalisme yang disulam dengan benang kebohongan. Di baliknya, wajah aslinya adalah luka dalam, menganga, dan berbau getir. Keadilan menjadi dongeng yang hanya dibacakan di ruang sidang; hukum adalah permainan catur di mana bidak-bidak kecil selalu dikorbankan agar raja tetap aman.

Dan ketika rakyat bersuara, suaranya dianggap angin; ketika mereka diam, kesunyian mereka dianggap tanda setuju. Maka negeri ini berjalan pincang, tapi masih menyebut dirinya tegak. Ia kehilangan arah, tapi terus berteriak bahwa ia di jalan yang benar.

Perlahan namun pasti manusia mulai menjual nurani di pasar kekuasaan, menukarnya dengan kursi empuk dan tepuk tangan palsu. Jabatan menjadi candu yang membuat mata mereka buta terhadap nestapa, telinga mereka tuli terhadap jerit yang tak berirama. Mereka yang dulu berbicara tentang kebenaran kini membungkamnya dengan amplop bersegel merah, seolah kejujuran hanyalah barang antik yang pantas disimpan di museum sejarah.

Di ruang rapat berpendingin udara, keputusan tentang nasib bangsa dirumuskan dengan angka, bukan dengan hati. Mereka menghitung penderitaan dalam statistik, bukan dalam tangisan. Selembar dokumen bisa mengubah hidup ribuan orang, tapi yang mereka pikirkan hanyalah berapa persen yang bisa diselamatkan untuk diri sendiri.

Maka negeri ini tumbuh seperti pohon tanpa akar; rindang di permukaan, tapi rapuh di dalam. Akar kejujuran telah digergaji oleh ambisi, dan batang moral ditebang untuk membangun menara kekuasaan. Mereka memuja jabatan seperti berhala yang harus disembah setiap pagi, dan demi menambah satu bintang di pundak, mereka rela menumpahkan seribu air mata di jalan.

Rakyat menjadi sekadar angka dalam pidato, nama dalam daftar bantuan yang tak pernah sampai. Sementara mereka yang duduk di kursi tinggi menyebut diri “wakil rakyat”, padahal yang mereka wakili hanyalah nafsu untuk berkuasa lebih lama.

            Lalu kebenaran dikubur dalam seremoni, diucapkan dalam dokumen-dokumen formal tapi tak pernah benar-benar hidup di dada rakyat. Ia hanya dipakai untuk menutup pidato, bukan untuk membuka mata. Segalanya menjadi rapi, sistematis, berstempel resmi dan dari sanalah kebohongan memperoleh legitimasi tertingginya.

Mereka menyebutnya stabilitas, padahal itu hanya nama lain dari ketakutan. Mereka menulisnya dalam pasal-pasal dan aturan, lalu menggunakannya untuk menghentikan suara yang mencoba memanggil nurani. Suara kebenaran rakyat dilabeli upaya makar, suara keadilan disebut pengkhianatan, dan setiap napas yang berbeda dianggap ancaman terhadap “ketertiban”. Maka sunyi pun tumbuh di tanah air sendiri bukan karena tak ada kata, tapi karena kata telah dipenjara.

Di ruang-ruang rapat, mereka menandatangani kesepakatan yang berbau tinta dan tipu daya. Di luar gedung, rakyat berdiri di bawah hujan, menatap langit yang tak lagi menjanjikan perubahan. Di tangan mereka hanya ada keyakinan yang kian menipis, seperti lembar uang yang tak lagi cukup untuk membeli harapan.

Negeri ini, perlahan, menjadi teater yang megah tapi tanpa naskah moral. Pemerintahannya menampilkan wajah senyum di layar kaca, sementara di balik tirai, keserakahan menulis skenario baru tentang siapa yang harus diam, siapa yang boleh hidup, dan siapa yang akan dikorbankan atas nama kemajuan.

Keadilan kehilangan rumahnya. Ia kini berkeliaran seperti pengemis di jalan kekuasaan, mengetuk setiap pintu lembaga tinggi yang sibuk mencatat perkara tanpa pernah menyentuh hati. Setiap kali ia datang membawa bukti, ia diusir dengan alasan prosedur. Setiap kali ia berteriak tentang luka, ia dibungkam dengan kata “stabilitas nasional”.

Dan malam pun datang, membawa cahaya yang tak lagi hangat, hanya menyinari betapa kosongnya negeri yang dulu dibangun atas mimpi dan darah. Kini tinggal barisan nama di prasasti, dihafal setiap upacara, tapi dilupakan dalam keputusan. Kebenaran sudah dikubur dalam seremoni, dan di atas kubur itu, berdirilah mereka yang mengaku pahlawan sambil menghitung berapa banyak tepuk tangan yang akan mereka dapatkan besok pagi.

Hingga pada akhirnya demi tetap hidup, rakyat mulai belajar diam, berhenti menyuarakan kebenaran bahkan ketika yang dipertaruhkan adalah hak hidup mereka sendiri. Mereka belajar membaca arah angin, memilih menunduk sebelum badai datang. Karena di negeri ini, keberanian sudah lama kehilangan tempatnya dan kejujuran, bila diucapkan terlalu keras, bisa menjadi sebab kematian.

Kekuasaan menjelma pedang yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menebas lidah-lidah kebenaran dan memenggal keberanian rakyat yang dulu bernyanyi di jalan-jalan. Kini suara mereka hanya bergema di dada sendiri, terperangkap di antara napas dan ketakutan. Di pasar, di ladang, di kantor, semua orang tahu ada yang busuk di puncak menara, tapi mereka pura-pura mencium wangi bunga agar tak dituduh melawan.

Anak-anak tumbuh tanpa tahu makna kata “adil”, karena yang mereka lihat hanyalah layar berita yang selalu menampilkan wajah sama dengan kalimat yang serupa: “Demi kepentingan bersama.” Padahal kepentingan itu tak pernah mencapai mereka, hanya berhenti di meja rapat dan rekening pribadi. Mereka melihat ayahnya kehilangan pekerjaan tanpa alasan, ibunya menahan air mata ketika harga naik dan janji turun seperti hujan asam.

Rakyat pun berubah menjadi bayang-bayang. Mereka hidup, tapi tak benar-benar ada. Mereka bekerja, tapi hasilnya disedot oleh mesin-mesin besar yang diberi nama program pembangunan. Mereka menyumbang suara, tapi suaranya disamarkan oleh data, dimanipulasi menjadi angka yang indah di laporan tahunan.

Negeri ini kini tampak tenang, tapi itu ketenangan yang mencekik. Seperti danau yang tenang karena tak ada lagi ikan yang berani berenang di dalamnya. Seperti malam yang sunyi karena semua bintang telah jatuh dan padam.

Dan di tengah keheningan yang panjang itu, kebenaran masih berbaring di kuburnya. Tak ada yang berani menziarahinya lagi, karena setiap langkah mendekat bisa dianggap makar.

Namun kadang, pada malam tertentu, jika kau berjalan cukup jauh ke arah suara hati, kau akan mendengar sesuatu; lirih, nyaris tak terdengar, sebuah bisikan dari tanah yang lembab: bahwa diam tak selamanya berarti tunduk, kadang hanya cara rakyat menunggu waktu untuk hidup kembali sebagai manusia yang utuh.


Hujan Bintang Di Republik Gelap

  Kota itu kini seperti cermin retak yang menolak menampilkan wajah aslinya. Di balik gemerlap lampu dan papan iklan yang menjeritkan kebaha...