Kota itu kini seperti
cermin retak yang menolak menampilkan wajah aslinya. Di balik gemerlap lampu
dan papan iklan yang menjeritkan kebahagiaan, tersembunyi kehampaan yang membusuk
perlahan. Manusia berjalan cepat, seperti sedang mengejar sesuatu yang bahkan
tak tahu bentuknya. Mereka menatap layar lebih sering daripada menatap langit.
Mereka berbicara pada mesin, tapi kehilangan bahasa untuk bicara pada sesama.
Di antara gedung tinggi
yang menembus awan, doa-doa tak lagi naik. Mereka tertahan di kaca, jatuh lagi
ke bumi, berbaur dengan polusi dan janji yang tak ditepati. Di tempat ibadah,
manusia bersujud bukan lagi karena cinta, melainkan karena takut. Takut
kehilangan rezeki, takut kehilangan posisi, takut tidak terlihat suci di mata
sesama penyembah. Tuhan berubah menjadi simbol, disimpan rapi dalam
kalimat-kalimat status, tapi jarang benar-benar dipanggil dengan hati.
Lalu di sudut kota
yang gelap, ada seseorang yang duduk memandangi langit, mencoba mencari Tuhan
di antara gedung yang menelan bintang. Ia bertanya dalam diam, “Di mana Engkau
bersembunyi, saat kami mulai kehilangan arah?” Tapi yang menjawab hanyalah gema
dari kepalsuan yang sudah terlalu tebal. Di dunia ini, bahkan kebenaran harus
memiliki sponsor agar bisa terdengar.
Manusia kini
berbondong-bondong mencari surga di tempat yang penuh lampu, suara, dan nama
besar. Mereka lupa bahwa Tuhan tak butuh megafon, tak butuh sorotan. Ia
bersemayam di tempat sunyi, di hati yang masih berani menyesal. Tapi siapa hari
ini yang mau berhenti sejenak untuk menyesal? Semua sibuk membenarkan dirinya,
bahkan di hadapan kebenaran itu sendiri.
Kota itu tenggelam
oleh cahaya yang mereka ciptakan sendiri. Cahaya yang membutakan, bukan menerangi.
Cahaya yang menghapus garis antara benar dan salah, seolah keduanya hanya soal
keberpihakan. Dan di tengah gemerlap yang menipu itu, hati manusia menjadi
padang tandus; kering, sepi, dan terlalu takut untuk mencintai tanpa pamrih.
Kadang aku berpikir,
mungkin Tuhan tak pergi. Mungkin Ia hanya menunggu manusia berhenti mencari-Nya
di gedung-gedung tinggi dan mulai mencarinya di dalam diri. Tapi kota ini
terlalu bising. Bahkan keheningan pun dibungkam oleh musik, iklan, dan ambisi yang
tak pernah tidur. Dan di sanalah, perlahan tapi pasti, nurani terkubur
hidup-hidup; tanpa upacara, tanpa doa, hanya diiringi suara tawa palsu dari
manusia yang berpikir mereka sedang bahagia.
Lalu di tengah keadaan
itu tumbuhlah anak-anak yang lahir dari dosa yang diwariskan, bukan dari
kesalahan mereka sendiri, melainkan dari kepalsuan yang telah lebih dulu menua
di dada orang dewasa. Mereka belajar berbohong bahkan sebelum tahu arti
kebenaran. Mereka tumbuh di bawah langit yang penuh dusta, di mana kejujuran,
kebenaran, dan keadilan hanya menjadi naskah dalam panggung sandiwara
kehidupan, dibacakan dengan suara merdu tapi tanpa makna.
Mereka belajar
tersenyum dari bibir orang dewasa yang menyembunyikan luka di balik gigi putih
dan tawa yang dipoles di depan cermin. Mereka belajar berkata manis bukan
karena ingin menenangkan hati, tapi karena takut kehilangan simpati. Mereka
meniru cara berbohong seperti meniru cara berjalan; tanpa sadar, namun perlahan
menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhnya.
Di ruang makan, mereka
mendengar kebohongan kecil yang dibungkus sopan santun. Di ruang sekolah,
mereka diajari bahwa angka lebih penting dari niat. Di ruang tamu, mereka
melihat cinta pura-pura dipentaskan untuk tamu, lalu dibungkam begitu pintu
tertutup. Di layar-layar, mereka menyaksikan kebaikan dijadikan tontonan, bukan
tindakan. Dunia memperlihatkan pada mereka bahwa kejujuran hanyalah pilihan
bodoh bagi mereka yang belum pandai menipu kenyataan.
Dan ketika mereka
bertanya tentang kebenaran, orang dewasa hanya tertawa pelan, menepuk kepala
mereka, dan berkata, “Nanti kau akan mengerti.” Tapi yang akhirnya mereka
mengerti bukanlah kebenaran, melainkan cara bertahan di tengah kebohongan yang
dijaga bersama.
Anak-anak itu kemudian
paham, bahwa berbohong adalah bahasa untuk hidup lebih mudah. Bahwa
menyenangkan orang lebih berharga daripada menjadi benar. Bahwa yang tampak
bahagia lebih disukai daripada yang sungguh-sungguh damai. Mereka belajar dari
tangan yang gemetar menulis kebenaran tapi takut menyuarakannya karena bisa
kehilangan pekerjaan, kehilangan teman, kehilangan panggung.
Dan begitulah
kebohongan diwariskan, seperti doa yang tersesat di jalan pulang, seperti benih
yang tumbuh di tanah retak tanpa pernah berbuah. Tak ada yang tahu kapan
kejujuran berhenti tumbuh, tapi semua tahu bagaimana rasanya hidup tanpanya.
Kadang di malam yang
panjang, anak-anak itu bermimpi menjadi manusia yang benar. Namun saat fajar
datang, dunia telah menunggu dengan hukum yang lain: yang jujur akan kalah,
yang licik akan naik, yang peduli akan hancur. Maka mereka belajar menelan air
mata, menggantinya dengan tawa, dan menyebutnya kedewasaan.
Dan di situ di antara
sisa kepolosan yang mulai membeku suara hati yang dulu lembut kini hanya
berbisik lirih di antara debu lampu kota, “Beginikah
caranya dunia menghapus cahaya dari mata anak-anaknya sendiri?”
Maka saat itulah
langit mulai menolak membuka pagi. Dunia menyambut cahaya terang dari langit
seolah itu pagi, padahal bukan. Itu kegelapan yang berselimut cahaya, cahaya
yang dingin dan palsu, yang tak pernah benar-benar menyentuh langit. Cahaya itu
hanya kebiasaan; pola yang diulang oleh bumi tanpa makna, tanpa jiwa.
Ia bukan lagi cahaya
kebenaran, bukan cahaya keadilan, bukan pula kebijaksanaan yang dulu mampu
mengetuk langit hingga langit rela membuka pintunya untuk memberi kehidupan.
Pagi kini hanyalah
rutinitas yang berulang tanpa kesadaran.
Langit
menatap bumi dari kejauhan, melihat manusia berlarian dalam gelap yang mereka
sebut terang.
Mereka menyembah
sinar buatan, menyalakan ribuan lampu untuk menipu mata sendiri, agar tak
melihat gelap yang mereka ciptakan di dalam diri. Matahari masih terbit, tapi
tak lagi diundang oleh doa, hanya oleh jadwal. Tak ada hati yang menunggu fajar
dengan harapan, tak ada jiwa yang berterima kasih pada cahaya. Dunia sibuk
menyalakan dirinya sendiri, lupa bahwa terang sejati datang dari dalam.
Angin pagi pun
kehilangan arah, tak tahu lagi harus membawa kesejukan ke mana. Ia hanya
berputar di antara gedung, menabrak kaca dan logam, lalu jatuh lelah di bawah
kaki manusia yang berjalan tanpa menoleh ke langit. Burung-burung pun enggan
bernyanyi. Mereka tahu, nyanyian mereka tak lagi didengar oleh hati yang penuh
notifikasi dan kebisingan.
Langit, yang dulu
menjadi tempat pertemuan antara doa dan harapan, kini hanya menjadi layar besar
bagi polusi cahaya. Di atas sana, bintang-bintang memudar pelan, tertutup
karena lelah melihat manusia berpura-pura bahagia.
Dan bumi, dengan
segala gegap gempita dan kesibukannya, tak menyadari bahwa ia sedang hidup
tanpa pagi. Bahwa setiap terbit matahari hanyalah pengulangan tanpa makna,
sekadar tanda bahwa waktu masih berjalan, bukan tanda bahwa hidup sedang
dimulai.
Maka langit menutup
dirinya rapat, bukan karena marah, tapi karena kecewa. Ia menunggu ada satu
jiwa yang masih mau menatapnya bukan untuk meminta, tapi untuk mengingat.
Menunggu ada satu manusia yang masih mau menyapa pagi dengan doa yang jujur,
dengan hati yang masih bisa bersyukur tanpa alasan.
Dan hingga hari itu
tiba, langit memilih diam. Ia menahan sinarnya seperti seorang ibu yang menahan
tangis di depan anak-anaknya yang lupa pulang. Ia tahu, cahaya yang dipaksakan
tak akan pernah membawa terang.
Di bawah sinar yang
tak lagi bersinar bersama doa-doa, di sebuah taman yang dulu penuh burung dan
nyanyian, cinta mati perlahan. Ia dibunuh oleh debat panjang tentang siapa yang
lebih benar, siapa yang lebih pantas disebut korban. Orang-orang kini mencintai
untuk menang, bukan untuk mengerti. Di setiap kata aku peduli, terselip ambisi yang dibungkus moralitas.
Kepedulian bukan lagi
kepedulian. Ia menjelma drama panjang di layar-layar, dengan musik lembut dan
cahaya hangat, agar manusia tampak mulia. Tapi di baliknya, hanya ada naskah
yang dihafal dengan sempurna; tentang bagaimana terlihat baik tanpa benar-benar
menjadi baik. Tidak ada lagi tangan yang menolong tanpa kamera. Tidak ada lagi
hati yang menenangkan tanpa panggung. Kebaikan kini berpose, tersenyum, lalu
berjalan pergi setelah semua sorot cahaya padam.
Dan di sela tepuk
tangan yang bergema dari layar ke layar, ada jutaan kebusukan yang tak bisa
difilter. Ia mengendap di balik senyum selebritas rohani, di balik kata-kata
motivasi yang dipoles, di balik mata yang pura-pura lembut tapi hanya menilai
siapa yang pantas diberi kasih dan siapa yang tidak. Dunia memuja kebaikan yang
bisa dijual, dan membuang keheningan yang tulus tanpa tanda tangan dan merek.
Cinta yang dulu
sederhana kini tercekik oleh logika pasar. Ia tak lagi bicara dengan hati, tapi
dengan algoritma. Ia dihitung dengan jumlah suka dan komentar, dinilai dari
seberapa sering dibagikan. Orang-orang belajar berempati dengan cepat, dan
melupakannya lebih cepat lagi. Cinta kehilangan ruangnya untuk tumbuh,
kehilangan kesabarannya untuk menunggu.
Dan di taman itu,
tempat burung dulu bernyanyi, hanya tersisa angin yang mengaduh pelan, membawa
sisa-sisa kata yang tak sempat diucapkan dengan tulus. Di bangku kayu yang
lapuk, ada jejak seseorang yang pernah duduk di sana, menulis puisi untuk
manusia, lalu berhenti karena menyadari manusia kini hanya membaca puisi yang
bisa dijadikan iklan.
Cinta tak mati karena
kebencian. Ia mati karena kehilangan tempat untuk dipercaya. Ia mati di antara
debat politik, di antara meja perundingan yang penuh ego, di antara lidah-lidah
yang membela kebenaran tapi tak pernah mencintainya.
Dan malam pun turun,
menutup taman itu dengan langit kelabu. Rembulan menatap dari jauh, berduka
dalam diam, mencari satu manusia yang masih berani mencintai tanpa pamrih. Tapi
manusia kini sibuk memperdebatkan definisi cinta, sibuk menulis narasi siapa
yang lebih layak disebut penyayang.
Padahal, cinta tak
butuh pembelaan. Ia hanya butuh tempat untuk hidup kembali, di hati yang berani
diam tanpa panggung, memberi tanpa tanda, mencintai tanpa perlu terlihat.
Dan malam pun turun
perlahan, tapi bintang-bintang menolak bersinar. Mereka malu menyaksikan
manusia yang menatap langit hanya untuk berdoa agar bisnisnya sukses atau
lawannya hancur. Di bawahnya, bulan pun turun, pelan-pelan, menapaki jalan
kosong, mencari sisa manusia yang masih jujur, yang masih menatap langit bukan
untuk meminta, tapi untuk mengingat.
Namun setelah malam
panjang berjalan, manusia seperti itu tak juga ditemukan. Bahkan dari balik
pondok-pondok kecil dengan kayu keropos dan atap lapuk, transaksi masih terjadi;
dari yang menua bersama waktu hingga yang baru lahir bersama air mata.
Segalanya diperjualbelikan: cinta, doa, bahkan rasa malu.
Kemiskinan tak lagi
melahirkan kasih dan keadilan, sebagaimana kekayaan tak pernah melahirkan
kebenaran dan welas asih.
Manusia kini memikul
dosa mereka sendiri dengan kepala menengadah dan dada membusung, seolah itu
kebanggaan. Mereka berjalan di bawah cahaya lampu yang memantulkan bayangan
diri, bukan cahaya nurani. Mulut mereka mengucap nama Tuhan, tapi hati mereka
menyembah keberuntungan. Mereka mencium tanah suci bukan untuk bersyukur,
melainkan agar dunia melihat bahwa mereka pernah bersujud di sana.
Bulan berhenti di
tepi sungai, memandangi air yang hitam oleh pantulan kota. Ia mencari wajah
manusia yang masih bening, tapi hanya menemukan topeng-topeng yang terapung,
saling menatap tanpa mata. Angin malam berhembus pelan, membawa doa-doa yang
kehilangan makna, berbaur dengan debu dan kebisingan yang tak pernah tidur.
Di langit,
bintang-bintang menggigil. Mereka ingin bersinar, tapi takut disalahartikan
sebagai tanda keberuntungan bagi yang menindas, atau pertanda kemenangan bagi
yang tamak. Dunia terlalu bising untuk mendengar kebenaran. Terlalu silau untuk
melihat kesederhanaan.
Dan bulan, dengan cahaya yang mulai
pudar, hanya berbisik pada dirinya sendiri,
“Apakah manusia benar-benar lupa bahwa
kejujuran adalah satu-satunya cahaya yang tak bisa dipadamkan bahkan oleh malam
paling gelap?”
Ia lalu menatap
sekali lagi ke bawah, ke bumi yang kini tak lagi menatap ke atas. Hening
menggantung di antara langit dan tanah, seperti doa yang tak menemukan arah.
Hanya sunyi yang masih setia menunggu, menunggu satu manusia yang berani jujur
tanpa ingin dilihat, yang berani mencintai tanpa ingin diingat, yang berani
hidup tanpa harus menang.
Saat itulah bintang
pertama jatuh. Lalu yang kedua. Lalu ratusan lainnya, hujan bintang membanjiri
langit kelam republik itu.
Setiap bintang membawa
cahaya kecil, bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk mengingatkan.
Bahwa harapan tidak
pernah benar-benar padam, hanya bersembunyi dari manusia yang tak lagi
mencarinya dengan hati.
Dan malam itu, untuk
pertama kalinya sejak lama, langit kembali menangis. Tapi tangisnya bukan
ratapan, melainkan doa. Doa agar manusia, di antara reruntuhan sistem dan
kekuasaan yang mereka bangun sendiri, masih bisa menemukan secuil cahaya yang
benar-benar datang dari dalam dirinya sendiri.
Sayangnya tak ada yang
mengangkat kepala ke langit untuk melihat bintang berjatuhan atau menundukkan
kepala saat serpihannya berguguran. Wajah mereka hanya memandang layar dan
tertawa dalam kesombongan.
Pikiran mereka sibuk
menghitung angka dan peluang, membangun takhta di atas grafik keuntungan. Hati
mereka terlupakan, dibiarkan berdebu di sudut dada yang kian sunyi.
Begitulah kehidupan
dijalankan oleh para manusia yang telah lupa bagaimana caranya jatuh cinta
tanpa sorot kamera, lupa bagaimana memeluk tanpa alasan, lupa bagaimana
menolong tanpa disorot atau dipuji. Mereka lupa bagaimana menjalankan kebenaran
tanpa menyalahkan, bagaimana menerapkan keadilan tanpa menimbang nama dan
warna, bagaimana menyebut kata kemanusiaan tanpa pamrih tersembunyi di
baliknya.
Dan malam itu, ketika
hujan bintang mulai mereda, langit tampak seperti tubuh luka yang perlahan
menutup dirinya kembali. Bumi masih bising, namun tidak satu pun suara
benar-benar hidup.
Lampu-lampu kota
menyala, tapi tak satu pun memantulkan jiwa. Bulan berhenti di atas reruntuhan
menara doa, memandangi kota yang tenggelam oleh cahaya palsu; cahaya yang tidak
menghangatkan, hanya membutakan.
Di jalanan, anak-anak
tertidur dengan ponsel di tangan, meniru kebiasaan orang dewasa yang lebih pandai
berbohong daripada bermimpi.
Di layar-layar besar,
cinta diperdagangkan dalam bentuk tayangan, dalam kata manis dan musik sedih
yang dijual dengan sponsor di sudutnya.
Lalu, dari kejauhan,
bintang terakhir jatuh. Cahayanya redup tapi bersih, menembus langit kelabu dan
menyentuh tanah yang penuh retakan. Ia tidak menyelamatkan, tidak pula menegur.
Ia hanya diam di sana, seperti rahasia kecil dari semesta yang menolak padam.
Dan entah kenapa, di
tengah kebisingan, angin tiba-tiba berbisik pelan, hampir seperti doa yang lupa
jalan pulang: “Masih ada waktu. Jika
manusia mau menatap ke dalam dirinya sendiri.”
%20Bagian%205.jpg)
%20Bagian%204.jpg)
%20Bagian%203.jpg)
%20Bagian%202.jpg)